Kegokilan di RSJ *cerita calon Ners Geje*

Teringat pengalaman ketika preklinik Jiwa yang menimbulkan gelak tawa karena kekocakkan pasien-pasien yang dirawat di RSJ. Hahaha… Jangan bayangkan pasien pasien jiwa itu seperti komunitas kecil mereka yang bertaburan di jalan dengan pakaian nyentrik ala “mbah Surip kesambar gledek” yang membawa benda benda geje sepanjang jalan raya.

Nope… mereka sama sekali tidak seperti itu. Mungkin beberapa pasien memang berasal dari gelandangan yang diselamatkan Pol PP tetapi Perawat telah menyulap mereka menjadi lebih memanusia. Namun kebanyakan pasien adalah orang orang yang masih memiliki keluarga dan biasanya keluargalah yang mengantarkan mereka ke sana untuk mendapatkan pengobatan intensif.

Seperti cerita yang pernah Ni posting DI SINI, (*tulung dicekidot dulu yak) perjalanan preklinik di Jiwa ini sungguh menyisakan suatu kenangan tersendiri. Karena otomatis kami berinteraksi dengan pasien yang sama selama 6 hari berturut-turut dengan tingkah polah mereka yang beragam.

Hahaha…kalau diingat ingat Ni suka ketawa sendiri mengenang kisah bersama mereka. Okeh agan dan aganwati semua, monggo disimak… ^^Y

*Baca bismillah dolo oiiiii* bismillahirrahmanirrahim…

Hari Pertama

Hari ini adalah hari pertama aku dan 6 rekanku yang lain melaksanakan preklinik jiwa di bangsal Gelatik RSJ. Kami pun dibagi menjadi dua tim. Kebetulan aku dapat Tim B dan masing-masing kami mendapat satu pasien untuk dikelola dan diangkatkan kasusnya untuk pengkajian. namun juga tetap melaksanakan tugas lain secara bersama-sama.

Pasienku, Tn. R yang didiagnosa mengalami PK (perilaku Kekerasan) ternyata tidak sebegitu parahnya, bahkan bisa dikatakan beliau normal dan sehat, namun sewaktu waktu dia tidak bisa mengontrol emosinya. Yah, pengkajian yang berlangsung bisa dikatakan “biasa-biasa saja”. Jadi setelah waktu pengkajian lewat, kusempatkan diri untuk melirik pasien-pasien lainnya.

Hari Kedua

Seperti biasa, pada pagi hari mereka makan pagi, kemudian kami melakukan pen-cek-an kebersihan mereka seperti : kuku yang panjang, pakaian yang tidak rapi, rambut yang sudah mulai gondrong, kumis janggut yang harus dicukur, menyuruh mereka memakai bedak (Yap, mereka pakai bedak! :D). Kami mengarahkan pasien-pasien tersebut untuk memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri mereka. Karena memang banyak pasien yang tidak “sadar” akan keadaan diri pribadi.

Setelah itu mereka harus melaksanakan senam pagi yang dipimpin oleh beberapa orang diantara mereka. Bayangkan wajah-wajah polos dengan tatapan kosong itu melaksanakan senam, kadang menimbulkan kegelian tersendiri, tapi kadang juga menimbulkan kesedihan dan kemirisan hati.

Nah di sinilah kami sering berkenalan dan berbincang bincang dengan mereka. Seorang pasien dengan gangguan waham (gak jelas juga ia menderita apa) keheranan melihat aku yang *actually* berpenampilan beda sendiri dari rekan rekanku yang lain. Pertama karena aku sendiri yang memakai rok ketika dinas, sedangkan yang lain pakai celana panjang putih, dan jilbabku yang kentara lebih dalam dan menutupi.

Pasien : Ibu (*mereka memanggil kami ibu walau usianya jauh lebih tua dari kami), ibu pasti anak IAIN. lihat deh, cara salamannya aja beda sama yang lain *ngelirik temannya*

Aku : *tersenyum* bukan Pak. Saya anak keperawatan.

Pasien : Ah masa sih, pasti anak IAIN, jilbabnya dalam gitu *ngotot*

Aku : Anak keperawatan Unand pak, kalau anak IAIN gak di sini prakteknya *sabar*

Pasien : wah..ibu ustadzah ibu ustadzah… pakai rok soalnya.

Aku : *nyengir* heeeheee

Pasien : Ibu, ibu kaum muslimin ya?

Aku : *kaget* nah loh, emang Bapak bukan?

Pasien : Iya, saya juga ornag islam, tapi ibu waham agama, saya nggak. Benar kan ibu waham agama,,, fanatik dengan islam kan?

