Syair di Penghujung Hujan


Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik.

Katanya kepada lampu jalan,

“Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;

asalmu dari laut, langit, dan bumi;

kembalilah, jangan menggodaku tidur.

Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

~*Sapardi Djoko Damono*~

[Hujan Bulan Juni, 1973]

***

Rintik hujan yang menetes perlahan, membersihkan kabut debu yang memedihkan mata
Tetes-tetes kesegaran menyejukkan hati yang merana…
Sapuan air menyapa setiap jiwa…
Membasahi qolbu-qolbu yang kering dengan sapaan petir menggelegar mengingatkan pada Tuhannya!

Tak sadar, hujan yang turun menyampaikan berita dari Langit
Menyebar harum pesan sang Maha Kasih yang tak pernah putus cinta kasihNya
Namun kadang penuh berita buruk tentang pembalasanNya
Hujan sejenak mencoba mengingatkan kita untuk Kembali padaNya..
Merenungi goresan indah yang sering kita lupa..

Hujan… penuh pesona yang menyejukan siapapun jua…
(menunggu Hujan di Bulan Juli, Padang, 6/7/11, Nur’aini)

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Puisi... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s