(*Ramadhan oh Ramadhan) Ramadhan On the Story…

Ramadhan On the Story…
Empat tahun sudah Nur’aini merantau *icak-icaknya begitu* ke Padang Kota Tercinta, dan empat kali Ramadhan sudah yang ia lalui di Kota ini. Ok, sedikit berbagi cerita… tentang 4 periode
Ramadhan dan Sholat Taraweh yang sudah Nuraini dan rekan-rekannya sesama perantau lalui selama perkuliahan. Begini cerita (*KarolinZahriPasangStyle)
Tahun 1 Kuliah: (2007)
Tahun 2007 (*jaman-jamannya Aini masih suka pakai sendal jepit dan jilbab sorong ke kampus Unand *dan sampai sekarang masih suka*), ketika itu Nur’aini masih tinggal atau bahasa kerennya “indekos” di kos-kos-an menantu adik Atuak dari pihak Mama Temannya (*kira-kira begitu) yang ditinggal pergi penghuninya (hanya Nur’aini dan teman2nya yang menghuni) di daerah Verdam alias Veteran Dalam di seberang Pom Bensin WOWO (*wahh suka sekali saya dengan nama pom bensin ini hahaha).
Awal Ramadhan di Verdam sedikit dilalui dengan cerita seru yakninya Gempa besar di Kota Padang pada tahun 2007. Untunglah ketika gempa itu terjadi, Nur’aini sudah mendarat dengan selamat di kampung halamannya tercinta, namun naas bagi teman teman di rumah Verdam karena ketika itu mereka menunda kepulangkampungan mereka, jadilah mereka berstatus sebagai pengungsi di rumah sendiri ketika awal-awal Ramadhan itu.
Setelah kondisi kota Padang ‘agak’ aman, Nur’aini pun menghabiskan beberapa waktu Radhannya di Verdam. Bersama dengan teman-temannya mereka ikut dengan jamaah Mesjid Al-Wustho untuk melaksanakan sholat taraweh dengan pola 4-4-3 dan mengikuti ceramah agama. Ketika ini, melaksanakan aktivitas “mendirikan malam Ramadhan” mereka lalui dengan penuh ke-was-was-an, ketraumaan, dan cenat-cenut karena gempa susulan dan gempa plasu masih sering terjadi. Jadi adegan berlarian masal sering terjadi jika jamaah mesjid merasakan getaran-getaran janggal di samping kondisi Mesjid yang mulai rentan dan rusak pada beberapa sisi (*terakhir bagian Mesjid yang rusak bertambah parah ketika gempa 2009 melanda)
Karena kondisi perkuliahan belumlah begitu lancar pasca gempa (*kebetulan kampus Aini terletak di zona merah yang jaraknya tak kurang dari 1 Km dari garis pantai) maka pihak kampus lebih banyak meliburkan mahasiswanya. Selebihnya, Ramadhan dihabiskan ‘Aini di Mushola Darussalam di dekat rumahnya di rumah
Tahun 2 dan 3 Kuliah (2008-2009)
Yap… Tidak begitu lama Nur’aini tinggal di Verdam, karena kondisi geografis Verdam Vs Pondok (tempat kuliah) cukup rumit untuk dicari sistem per-angkot-an yang sesuai, akhirnya Aini memutuskan untuk angkat kaki dan ngepak barang dari verdam secara baik-baik, *disamping alasan karena kos-kosannya di Verdam terletak di lantai dua dengan kondisi tangga untuk berlarian ke bawah *jikalau gempa terjadi* amat sangat menyulitkan dan ribet. Inilah asal muasal Aini memulai kehidupannya sebagai warga Terandam Bersatu No. 19 A. Bersama dengan teman seRepublik Terandam Bersatu, Aini menghabiskan Ramadhan di tahun kedua dan ketiga kuliahnya di Mesjid Al-Munawaroh Tarandam. Masih dengan pola 4-4-3 dan kondisi Mesjid yang “walau agak panas” tapi sangat sejuk *nah lo* dan nyaman. Di awal-awal Ramadhan, jamaah berlomba-lomba untuk datang lebih cepat untuk mencari tempat, karena memang Mesjid akan sangat padat merayap.
Di Ramadhan ini, Aini mulai menikmati kehidupannya sebagai seorang mahasiswi yang berusaha mengubah diri menjadi lebih baik. Banyak perubahan perubahan positif yang ia usahakan termasuk dalam peningkatan amalan yaumi….
Tahun 4 Kuliah (2010)
Gempa besar kembali melanda Kota Padang pada tahun 2009. Lebih besar dibandingkan gempa pertama pada tahun 2007. Cerita tentang perjalanan gempa Aini bisa di cekidot di SINI dan di SINI.

