PREKLINIK JIWA ON THE STORY (NURSING DIARY OF AINI)

Hoaammhh….

Alhamdulilllah akhirnya bisa tidur sore sampe pulas juga hari ini.

Seminggu ini merupakan preklinik yang melelahkan guys. Karena lokasi yang cukup jauh (nun jauah di Gaduik) plus tugas yang seantah berantah banyak nya, menyebabkan saya musti mengurangi jadwal tidur bermalam malam yang lalu. Jadi balas dendam nih ceritanya…huhehehe.

Oke… saatnya bercerita untuk Nursing Diary kali ini. Perjalanan preklinik terakhir saya untuk mencapai Bachelor Degree of Nursing Science. Dan yang beruntung untuk menjabat status the last preklinik aaaadalaahhhh…..teng teng teng,,, preklinikkkk JIIIIWAAAA… *bakar mercun*

Selamat selamat untuk preklinik Jiwa… !!! You are so lucky to be the last one…huehehe *ntah ha ha

Di antara semua preklinik yang sudah Saya dan teman teman jalani, mulai dari KMB, KGD, Gerontik, Anak, dan Maternitas, preklinik Jiwa merupakan preklinik yang paling asik, seru, gak garing, gokil, heboh, nyebelin, asoy, jayus, asem, asin, manis, pahit rame rasanya…#kok jadi rasa-rasaan gini?. Tapi yah seperti itulah. Kehebohan di preklinik Jiwa karena kami berinteraksi langsung dengan pasien gangguan jiwa (*please jangan sebut mereka orang gila!) selama seminggu ini.

Bermula kisah dari sambung menyambung preklinik post mater langsung ke Jiwa dengan jeda mengerikan selama 2 minggu karena diisi dengan seminar proposal, langsung hajar perbaikan dan ngebantai pengumpulan data alhamdulilah dua minggu kelar juga karena minggu berikutnya jadwal padat berantai musti pulang pergi RSJ di Gaduik.

Ok, sedikit berbagi cerita. Sesungguhnya kami (baca: saya dan teman se-genk yang suka ngegembel bareng di kampus) adalah kaum kaum lemah mental yang suka tiba tiba parno ketika melihat para Bapak Bapak berpenampilan eksotik di tengah jalan (*itu tuh yang bajunya gak beraturan, rambut rada kribo, suka bawa bawa karung geje di sepanjang jalan, suka ketawa-ketiwi sendiri, trus mungut mungut sesuatu yang gak jelas). Waktu kuliah di Pondok, kaum minoritas ini subhanallah sekali, hampir setiap hari mondar mandir depan kampus. Sehingga kami-kami yang suka jalan bergerombolan akan berjalan dengan langkah cepat, dengan sedikit tremor melewati mereka sambil berusaha untuk gak ngelirik. Hohoho, sampai sampai kami hampir tertabrak mobil (untung gak jadi) demi menghindari makhluk yang satu itu.

Namun lain kisah untuk menghadapi preklinik jiwa kali ini. Enam hari seakan-akan berada di planet aneh dengan orang orang ajaib bin abnormal, yang menuntut kami untuk mempertahankan kenormalan di tengah keajaiban mereka. Huahahaha… it’s really new eksperience yang semakin menyadarkanku betapa penting dan dahsyatnya akal yang sudah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita semua.

Jangan bayangkan pasien pasien di sini seperti rekan sejawatnya yang sering kita temukan di jalanan! Di sini pasiennya sudah lebih bagus kondisinya daripada yang di luar sana.

Hm… banyak kisah seru lucu bin gokil di sini. Yeah, seperti mendapatkan teman baru di planet kecil yang terasing di satu sudut kecil kota ini (*hondeh rancak kato kato nyo lai). Sebelum masuk ke bab yang paling seru, ada baiknya jika saya share kepada teman-teman gambaran singkat beberapa diagnosa pasien pasien yang berada di RSJ ini.

