Cerita yang Bermula dari 80 seconds

Senin 8 Agustus di sore itu kala matahari mulai beranjak ke peraduan dan kaum muslimin sudah bersiap-siap untuk berbuka puasa. Saat itu aku dan sahabat karibku Desi iseng ngabuburit sambil jalan-jalan ke taman Imam Bonjol. Disana kan ada pasar “pabukoan”. Desi yang mengajakku kesana (*siapa lagi).

Setelah berputar-putar melihat,mencermati, merasa-rasai (*kamsudnya bukan nyobain rasanya yah). Akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa pabukoan untuk orang rumah *Tsaahh*…

Anehnya si Desi malah melarangku untuk membeli lauk di sana. Alasannya, kalau beli lauk mending di tempat langganan kita depan BNI. Ya amffiiunn…. kalau ujung-ujungnya beli di tempat yang biasa kita beli ngapain jauh jauh ke Imam Bonjol coba. Tapi ternyata larangan Desi ada benarnya juga. Ternyata eh ternyata sambal di sana Muahal-muahal sodara-sodara. Kebetulan sekali diriku “salah” milih tempat. Sehingga lauk yang kubeli berharga 9000 *_* itupun dengan potongan yang kecil. Wadaw lagsung shock mendengar harganya. Sedangkan Desi tersenyum sumringah sambil berbisik,”Anggap aja itu infak un”. Ya sutrahlah… bodohnya tidak menanyakan terlebih dahulu harganya. (kebiasaan mahasiswa activated mode)

Sembari jalan ke parkiran motor, si Desi terus bercerita tetang infak-infak kecil yang sering ia berikan. Misalnya jika uangnya ada berlebih sama kakak kos kisaran 500 perak, maka ia dengan senang hati akan menginfakkannya kepada kakak kos tersebut. Lah si kakak kos malah mencak-mencak,”Emang aku fakir miskin kamu infakkin Des” heheh… aneh aneh aja.

Selanjutnya atas permintaan Desi juga, akhirnya aku bersedia mengantarkannya ke Pondok, Kampung Cina (*mantan kampus kami) untuk membeli es durian di dekat kampus PSIK yang lama. Wah baik sekali diriku ya?? heheh…. anggap aja itu infakku untuk si Desi karena sebelumnya ia sudah berinfak 500 perak sisa kembalian uangnya untukku. Ckckckck…

Wahh… malang sekali nasip kami, sesampainya di simpang empat (*yang dekat Kapolres yang di Imam Bonjol) 5 meter sebelum lampu lalu lintas, tiba tiba lampunya tersulap menjadi warna merah. Dan cuma kami satu satunya pasangan pengendara motor yang terjebak di lampu merah tersebut (*jalanan udah mulai sepi). Wah,,, 85 detik pula tuh lamanya. Untung sudah sore dengan angin sepoi-sepoi serta cuaca yang sudah tidak terik. bayangkan jika 85 detik di lampu merah By Pass di siang bolong….Wadhaww… puanass (*tapi pasti lebih panas-an neraka kan ya?? heheh).

Ya begitulah, kami menunggu lampu berubah menjadi warna hijau kembali dengan hati riang gembira sampai akhirnya ada seorang anak perempuan berumur kira-kira 8 tahun menghampiri kami. Aku dan Desi udah senyam senyum duluan demi melihat anak itu datang sambil membawa gelas plastik bekas air mineral.

Dengan SKSD PALAPA-nya (Sok Kenal Sok Dekat Padahal Gak Tau Apa-Apa) si Desi malah ngajak tuh anak ngobrol. Aku sesekali menimpali sambil memperhatikan dari kaca spionku.

Desi (D) : Halooo adekkk…(*mencoba untuk akrab,tapi salah nge-gaol)

Anak (A) : Diam (*kayagnya pasang senyum tapi aku tak bisa lihat ekspresinya)

D : Buka sama siapa nanti?? (*agak mendadak pertanyaannya, biasanya kalau orang pertama kali jumpa pasti ngajak kenalan dulu…ckckck)

A : Sorang (*sendiri-red “bahasa Minang)

D : Ooo… sendiri (*gak luwes a.k.a tak bisa pakai bahasa Minang). Mamanya mana?

A : Amak di rumah. Wak ngasuah adiak di siko (Mama di rumah, saya menjaga adik di sini)

Saya (Aini): *menterjemahkan supaya desi lebih mengerti*

D : Ooo…. mana adeknya?

