“Kalau kepingin statusnya sama dengan dokter, kenapa tidak masuk kedokteran?”

Sebenarnya sudah cukup lama isyu mengenai,”Statement miring” para anggota dewan dalam menanggapi RUU Keperawatan ini merebak, dan sudah cukup lama Ni mendapatkan note ini. What a great note. Mudah-mudahan note yang ditulis oleh dr. Rizki Edmi Edison (Alumni FK Unand 2003 yang saat ini sedang menempuh Pendidikan PhD di Jichi Medical university, Jepang) ini cukup memberikan gambaran kepada rekan-rekan semua tentang “the point” yang menjadi sumber kericuhan ini. Let’s check this out….

***
Tanpa saya sadari wall facebook saya ramai dengan tulisan tentang rancangan undang-undang keperawatan Indonesia yang entah kenapa tidak juga rampung sampai saat ini walau telah memakan waktu bertahun-tahun.
Dimulai dari video perdebatan antara mahasiwa dan anggota DPR RI (tidak disebutkan mahasiwa dari universitas dan fakultas apa, dan anggota DPR RI dari komisi berapa) yang direkam dan disebarluaskan melalui facebook, hingga beragam komentar dan opini bermunculan baik di notes maupun di status facebook, utamanya oleh kawan-kawan saya yang berprofesi sebagai perawat di negeri Sakura ini.
Sebenarnya sudah mencapai tingkat apatis bagi diri saya untuk melihat dan mengamati bagaimana para anggota dewan yang terhormat memberikan argumentasi terhadap suatu masalah. Namun karena diskusi tentang rancangan undang-undang ini semakin menghangat layaknya musim panas di Jepang saat ini yang suhunya semakin tinggi, membuat jari saya tidak tahan pula menahan godaan untuk meng-click video berdurasi lebih kurang 14 menit tersebut di http://www.facebook.com/forkom.perawat , yang kini ternyata telah bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=C-7I34Acwjg .
Begitu mendengar kalimat pertama yang meluncur dari mulut satu di antara tiga orang anngota dewan yang terekam di video itu, kening saya langsung berkerut dibuatnya. Kalimat yang beliau ucapkan adalah sebagai berikut, tanpa saya edit sama sekali: “Kalau kalian itu kepingin ya statusnya sama dengan dokter, kenapa tidak masuk kedokteran?” Sontak saja saya pun kaget dibuatnya. “Lho, ini rancangan undang-undang yang hendak dibahas itu tentang apa ya?”, kata saya dalam hati. Tidak baik rasanya jika kita menilai sesuatu tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi permasalahannya. Tanpa membuang waktu, segeralah saya membuka website resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia, http://www.inna-ppni.or.id guna mengunduh dan membanca rancangan undang-undanng keperawatan tersebut.
Setelah saya membaca baik-baik 30 halaman kertas ukuran A4 yang berisi rancangan tersebut hingga mata ini perih, tidak satupun saya temukan kalimat baik tersurat maupun tersirat yang menunjukkan bahwa para perawat hendak mengambil alih tugas dan fungsi seorang dokter ataupun tentang rencana penyamaan status antara seorang perawat dengan dokter. Karena saya pun tidak yakin dengan pendengaran saya, maka saya dengar lah berulang-ulang rekaman video di facebook tersebut. Setelah saya cermati baik-baik, tampak adanya kesalahpahaman mendasar dalam perdebatan tersebut.
Manusia memang makhluk yang tak pernah bisa lepas dari kesalahan. Namun jika kesalahpahaman ini dibiarkan berlanjut, tak akan bertemu juga titik temu terhadap permasalahan ini. Dan apa yang diperjuangkan oleh rekan-rekan perawat pada akhirnya akan kandas juga karena “tuntutan akan adanya kejelasan batasan tugas dan fungsi perawat yang dilindungi oleh undang-undang” disalah artikan menjadi “keinginan mengambil alih tugas dan fungsi dokter”. Kesalahpahaman ini jelas bukan perkara sepele.
Beberapa kawan mungkin mempertanyakan kenapa saya yang notabene adalah seorang dokter malah mau ikut nimbrung membahas masalah ini. Jika hendak membahas dan memperdebatkan isi undang-undang, jelas saya bukan ahlinya. Namun berkaca dari dari pengalaman saya selama satu tahun berkecimpung di dunia bedah saraf di Jepang ini, banyaklah hal-hal yang bisa saya jadikan pelajaran dan dibawa ke Indonesia nantinya, untuk kemajuan pendidikan dan dunia kesehatan Indonesia. Dan terus terang saja, sejak satu tahun belakangan inilah baru saya pahami benar-benar bahwa dokter dan perawat ataupun tenaga medis lainnya adalah satu-kesatuan yang bekerjasama guna mencapai kesembuhan pasien.
Pada dasarnya tugas seorang dokter tidaklah bisa dikatakan gampang dalam menjalankan fungsinya membantu pasien untuk sembuh dari penyakitnya. Operasi yang memakan waktu tidak sebentar jelas membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Nah, yang namanya penanganan ataupun perawatan terhadap pasien, adalah suatu hal yang bodoh jika beranggapan hanya dilakukan di ruang operasi belaka. Dan di saat-saat itulah tampak nyata bagaimana berperan besarnya profesi perawat tersebut. Walau di ruang operasi sendiri pun, dokter tak akan bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal jika tidak ada para perawat di sana. Khusus di ruang operasi, ruangan tempat saya banyak menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, sangat banyak peran perawat dalam kesuksesan sebuah operasi yang tak pernah diketahui oleh masyarakat banyak. Yang selama ini terlihat dan bisa dinilai oleh masyarakat adalah peran seorang perawat terhadap pasien di bangsal saja.