1.Perilaku Kekerasan (PK)

Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang menunjukkan perilaku yang actual melakukan kekerasan yang ditunjukan pada diri sendiri/oarng lain secara verbal maupun non verbal dan pada lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1995).

Biasanya pelaku Perilaku kekerasa ini suka marah tiba tiba,mengeluarkan kata kata kasar, ngamuk, dan termasuk kategori pasien yangberbahaya jika sedang kambuh karena bisa menyakiti orang lain.

2.Waham

Waham merupakan keyakinan seseorang berdasarkan penelitian realistis yang salah, keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya (Keliat, BA, 1998). Waham adalah kepercayaan yang salah terhadap objek dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya (Rawlins, 1993).

Jenis-Jenis Waham
a. Waham Kebesaran
Penderita merasa dirinya orang besar, berpangkat tinggi, orang yang pandai sekali, orang kaya.
b. Waham Berdosa
Timbul perasaan bersalah yang luar biasa dan merasakan suatu dosa yang besar. Penderita percaya sudah selayaknya ia di hukum berat.
c. Waham Dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa di kejar-kejar oleh orang lain atau kelompok orang yang bermaksud berbuat jahat padanya.
d. Waham Curiga
Individu merasa selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya. Individu curiga terhadap sekitarnya. Biasanya individu yang mempunyai waham ini mencari-cari hubungan antara dirinya dengan orang lain di sekitarnya, yang bermaksud menyindirnya atau menuduh hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya. Dalam bentuk yang lebih ringan, kita kenal “Ideas of reference” yaitu ide atau perasaan bahwa peristiwa tertentu dan perbuatan-perbuatan tertentu dari orang lain (senyuman, gerak-gerik tangan, nyanyian dan sebagainya) mempunyai hubungan dengan dirinya.
e. Waham Cemburu
Selalu cemburu pada orang lain.
f. Waham Somatik atau Hipokondria
Keyakinan tentang berbagai penyakit yang berada dalam tubuhnya seperti ususnya yang membusuk, otak yang mencair.
g. Waham Keagamaan
Waham yang keyakinan dan pembicaraan selalu tentang agama.
h. Waham Nihilistik
Keyakinan bahwa dunia ini sudah hancur atau dirinya sendiri sudah meninggal.
i. Waham Pengaruh
Yaitu pikiran, emosi dan perbuatannya diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau kekuatan.

3.Halusinasi


Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.

Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :

  1. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
  2. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
  3. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
  4. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
  5. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

4.Isolasi Sosial

Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
Seseorang dengan perilaku menarik diri ini akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).

5.Harga Diri Rendah (HDR)

Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri atau cita – cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia. (Budi Ana Keliat, 1998).

Intinya pasien dengan harga diri rendah ini merasa dirinya tidak dibutuhkan, lemah, tak berdaya, keberadaannya tak bermanfaat, gak ada gunanya hidup, mendingan mati aja, selalu nunduk, gak pede-an… dst (maibo mode on)

Untuk keterangan lebih lanjut tentang apa penyebab, proses terjadinya masalah, penangan secara medis, asuhan keperawatannya, silahkan hubungi atuak gugel dengan keyword: askep …. (*maunya diagnosa apa)

Untuk preklinik ini, kami mendapatkan masing masing satu pasien (klien) untuk dikelola. Sedangkan tugas yang harus dibuat diantaranya:

· Strategi Pelaksanaan (SP) yang merupakan perencanaan interaksi yang akan kita lakukan kepada pasien, mulai dari “selamat pagi” sampai “sampai jumpa”. SP ini musti dibuat setiap hari dan merupakan syarat mutlak untuk bisa preklinik hari itu (yang gak bikin boleh pulang).