Aku : *gubrakk* whhhatt!!!! (Daripada Bapak yang waham kebesaran!!! –> teriakdalamhati )

Hohoho… asli kaget sekali mendengar komentar dari salah seorang pasien tersebut. Kok jadi mereka yang mengkaji saya? Ck ckckck

Kegiatan selanjutnya adalah membawa mereka ke ruang rehabilitasi. Nah, di ruang rehab ini mereka bebas untuk bermain badminton, tenis meja, atau cerdas cermat bersama petugas yang ada di sana. Yang akan pergi ke ruang rehab adalah pasien pasien yang tingkah lakunya baik baik saja. Dalam artian pasien yang tenang dan tidak mudah kabur. Nah, di sini kami juga ikutan main lo! Walaupun pakai rok, aku tak mau kalah bermain bulu tangkis bersama pasien-pasienku. And you know what? Mereka mainnya bagus bagus! Sama sekali tidak seperti pasien dengan gangguan jiwa. Bahkan aku kalah telak dari mereka.

Yang paling menggelikan juga mereka saling bergandengan tangan dengan salah satu teman selama perjalanan. ^^ *Unyu unyu dah pkoknye*

Yap, di sini pasien dimanja. Mereka masing-masing diberi roti dan teh hangat sebagai cemilan. Sepertinya rehab adalah kegiatan favorite warga di sini dan ECT menjadi momok menakutkan bagi mereka.

Hari Ketiga

Karena hari ini adalah tanggal merah, jadi tidak ada jadwal mengantar pasien ke ruang rehab. Salah seorang pasien china yang setiap hari kudu musti wajib jalan ke rehab merengek rengek kepada kami untuk diantar ke rehab. Sekali tiga menit ia mondar mandir di depan kami sambil memasang tampang pengen nangis dan berkata, “Rehab buk, rehab” “jalan buk, jalan”

Kami sudah menjelaskan kepadanya,”Ahong, hari ini tanggal merah, jadi petugas rehab gak buka”

Namun kemudian si Ahong akan pergi sambil menangis merengek-rengek. Lima menit kemudian dia datang lagi sambil berkata yang sama,”rehab buk rehab”. Kami lagi lagi menjelaskan hal yang sama, dan memberikan permen agar dia tidak menangis, kemudian dia pergi sambil merengek rengek. Lima menit kemudian datang lagi. Begitu seterusnya sampai datang waktu makan siang dan jadwal tidur siang.

Suatu ketika iseng kujahili si Ahong.

“Ahong… hari ini kamu tidak ke rehab ya. Yang ke rehab temanmu yang lain”

Spontan Ahong pasang tampang sedih dan hampir menangis,”rehab buk… rehab”

Hahaha… Mr.Ahong sungguhh lucu sekali, dia selalu tidak bisa tinggal diam. Penghuni lama yang tiap hari menjadi langganan pasien yang musti ke rehab karena dia akan menangis jika tidak diikutsertakan. Pasien yang berjiwa suka menolong dan pecinta kebersihan. Suka berteriak teriak jika ada temannya yang menyimpang dari peraturan.

Hari Keempat

Perlahan lahan aku mulai hapal dengan nama nama pasien yang jumlahnya hampir 40-an orang itu dengan segala tingkah lakunya. Mereka paling senang dengan rokok! Huahh..sampai elus elus janggut sambil geleng-geleng kepala melihat mereka tiap hari mengulurkan tangan dari terali jendela sambil meminta,”Buk, rokok buk, buk rokok buk” atau “Buk, minta piti sibu buk (*minta uang seribu)” untuk apa lagi kalau bukan untuk membeli rokok (di ruangan ada dijual rokok) tapi biasanya kami akan memberikan permen bagi mereka.

Tapi sebelum diberi permen, mereka harus menjawab dulu pertanyaan yang diajukan. And you know what? Mereka fair sekali. Jika ada teman yang dahulu mengangkat tangan untuk menjawab, mereka mempersilahkan temannya untuk menjawab dan mendapatkan hadiah permen jika jawabannya betul. Jawaban pertanyaanya lucu-lucu pastinya. Tapi mereka pintar pintar kok. Apalagi untuk soal soal yang memang sudah sering diulang-ulang…

Pernah suatu ketika temanku memberikan soal matematika kepada mereka:

Temanku : 22+52 (dua kuadrat ditambah lima kuadrat) hasilnya berapa???