A : Itu di situ ha,,, wak ndak dijagoan dek amak wak makan sahur doh. Tu ndak puaso wak doh (Ibu tidak membangunkan saya untuk maka sahur, makanya saya gak puasa)

S (*Saya) : Wahhh… bisuak cubo jago surang diak… ndak paralu dijagoan amak lai yoh (*Solusi yang tidak konkrit, emang bisa anak sekecil itu bangun sendiri? lah yang udah gede aja masih susah kalau bangun untuk sahur…heheh…. tak pe lah..). Eh Desi, kasihlah infak kamu buat adik nih… lampu merahnya tinggal 30 detik lagi tuh.

D : (*memasukkan duit lembaran ke gelas plastik adik itu) Besok puasa lagi ya. Kalau puasa itu rezeki kita banyak… (*tumben nih anak bijak hehe)

S : Iyo diak… kalau ndak makan sahur puaso ndak ba a doh. dak ka mati gai wak dek nyo doh. Malah dapek pahalo yang berlimpah (*lagi lagi memberikan nasehat yang tidak tepat (-.-)”

A : (*menepi) yo bisuak wak puaso lai…

Kami : Siipppttt (*tancap gas menuju Pondok)

Akhirnya anak itu BATAL ngamen karena diinterogasi.

Yah begitulah… perbincangan 80 detik yang cukup berharga (*I hope so). Dari sini, aku semakin sadar betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Tidak hanya sekedar “mengajari”. Jujur, miris sekali melihat anak-anak jalanan (*terutama anak-anak yang sering kusaksikan di perempatan lampu merah Imam Bonjol) berkeliaran penuh ketidakteraturan dalam hidupnya. Mereka mengamen dan mengadahkan tangan dari angkot ke angkot, sedangkan orang tuanya “wallahu’alam”, entah kemana larinya tanggung jawab itu. Bahkan tak sekali dua kali kami (*aku dan teman-teman) mendapati mereka dicaci maki, bertengkar degan ibu-ibu yang kami pikir adalah orang tuanya sambil menyebutkan sumpah serapah tak lupa seidkit permainan tangan di taman tersebut.

Dan yang paling membuatku sakit hati adalah menyaksikan seorang anak berumur di bawah 10 tahun yang sambil menggendong adiknya yang masih balita mengamen di angkot. Atau menyaksikan anak laki-laki di bawah umur yang dengan santainya menghisap sebatang rokok (pengen ngelempar gas elpiji 3 kilo ke orang yang mengajari anak itu merokok)

Seharusnya yang mereka lakukan adalah belajar dan bermain seperti layaknya anak-anak seumur mereka tanpa harus mencari uang untuk dapat tetap bertahan hidup.

Pernah baca juga sih, salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak kecil yang bekerja sebagai pengamen cilik, pedagang asongan, pengemis, dan lain sebagainya di jalanan adalah dengan tidak memberi mereka uang serta memberi tahu orang lain untuk tidak memberi juga walaupun merasa sangat kasihan.

Apabila tidak ada satu orang pun yang memberi mereka uang, maka anak-anak jalanan tersebut tidak akan ada. Alangkah lebih baik jika uang tersebut kita kumpulkan untuk membantu biaya pendidikan mereka daripada kita membantu biaya foya-foya preman yang mempekerjapaksa anak di bawah umur, biaya hidup orangtua yang memaksa anaknya bekerja di jalan sedangkan mereka hanya melihat dari jauh, dan lain sebagainya. Jika mereka terbiasa mendapat uang mudah dari bekerja di jalan, maka mereka setelah besar / dewasa kelak akan tetap menjadi pekerja jalanan.

Ya begitulah… sedikit berbanding terbalik mungkin dengan kondisi anak anak lain yang sudah mendapatkan kemewahan dan fasilitas fisik yang sudah terpenuhi, namun mental mereka masih belum terjaga. Hmm…. ternyata benar, membangun mental jauh lebih sulit daripada membangun fisik. Kalau anak-anak jalanan bisa kita bangun mental dan aqidahnya, insyaAllah mereka akan lebih bisa menjaga diri di jalan yang penuh dengan ancaman pengrusakan moral.

Ah, sepertinya sudah terlalu banyak diri ini bersikap sok tau, dan terlalu banyak bercerita (*ceritanyapun amburadul, random mulai dari mencari pabukoan sampai “sok-sok” an membahas dilema per-anak-an di Indoesia #eaa).

Hoho,,, pesan sponsor,“Banyak-banyak lah berinfak, karena hidup akan mati dan harta kekayaan di dunia tidak akan dibawa mati. Karena malaikat tidak bisa disogok untuk meluluskan kita dalam menjawab pertanyaan kelak di alam barzah. Tak ada yang bisa menolong kecuali amal perbuatan.

Jama’aah… ooo Jama’aaahh… Alhamdulilah…

(^_~)v

Sawahan Dalam 1, 0908011

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, geje, OpIni..., ramadhan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s