Contohnya:

STRATEGI PELAKSANAAN KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

A. Proses keperawatan

1. Kondisi klien

a. Data subyektif :

1) Klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan

2) Klien mengatakan merasa orang lain mengancam

3) Klien mengatakan orang lain jahat

b. Data objektif :

1) Klien tampak tegang saat bercerita

2) Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya

3) Mata melotot, pandangan tajam

4) Mengancam secara verbal dan fisik

5) Nada suara tinggi

6) Tangan mengepal

7) Berteriak/menjerit

8) Memukul

2. Diagnosa keperawatan

Risiko tinggi perilaku kekerasan

3. Tujuan keperawatan

a. Tujuan umum :

Klien dapat mengontrol atau mencegah perilaku kekerasan baik secara fisik, sosial atau verbal, spiritual, dan terapi psikoformatika.

b. Tujuan khusus :

1) Klien dapat membina hubungan saling percaya

2) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan

3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan

4) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat dilakukan

5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

6) Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan

7) Klien dapat mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan

8) Klien dapat memasukkan latihan ke dalam jadwal kegiatan harian.

4. Tindakan keperawatan

a. Bina hubungan saling percaya

b. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan marahnya

c. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya

d. Diskusikan denngan klien perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini

e. Diskusikan dengan klien akibat negative (kerugian) cara yang dilakukan pada :

1) Diri sendiri

2) Orang lain/keluarga

3) Lingkungan

f. Diskusikan bersama klien cara mengontrol perilaku kekerasan

g. Tentang mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik

h. Anjurkan klien untuk memasukkan kegiatan didalam jadwal kegiatan harian

Fase orientasi

a. Salam : “ Assalamu’alaikum, Selamat pagi? ”

b. Evaluasi : “ Bagaimana perasaan Mba saat ini? Apa yang sedang Mba

rasakan saat ini? ”

“ Perkenalkan Mba Nama saya perawat S. Mba namanya siapa?biasanya dipanggil apa? ”

c. Kontrak

1) Topik : “ Baiklah Mba D, saat ini kita akan membahas tentang penyebab

Mba marah dan mengontrol rasa marah secara fisik. ”

2) Waktu : “ Mba D ingin berapa lama kita akan berbincang-bincang? ”

3) Tempat : “ Dimana tempat Mba D inginkan untuk kita berbincang-bincanng? ”

2. Fase kerja

a. Identifikasi penyebab perilaku kekerasan :

“ Apa yang menyebabkan Mba D marah? ”

b. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan

“ Saat Mba D sedang marah apa yang akan Mba rasakan? Apakah dada Mba berdebar-debar lebih kencang? Atau Mata melotot? ”.

c. Identifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan

“ Saat Mba D marah apa yang Mba lakukan? ”

d. Identifikasi akibat risiko tinggi perilaku kekerasan

“ Apakah dengnan cara itu marah/kesal Mba dapat terselesaikan? ” Ya tentu tidak, apa kerugian yang Mba D alami? Betul Mba jadi masuk ke ruang Isolasi.”

e. Menyebutkan cara mengontrol risiko tinggi perialu kekerasan

“Pertama mari kita coba melakukan latihan tarik napas dalam. Sekarang Mba D bisa berdiri atau duduk rilex’s, lalu tarik napas dalam dari hidung tahan sebentar, lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Ini dilakukan sebanyak 5 kali ya Mba? ”

f. Membantu klien mempraktekkan cara latihan cara mengontrol fisik

“ Sekarang coba Mba lakukan bagaimana latihan napas dalam? Pertam tarik napas melalui hidung, ya seperti itu Mba bagus, kemudian hembuskan melalui mulut. Ini dilakukan selam 5 kali ya Mba. Ayo sekarang lakukan kembali, tarik napas dalam-dalam melalui hidung, Mba D rasakan betapa sejuknya udara bersih yang masuk ke paru-paru kita, kemudian hembuskan pelan-pelan melalui mulut, ya seperti itu Mba, Bagus..”

g. Membantu klien memasukkan kegiatan sehari-hari

“ Nah..Mba D tadi telah melakukan latiahan teknik relaksasi napas dalam, bagaimana kalau latihan ini kita buat jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Baik kita masukkan ya ke jadwal kegiatan sehari-hari Mba? Kapan waktu yang Mba D inginkan untuk melakukan latihan ini? Bagaimana kalau setiap jam 09.00 pagi?

