Pendidikan Itu MuahaaL Sodara-Sodara!!! (*Pura-puranya Lagi Mencoba Menulis Sesuatu yang Serius v(n.n)v )


Sumber gambar di SINI
Beberapa waktu yang lalu, aku mengantar adik mendaftar ulang setelah dinyatakan lulus di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand Jalur Mandiri. Well, disamping merasakan sejumput kebehagiaan karena sudah diterima di jurusan yang diminati, keluarga kami cukup dibuat pusing dengan besarnya biaya Jalur Mandiri FK yang jika dibandingkan dengan Fakultas dan jurusan lain terbilang tinggi dan mencekik. Huah, belum lagi dengan uang SPP ku yang konon kabarnya wisuda gak wisuda tetap bayar SPP karena pasca wisuda kami harus menempuh pendidikan klinik Profesi Keperawatan. Walaupun kedua orang tua sudah mengingatkan,”Tak usah cemas, masalah biaya pendidikan, biar Ama dan Apa yang memikirkan”. Tapi tetap saja hal ini menjadi momok yang menghantui pemikiranku, walau selama ini banyak difasilitasi beasiswa, tetapi tetap ada-ada saja jenis pengeluaran yang terjadi. Dan hanya seuntas janji dan tekad untuk segera lulus dan mencari penghidupan sendiri yang bisa kusemai untuk meringankan beban keluarga.

Sembari menunggui adik mendaftar ulang di ruangan yang “tak boleh didampingi”, panitia Yasimaru FK menarikku untuk ikut bergabung membantu memberikan informasi and stuff like that kepada calon maba dan dipaksa nongkrong di meja registrasi akhir (pandai sekali memanfaatkan tenaga senior!). Walaupun tidak memakai almamater, sepertinya maba sudah tahu orang orang yang duduk di belakang meja berhak ditanyai ini itu. Sampai akhirnya ada seorang maba yang datang bertanya padaku,”Kak, kalau untuk mengurus penundaan pembayaran uang masuk awal gimana kak?”. Jeglek!! Wah gimana ya?? Bukan nya tidak tahu tentang caranya, tapi aku sendiri masih ragu. Karena beberapa waktu sebelumnya aku pernah menanyakan hal yang sama kepada panitia yang dari Unand, dan sang Bapak mengatakan “Wah, kalau urusan uang-uangan, tanya langsung ke Bank aja. Tapi selama masih bisa diusahakan, ya diusahakan dulu sampai hari terakhir batas pendaftaran. Ya”dan sang Bapak pun berlalu. Padahal masih banyak yang ingin kutanyakan. Sedangkan menurut informan (maba Mandiri tahun lalu yang juga lulus di FK) mereka bisa membayar paruh harga alias dicicil (halah, istilah apa ini! emang barang dagangan :p) tetapi dengan syarat disetujui oleh Pembantu Rektor dan membuat surat permohonan yang ditandatangani di atas materai.

Namun, karena ragu dengan informasi tersebut, akhirnya aku kembali menanyakan kepada mahasiswa ber-almamater yang sepertinya panitia “asli” untuk penyambutan maba ini. Dan jeglerrrr…. ntuh mahasiswa menjawab persis sama dengan si Bapak plus tambahan kalimat “Sepertinya tidak bisa lagi mengurus-urus yang seperti itu) (*pengen nimpukin bata! )

Karena tidak tega menyampaikan kabar buruk itu, akhirnya informasi yang kusampaikan berdasarkan pengalaman maba tahun lalu saja dan meminta adik itu segera menuju bank menemui petugas disana. Beberapa waktu kemudian, adik tersebut datang tergopoh dan mengatakan, “Bisa kak, tapi disuruh minta persetujuan Pembantu rektor dulu. Dimana kantornya kak”. Alhamdulilah… Wah harus segera tuh, karena hari ini kan hari terakhir pendaftaran. Setelah menunjukkan kemana adik itu harus pergi, aku tak lagi tahu bagaimana perkembangannya.

Yah… Kalau dipikir-pikir, wajar saja jika biaya pendidikan saat ini mahal (terlepas dari beberapa isyu konspirasi Pendidikan yang sering dkabarkan). Dan akhirnya banyak yang mundur di tengah jalan untuk tidak menempuh jurusan yang diminatinya (*walaupun sebenarnya ia mampu) hanya karena kantong orang tua yang tidak mencukupi. Yah, bagi yang ber”uang” tentu hal ini bukanlah masalah, namun bagi masyarakat yang hidupnya pas-pas-an? Dan akhirnya pendidikan anak masih ditempatkan sebagai prioritas kesekian setelah prioritas-prioritas urgen lainnya bagi keluarga ekonomi menengah kebawah. Walaupun jika ditilik secara teori, pendidikan merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki status perekonomian seseorang. Namun kenyataannya, Pendidikan yang didapatkanpun bergantung pada seberapa tinggi tingkat penghasilan. Huah… seperti LINGKARAN SETAN.

Sumber Gambar di SINI

Yap, permasalahan yang mendera masyarakat saat ini ibarat lingkaran setan yang tak tahu harus memutus rantai yang mana terlebih dahulu. Hmm,,, aku jadi ingat dengan kuliah “GIZI”di tahun kedua kuliah. Kira-kira begini redaksi dari terjemahan siklus lingkaran urgenitas gizi seimbang dari suatu komunitas masyarakat:

Gizi yang seimbang dibutuhkan untuk peningkatan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. Masyarakat yang cerdas, akan gampang menyerap pendidikan, pendidikan yang diserap dengan baik berguna untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan. Masyarakat yang sehat akan bersumber daya tinggi untuk berkarya dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang mapan akan meningkatan status perekonomian. Perekonomian yang mantabh kembali digunakan untuk pangan dalam artian memenuhi status gizi.

Huaahh…. Jadi yang lebih penting itu: Pendidikan dahulu? Perekonomian dulu? Atau memnuhi status gizi terlebih dahulu? Jika dipikir-pikir all of the stuff is important. Dan sudah sewajarnya, negara memberikan tanggungan untuk masyarakat yang tidak bisa memenuhi point-point yang ada di atas.

Dan terkait pendidikan, Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini sebenarnya telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dan itu merupakan salah satu tujuan nasional didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka itu artinya negara atau pemerintah harus menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negaranya. Tentunya dengan biaya yang ditanggung oleh negara. Atau jika memang harus membayar maka sebaiknya jangan sampai membebani masyarakat sebagai wali murid. Selain itu segala bentuk pungutan liar dan praktik komersialisasi dalam pendidikan harus segera ditertibkan/dihapuskan. (wardoyo, 2011)

Yah… demikianlah sodara-sodara. Pendidikan Universitas yang mahal, selayaknya harus kita iringi dengan keluarnya “produk kampus yang berkualitas”. Yeah, jika kita tidak ingin biaya yang selama ini dikeluarkan oleh orang tua berguguran begitu saja, ada baiknya kita mengusahakan yang terbaik untuk membalas semuanya. *You know what I mean lahh… ^_^

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in KamPus..., OpIni.... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s