Ada beberapa tugas perawat di Jepang ini yang membuat saya terheran-heran dan muncul rasa penghormatan saya terhadap profesi ini. Menyuapi pasien , memandikan, bahkan menemani pasien jalan-jalanpun hanyalah sebahagian kecil dari tugas dan tanggung jawab seorang perawat di negeri ini. Dan hebatnya, tak sekalipun saya pernah melihat para perawat ini bermuka masam di depan pasien. Semuanya dilakukan dengan penuh senyuman. Senyuman yang terkadang saya sendiri ikut terpesona dibuatnya. Jika dokter bisa tidur, maka tidak pernah saya lihat walau satu menit pun nurse station di bangsal bedah saraf ini keadaan tidak ada perawat yang bertugas. Bukan sekali dua kali saya mengintip nurse station untuk memastikan hal ini. Yang namanya menyuapi makanan, tidak berarti hanya menyuapi saja. Namun juga pasien diajak untuk berkomunikasi. Tidak sekali dua kali saya lihat pasien-pasien tersebut bisa tertawa lepas. Mungkin juga karena di Jepang ini tidak ada sistem ataupun aturan yang mengizinkan keluarga mendampingi pasien 24 jam sehari, sehingga semua hal bahkan menyangkut masalah buang air besar pun menjadi tanggung jawab perawat. Jangan harap kita bisa melihat keluarga pasien yang melakukan hal ini di sini.
Di bangsal bedah saraf ini sendiri, setiap pukul sembilan pagi dilakukanlah yang namanya moushiokuri yang artinya adalah diskusi antara perawat dengan dokter tentang kondisi pasien yang menjadi tanggungjawab dokter. Perawat melaporkan perkembangan pasien selama 24 jam terakhir. Karena pada kenyataannya, hampir seluruh waktu dalam menjalani pengobatan di rumah sakti, bukan dokter yang paling lama mendampingi pasien, namun perawatlah yang memegang peranan tidak remeh tersebut. Tidak hanya tugas para perawat saja, namun untuk tugas seorang dokter pun, para perawat selalu mendampingi. Hal ini memang memang membuat saya selalu grogi di awal-awalnya. Sekedar memasang infuse pun, perawat selalu mendampingi. Sekedar membersihkan luka pun, ada perawat yang mendampingi dengan sigap. Mendampingi dalam arti kata bukan hanya berdiri di samping dokter, namun perawatlah yang bertugas membersihkan segala peralatan yang telah digunakan dokter saat itu. Jika untuk memasang infuse saya hanya bertindak kurang dari satu menit, maka jika dihitung-hitung, perawat memerlukan waktu lima menit. Mulai dari mempersiapkan peralatan, memanggil dokter, mengatur posisi pasien, membersihkan segala perkakas yang telah digunakan dan lainnya.
Jika hendak membicarakan segala kekurangan sikap perawat di Indonesia, negeri saya berasal, tentu tak akan habis dibahas di sini. Dan jelas membicarakan kekurangan adalah hal yang sebaik-baiknya kita hindari. Selain tidak memberi perubahan apapun jika hanya menceritakan kejelekan suatu hal, upaya ini hanya menambah letih di hati saja. Bagaimanapun para perawat lah yang paling tahu apa yang menjadi kekurangan di diri mereka.
Kembali ke permasalahan RUU keperawatan ini, bukankah adalah hal yang wajar jika tugas mulia membantu pasien mencapai kesembuhannya memiliki hukum yang mengatur dan melindunginya? Namun ada satu hal yang harus benar-benar diingat dan dipahami dengan baik. Jika suatu profesi memiliki undang-undang yang mengaturnya, terutama mengenai tugas dan fungsi suatu profesi, hendaknya harus dipahami pula akan adanya hukum yang selalu mengawasi segala tindakan yang dilakukan. Masih teringat dengan jelas salah satu ucapan mahasiwi yang berdebat dengan anggota DPR tersebut: “Saya tidak mau, ketika saya lulus nanti dan bekerja, pada akhirnya saya dipenjara.” Ketakutan yang sangat bisa dipahami karena ketiadaan undang-undang yang bisa dijadikan pedoman akan tugas dan fungsi mereka. Namun perlu diingat, justru dengan adanya undang-undang yang mengatur, maka segala tindakan yang di luar ruang lingkup tugas dan fungsinya akan mendapat sanksi pula menurut peraturan yang berlaku.
Kesalahpahaman akan isi RUU ini baiklah diluruskan, akibat yang timbul dari berlakunya undang-undang ini pun perlu pula dipahami sebaik-baiknya. Satu hal yang saya sayangkan dari perdebatan yang direkam di video tersebut adalah adanya ketidakpahaman bahwa dokter saja tidak cukup untuk mencapai kesembuhan pasien. Dokter membutuhkan mitra dalam bertugas, utamanya dalam menangani dan mengobati pasien. Dan adalah satu sifat sombong jika beranggapan bahwa hanya dokterlah yang berkuasa atas kesembuhan pasien.
Teruskanlah perjuangan mu rekan-rekan perawat. Dan mari kita ikut memajukan dunia kesehatan Indonesia.