Pasien : saya bukk *mengacungkan jari*

Temanku : Ya kamu

Pasien : *dengan sangat pede* Tujuh kuadrat bukk

Kami : *gubrak* ngakak guling guling ..(yang ditambahin Cuma 2+5, kuadratnya nyusul) –> cerdik banget nih pasien :p

Karena mengira jawaban temannya betul salah seorang pasien lain pun ikut-ikutan menjawab dengan cara yang sama untuk pertanyaan dua kuadrat ditambah dua kuadratyang hasilnya sama dengan empat kuadrat.

Ada juga pertanyaan “siapa yang membunuh Ken Arok?” jawabannya ,”Barack Obama..”

Wahahha..lucu lucu lah pokoknya.

Hari Kelima

Hari ini diruang rehabilitasi akan diisi dengan ceramah agama. Si pasien china Ahong seperti biasa juga ikut ke ruang rehab walau agamanya jelas bukan islam, begitu juga dengan salah satu pasien China lainnya (*sebut saja namanya si “Achong”). Tapi mereka khusyuk mendengar. Sampai si Achong juga ikut-ikutan bertanya ke Ustadnya,”Pak ustad istigfar itu apa?” kehkehkeh…ini pertanyaan terkocak rasanya setelah pertanyaan,”Pak ustad kata orang di kampung saya orang gila tidak boleh melihat mayat, trus gimana dengan nasib kami yang ada di Rumah sakit jiwa ini tu gak bisa ikut sholat jenazah donk” –> nih pasien sadar banget kalau lagi jadi penghuni RSJ hehe…

Tapi hebatnya ketika ada cerdas cermat dengan pertanyaan “berapa rukun islam?” si Achong dengan cakepnya menjawab,”6 pakk”, bahkan untuk pengetahuan keislaman lainnya dia juga tahu, sampai sampai kami geleng geleng kepala sambil mikir ,”nih orang islam apa bukan ya?” Sampai akhirnya si Achong menawarkan diri untuk memimpin membaca doa. Lah jelas gak diizinin sama pengurus ruang rehab lha wong do’a nya secara islam… heheh geje banget nih pasien China satu ini.

Ada juga kisah dari pasien yang bersaudara seibu-sebapak (kakak-adik) yang sama-sama dirawat di RSJ. Abangnya di rawat dengan diagnosa waham dan HDR (harga diri rendah) sedangkan adiknya waham dengan halusinasi. Tapi kakaknya “agak lebih waras” dan lebih pintar dari adiknya.

Ketika kami tanyakan kepada abangnya,” Eh, kamu sodaraan ya sama si “A”?

“Iya buk, dia adik saya. Adik saya kena waham sama halusinasi, kalau saya waham juga ya buk ya? Tapi sudah mau sembuh.Adik saya masih kuat wahamnya”

Beneran mau ngakak mendengar jawaban polos ini. Bisa-bisanya ya ada pasien gangguan jiwa yang sadar dengan diagnosa penyakitnya.

Si abang yang mengidap waham dan menganggap dirinya sebagai teroris sehingga merasa orang orang mengucilkannya dan dia adalah orang yang tidak berguna (*merasa harga dirinya rendah banget dah) selalu kami kuatkan bahwa dia bukan teroris dan masih punya potensi yang bisa dimunculkan. Dengan mata berbinar binar si abang ini pun bertanya:

Pasien : “Beneran buk saya bukan teroris”

Kami: “Ya bukanlah… kalau teroris penampilannya gak kayag kamu ini! Teroris kan biasanya pakai janggut lebat, gak ada teroris di padang ini”

Pasien: “Ya lah buk, berarti saya bukan teroris kan ya?”

Kami: “Iya..” * kompak*

P: Terimakasih ya ibu akhwat

Kami : *kaget* wahhhh tau juga ya kamu akhwat

P: iya lah buk, ibuk wajahnya seperti akhwat *berkata ke temanku Desi

Aku : Kalau ibuk gimana?

Pasien : ibu juga wajah akhwat, tampang ustadzah

Kami : *ngakak* huahahaha…. *bener-bener excited*

Desi : kok tahu dengan akhwat? (*kamsudnya kok tau dengan istilah akhwat)

Pasien: Saya kan pernah Liqo dulunya buk

Kami: *Guuuubraaakkkkkk* Si Desi hampir setengah pingsan mendengarnya. Amazing ada pasien yang pernah Liqo dulunya

Desi : Liqo dimana?

Pasien: di Aceh buk.

Desi: wahh ibuk juga dari Aceh lo. Berapa lama? Siapa murobinya?