3. Fase terminasi

a. Evaluasi

“ Bagaiman perasaan Mba setelah melakukan latihan teknik relaksasi napas dalam tadi? Ya..betul, dan kelihatannya Mba terlihat sudah lebih rileks. Kalau begitu coba Mba praktikkan lagi latihan teknik napas dalam yang saya ajarkan tadi. ”.

b. RTL (Rencana Tindak Lanjut)

“ Ya..Bagus Mba. Mba telah bisa melakukannya dengan baik. Besok kita akan bertemu kembali untuk mengajarkan Mba D teknik relakasasi lain yang dpat membantu mengontrol rasa marah Mba. Tapi sebelumnya Mba D harus bias mengatasi rasa marah Mba dengan teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi.”

c. Kontrak waktu yang akan datang

“ Baik Mba D kita sudah selesai berbincang-bincangnya, besok saya akan menemui Mba kembali untuk melihat perkembangan kondisi Mba D dan mengajarkan teknik relaksasi yang lain. Mba D mau jam berapa kita ketemunya? Baik jam ya Mba , sesuai kesepakatan kita. Tempatnya di sisni ya Mba? ”

d. Antisipasi masalah

“ Mba, jika Mba D ingin merasa marah lagi pada saat saya tidak ada, Mba dapat melakukan sendiri teknik relaksasi napas dalam yang telah saya ajarkan tadi, atau jika dengan teknik ini rasa marah Mba D tidak berkurang Mba bias memanggil perawat yang ada di sini. Baik Mba, kalau begitu saya permisi dulu, sampai jumpa. Assalamu’alaikum..”

Dan pada kenyataanya, interaksi dengan klien gangguan jiwa tak semudah dan selancar yang sudah kita tulis dan rencanakan sodara sodara. Karena kebanyakan pasien dengan gangguan jiwa ini mengidap 2-3 diagnosa sekaligus. Misalnya PK (Perilaku kekerasan) Plus Isolasi Sosial. Jadi pas ditanya nunduuukkk aja. Ada juga yang kombinasi waham dan halusinasi, kita tanya apa, dia ceritanya apa. Yah seperti itulah.

· kemudian Rencana Harian Perawat yaitu rancangan aktivitas kita selama dinas sehari itu, juga dibuat setiap hari.

· Kemudian ada Laporan pendahuluan yang berisi kajian teoritis sesuai dengan kasus yang kita dapatkan plus asuhan keperawatan nya,

· Laporan kasus yang berisi pengkajian kepada klien kita (*yang format nya sapanjang antah dengan isi yang harus detai sampai ke akar-akarnya) plus diagnosa keperawatan yang diangkat berdasarkan core problem beserta asuhan keperawatannya.

· Selanjutnya ada API (Analisa proses Interaksi) yaitu menuliskan urutan percakapan kita mulai dari A sampai Z terhadap pasien termasuk ekspresi non verbal klien (termasuk ekspresi geje klien seperti nunduk, menatap dengan pandangan kosong pun dituliskan), kemudian analisa kita terhadapa baris demi baris kalimat yang kita ucapkan terhdap klien dan analisa kalimat yang diucapkan oleh klien beserta rasionalnya (hondeh pantiang koh?? Pantiang bana ko haaa).

DAN TAHUKAH SODARA SODARA SEMUANYA??? SEMUA LAPORAN INI DITULIS TANGAN DENGAN PENA DI ATAS DOBLE FOLIO.

Hohoho, kami sangat menikmati nya sodar sodar (*harus itu!!! Sebagai mahasiswa yang baik dan benar kudu rajin bikin laporan).

Demikian laporan singkat untuk preklinik Jiwa kali ini. Next note tentang ke-gokil-an interaksi yang terjadi antara kami (manusia biasa yang rada geje) dengan klien gangguan jiwa di RSJ (manusia luar biasa).

See ya ^_~

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in geje, KamPus..., narsis nurses, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s