salah satu gambar perawat di bagian bedah saraf JMU, yang kini telah bertugas di unit gawat darurat JMU. foto ini adalah hasil jepretan senior saya dr Mohamad Reza

moushiokuri di nurse station neurosurgery department JMU. yang duduk di tengah memakai masker itu adalah salah seorang perawat di bagian bedah saraf JMU

salah satu gambar operasi di JMU, di mana perawat pun berperan dalam suksesnya sebuah operasi

suasana perdebatan di dpr ri

 

***
Well, ketika membaca note ini pertama kali Ni merasa “surprise”. Ya, setidaknya yang memberikan pernyataan ini justru berasal dari kalangan profesi yang notabene digadang-gadangkan sebagai pihak yang akan merasakan efek langsung jika RUU keperawatan jebol (*Hoax mode:on).

Bagaimanapun, RUU Keperawatan bukanlah semacam alat untuk merebut wewenang dan tugas ataupun wilayah kerja dari profesi dokter. Ini lebih sebagai “penegasan” kembali batas-batas kerja seorang perawat. Terkait profesi Perawat dan dokter, sudah jelas banyak perbedaannya. Dokter dan perawat adalah mitra dengan tujuan yang sama. Kita sama-sama ingin mencapai kesembuhan pasien dan kita mempunyai lahan dan cara tersendiri yang harus digarap dengan keprofesionalitasan profesi masing-masing.

Dokter bekerja dengan diagnosa medis mereka, dan perawat pun juga memiliki diagnosa keperawatannya. Diagnosa medis dari dokter lebih bertujuan untuk penyembuhan pasien dari penyakitnya, sedangkan diagnosa keperawatan mengarah kepada pemenuhan kebutuhan dasar pasien dengan penyakit yang dideritanya. Jika dokter berfokus bagaimana menghambat progresifitas penyakit dengan terapi medisnya, perawat berfokus bagaimana pasien tetap nyaman dan bisa mandiri dengan keterbatasan fisik karena penyakitnya. Jika diagnosa medis dokter adalah TBC, maka diagnosa keperawatannya bisa saja: Bersihan jalan nafas tidak efektif (*contoh kecilnya). Dan tentu saja intervensi/penanganannya berbeda.

Dan profesi keperawatan adalah salah satu dari sekian banyak profesi kesehatan yang keilmuannya senantiasa berkembang (bahkan saat ini juga sudah ada profesor di bidang keperawatan, bidang spesialis keperawatan di Indonesia). Dengan semakin meningkatnya keprofesionalitasan dan cakupan ilmu dalam ruang kerja Keperawatan, selayaknyalah ada semacam Undang-undang yang akan memberikan legitimasi dalam melakukan praktik keperawatan. Yang mengatur secara lengkap batasan-batasan dan nilai hukum dari suatu tindakan keperawatan. (*ah jika ditilik lebih dalam inipun juga untuk kesejahteraan pasien dan melindungi pasien dari tindakan malpraktik dari perawat kan???)