Akhirnya, gempa menjadi faktor predisposisi yang AMPUH untuk Aini pindah ke Wisma Al-Husna di Sawahan Dalam. Yap, tidak terlalu jauh memang dari Tarandam Bersatu. Baca cerpen INI
Namun sayang beribu sayang, walau sudah hampir 1 tahun Aini tinggal di wisma, ternyata Aini tidak bisa merasakan Ramadhan bersama dengan ukhti-ukhtinya di wisma tercinta karena Aini harus dilempar ke negeri nun jauh di sana untuk mengikuti PROGRAM KKN (bisa dibaca beritanya di SINI, di SINI, dan di SINI).
Akhirnya Aini pun menjalani Ramadhannya di Posko KKn tepatnya di Jorong Lasuang Batu, Nagari Kapau Alam Pauah Duo, Kecamatan ….. *lupa saya apa nama kecamatannya* di Kabupaten Solok Selatan. Di tempat KKN ini, Aini menjalani Ramadhan yang cukup berat. Selain harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam *yang dingin <— bukan ini alasan yang sebenarnya* Aini juga harus menyesuaikan diri dengan tradisi Ramadhan Jamaah di sini yang actually amat sangat berbeda dengan yang biasa Aini jalani. Pertama, warga di sini menggelar tradisi berzikir bersama (*dengan suara dikeraskan) setelah sholat Isya disambung dengan Shalawat Kepada Nabi Muhammad yang disenandungkan dengan irama tertentu), dan sholat tarawehnya yang menggunakan pola 18-3 (21 rakaat) dengan Tarawehnya 2-2 rakaat.
Walhasil, Aini melaksanakan sholat seperti orang sedang melakukan streching atau melakukan gerakan pemanasan sebelum olahraga, karena Imamnya Subahanallah… Sungguh cepat, kilat, dan ringkas… 21 rakaat dilaksanakan kurang lebih selama 30 menit dengan ayat-ayat pendek sebangsa “three-Cool” yang sering diulang-ulang dalam setiap rakaatnya. Well, ketidaknyamanan dalam mendirikan sholat taraweh mulai dirasakan Aini di Surau kecil tempat warga berjamaah. Selain suara ribut anak-anak, tempat yang cukup sempit, alasan yang paling utama adalah karena Aini merasa ia tidak bisa menikmati rakaat demi rakaat tarawehnya karena kecepatan sang Imam. Hah… Akhirnya Aini merasakan juga faedah bacaan sholat yang tenang dan panjang. Intinya Aini mulai mengerti urgenitas “kualitas” kedekatan dengan Allah ketika melaksanakan sholat dibandingkan kuantitasnya.
Pada akhirnya Aini lebih banyak melaksanakan taraweh di rumah Amak dan Abaknya di Posko KKN setelah menjelaskan kepada orang rumah tentang duduk perkara ketidaknyamanan yang ia rasakan dan orang orang rumah pun mengangguk-angguk setuju. Konsentrasi mendirikan malam-malam Ramadhan pun terganggu dengan aktifitas kelompok KKN dan agenda KKN seperti “Lomba MTQ” yang ceritanya bisa dibaca di SINI, dan agenda suluh menyuluh anak KKn dari Mesjid ke Mesjid. Ya begitulah… Aini merasakan ketidakmaksimalan dalam mengisi Ramadhannya di tahun 2010.
Tahun ke 4,1 Kuliah (*_*)
Tahun ke 4,1 Kuliah (^^)V Aini bersama adiknya (*yang akhirnya diterima di PSIKM) mulai bertekad untuk mendirikan malam-malam penuh keberkahan di bulan Ramadhan dengan menetapkan target-target khusus untuk amalan yaumi untuk membalas dendam atas ketidakmaksimalannya di tahun yang lalu…

Ya Allah…. semoga Engkau memberikan kami kekuatan untuk mendesign Ramadhan kali ini dengan amalan-amalan yang makin mendekatkan kami kepadaMu. Serta menjadikan detik dan tiap menit di Bulan pengampunan ini sebagai wadah untuk mengumpulkan pahala dan mencapai pengampunan dariMu… Amin ya Allah…

Demikianlah sodara-sodara, RAMADHAN ON THE STORY kali ini… Salah dan janggal saya mohon maaf, Peace, Love, and Salam Cenat-cenut…. wasalamualaikum Wr.Wb

 

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, Cuap-Cuap Aini, ramadhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s