Dan pasien itu pun dengan lancar menyebutkan dimana Liqo sekaligus nama MR nya yang namanya panjang buaangettt…

Hohoho… Ternyata banyak sekali cerita unik dari pasien pasien di sini.

Sedangkan adiknya yang sebut saja namanya si “A” juga masih parah wahamnya. Ketika kutanya, “Eh A, kamu siapa?”

Dia akan menjawab,”Aku Bung Karno bunda!”

“Salah…bukan! Kamu itu A . Bukan Bung karno. Bung Karno ya bung karno, kamu itu A! Jadi siapa kamu?”
“Hehehe… A bunda”

“Nah baguuss….”

Sesaat kemudian kutanya lagi.”Eh A, kamu siapa sih?”
“Aku Tantowi Yahya”

*gubrakkkk…pengen ngebanting-banting nih pasien*

Pernah suatu ketika si A ketawa-ketiwi melihat kami.

Kami: Eh A, kenapa ketawa ngelihat ibu?

A : A pernah mimpi Bunda (*si A manggil perawat dengan Bunda). Tafsir mimpinya bagus bunda

Aku: Apa tafsir mimpinya?

A: Dalam mimpi A ketemu sama Bunda Aini, Bunda Fatma Sari… eh sekarang memang ketemu hehehe

Aku : Huahahahaha…. bagus ya mimpinya!!! *dalam hati –> bagus dari Hongkong…haha*

****

Suatu pagi ketika mencek satu persatu kesehatan pasien, si A menunjukkan kakinya yang kena kutu air. Ketika ditanya kakinya kenapa, si A dengan semangat bercerita.
“Kemaren A pergi ke rumah Bu Laksmi, kan menyebrang sungai Bunda, trus kaki A yang dulunya luka karena nendang lemari di rumah amak kena kutu air”

“Bu Laksmi siapa?”

“tante A Bunda… uni-nya amak”
*untunglah dia tak menjawab Bu Laksmi itu jelmaan Nyi Roroo Kidul…ck ck ck

****

Suatu hari kakak beradik ini sambil bergengaman tangan mendatangi temanku Desi ketika jam makan siang tiba. Si A sambil setengah merengek memanggil Desi

A : Bunda bunda, A kangen sama amak

Pasien Lain : Iya tuh buk, mereka kangen sama orang tuanya.

Abang si A : Adek saya ini aja yang kangen buk, saya mah tidak…

Desi : *terharu sambil berkaca-kaca*

Aku : Huahahahaha,,,, unyuuuu sekali mereka

Yang paling kuingat keunyuan si A ketika minta foto, ia mengepalkan tangan sambil berteriak ,”Hidup PeOGe-I !!!”

Aku: *kaget* Apa tuh POGI ??

A : Partai orang gila Indonesia!! Haha

Aku : *tepok jidat* huahaha Hidup PeOGeI…!!

A : ada satu lagi Bunda. POGSàpartai orang Gila sedunia!! Hahaha

Aku : *benturin jidat ke tembok*

***

Tapi seunyu-unyu nya pasien di sana ada juga yang nakal dan genit terutama kepada mahasiswa. Selain suka mengganggu mahasiswa dia juga suka mengganggu teman-temannya yang lain terutama ketika acara penampilan bakat.

Akhirnya saking kesalnya, kami berembug pengen ngeroyok dia.

Desi : Eh uni, kita keroyok dia yuk… genit kali jadi orang

Tina : Asailah kamu! Kawan aku ko hebat taekwondo jo karate mah

Desi : mumpung perawatnya lagi gak ada yuk kita keroyok dia…

Kami secara bersama-sama mendekati pasien itu sambil mengepal-ngepalkan tinju, sedangkan pasiennya surut ke belakang sambil teriak ,”Ibuukkk ibukk,,,caliak anak anak ko haa…nyo kangeroyok awak “ *berteriak memanggil perawat*

Kami: Huahahahah…..!!!!

***

Hehe,,, demikianlah beberapa cerita yang bikin kami tak henti-hentinya tertawa ketika itu. Selain kelucuan-kelucuan lain yang terjadi terutama ketika pengkajian berlangsung. Huahh…. jadi sedih juga ketika perpisahan. Jadi kangen dengan kepolosan dan kegokilan mereka…

*Fin

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, geje, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kegokilan di RSJ *cerita calon Ners Geje*

  1. Syandrez says:

    lucuu..hahaha. ngakak abiss..banyak hal yg mesti qt plajari dr mereka kan ya kak? terutama makna bersyukur. 😀

  2. hehehe iya aan,,,kk belajar banyak dengan berinteraksi dg mereka 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s