Pendikotomian “status siapa yang lebih penting” seyogyanya tidak ada lagi di ranah kesehatan dan kalangan tenaga medis. Semua memiliki perannya sendiri. Tak hanya dokter dan perawat saja yang dibutuhkan dalam rangka mencapai kesembuhan pasien, kita juga butuh Apoteker, Ahli rekam medik, Bidan, ahli gizi, profesi kesehatan masyarakat, psikolog, dsb. Semuanya memiliki andil untuk mencapai kesembuhan pasien demi terwujudnya Indonesia sehat. Toh dengan adanya UU dan hukum yang mengatur tak hanya akan membuat kerja lebih rapi dan sistematis, juga akan meberikan kejelasan kepada pasien tentang status tindakan dari seorang tenaga medis.



*ketika mulai mencintai “calon” profesinya*
milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Islamic Nurse, Keperawatan. Bookmark the permalink.

10 Responses to “Kalau kepingin statusnya sama dengan dokter, kenapa tidak masuk kedokteran?”

  1. nn says:

    I like your posting……..good job sis

  2. fae says:

    kagak ngerti….
    numpang ngomeng aja deh….
    :ngacir

  3. hhehehe…tak pe lah..nyimak.com juga gak papa gan..tapi doain juga ya

  4. fae says:

    sip dah bu per….
    🙂

  5. hahaha thanks masbro

  6. uswatun hasanah says:

    sukron,,, sya yg InsyaAllah sbentar lg akan bergabung dgn profesi perawat merasa sngat trsanjung dngan tulisan ini,,, sdh saat’y masyarakat dan tenaga2 ksehatan lain lbih memahami lagi peran perawat yg sesungguh’y d dunia ksehatan ini.. trlebih utk para dokter (maaf) hndaklah bsa memahami dan mmprlakukan bhwa perawat adlh mitra anda dlm mmberikn proses pnyembuhan psien,, krn msih ada dokter2 yg msih mngangap perawat adlh pmbantu dokter, bkn sbgai mitra kerja.. wlwpun bnyak juga dokter2 yg sudah memahami dan mnerapkan hal itu.
    majulah dunia ksehatan indonesia!!

  7. anak bangsa says:

    wajar kalo perwat sebagai garda depan pelayanan kesehatan ingin ada UUD yg melindunginya secara dasar mereka jg tau pengobatan atau obat obatan terbatas, fungsinya jika katakanlah ada seseorang dengan kondisi darurat yang membutuhkan pngobatan n dstu tdk ada dokter ,apa salah jika perawat menolong / mengobati jika mereka sudah kompeten atau pngalaman,!!!!!, dilema itu memang jika mengacu ke UU kesehatan posisi perawat kayak buah simalakama nolong memberi obat di penjarakan tdak nolong dipenjarakan jg karena sengaja membiarkan, itu dasar perawat minta UU keperawatan agar dalam memberikan pelayanan kesehatan mereka lbisa ebih vokal untuk target negara 2015 indonesia sehat!!! ingat jika tidak ada perawat apa D..kt..r bisa jalan sendiri melayani pasien 1×24 jam non stop biar impoten tu matanya, jangan remehkan kami karena kamilah sahabat sejati para pasien kami ada 1×24 jam kamilah perawat indonesia, Hidup PPNI

  8. ry.andinata says:

    Betul,jika tidak ada perawat sebagai pendamping dan sebagai tim dalam medis sudah pasti kesembuhan pasien sangatlah kecil untuk terjadi,mungkin pun tidak akan terjadi..
    Jika semua siswa/siswi yang baru tamat SMA semua masuk pendidikan dokter,lalu siapa orang yang merawat pasiennya dengan penuh senyuman dan ramah tamah? Siapa orang yang akan menjaga pasien 1×24 jam klw bukan perawat? Siapa orang yg akan melaporkan bagaimana perkembangan kondisi pasien klw bukan perawat,,maka hormati dan hargai lah profesinya,,dia bukanlah pembantu,untuk menjadi seorang perawat butuh 4 tahun pendidikan untuk mendapat gelar s,kep
    ,dan satu tahun untuk gelar profesi (ns) dan itu tidak sedikit biaya yg di keluarkan dari masa pendidikannya

    • 👍👍👍👍👍👍👍 semua profesi memiliki ranah mereka masing2 dan berkembang seiring kemajuan ilmu. Jadi tidak tidak etis jika ada suatu profesi yang merasa lebih tinggi dari profesi lain. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s