Andai Kita Tahu


Andai Kita Tahu

Andai kita tahu kematian layaknya waktu berbuka puasa, maka kita pasti tidak ingin ia datang dipercepat.
Andai kita tahu kematian layaknya garis finish lomba lari, maka pasti kita memperlambat lari kita.
Andai kita tahu kematian layaknya keberangkatan pesawat, maka pasti kita tidak akan pernah membeli tiket.
Ataukah……
Andai kita tahu kematian layaknya ujian akhir semester, maka pasti kita akan mempersiapkannya.
Andai kita tahu cita-cita adalah wujud nyawa sesungguhnya pasti kita akan mati-matian menggapainya.
Andai kita tahu sedekah, sabar, ikhlas adalah bekal kita, pasti kita akan mengumpulkan sebanyak-banyaknya.
Andai kita tahu takwa kepadaNya adalah makna sejati kehidupan, pasti kita sungguh-sungguh melaksanakannya.
Andai kita tahu….
Namun tidak ada satu orang pun yang tahu, Rasulullah SAW, utusanNya sekalipun tidak mengetahui tentang kematian. Apalagi syaitan ia juga tidak tahu, karena bisa-bisa diri ini menangis kalau ia sampai bilang,”Heh, besok kamu mati lho!”. Bisa jadi ia sok tahu.
Di dunia ini kehilangan teman, saudara, kerabat, nenek, kakek, serta hewan peliharaan atau harta benda adalah suatu keniscayaan. Bahkan tangan, mata, kaki, rambut, telinga, dan seluruh anggota tubuh kita ini bukan milik kita. Kita cuma dipinjami, dan kelak kita juga harus mengembalikannya.
Pasti kita pernah melihat jasad saudara, kerabat, teman, atau hewan peliharaan kita sekarat. Suatu saat kita akan merasakan seperti itu.
Ketika jenazah dimandikan, dikafani, disholatkan, suatu saat kita juga akan seperti mereka.
Ketika jenazah diangkat lalu dimasukkan ke dalam kubur, kelak kita juga akan merasakannya.
Kita pasti sangat berduka atas kepergian seseorang yang shalih atau shalihah, seseorang yang kita cintai dan sayangi.
Namun seharusnya bukan kepergiannya yang membuat diri ini berduka, bukan pula mengingat kenangan manis bersama, bukan pula melihat keluarganya yang ditimpa musibah membuat air mata kita mengalir.
Namun diri ini lebih patut untuk ditangisi. Ketika jelas-jelas kematian itu nyata. Kematian itu pasti. Tidak dipercepat ataupun diperlambat. Kita hanya menunggu kapan. Tidak tahu. Akal kita terbatas untuk mengetahuinya. Jangan sampai ketidaktahuan membuat diri kita nyaman. Nyaman bermalas-malasan, bermaksiat, durhaka, dan sebagainya.
Boleh jadi jasad kita masih berdiri di atas tanah tapi hati ini sudah terkubur di dalam tanah dalam kematian.
Ketika hati tidak lagi tersentuh melihat di sekeliling kita yang belum seberuntung kita.
Hati tidak terguncang, tidak mampu mengambil pelajaran dari orang yang mendahului kita.
Hati masih keras ketika dibacakan ayat-ayatNya.
Keimanan tidak bertambah ketika mendengar panggilanNya.
Masih banyak tertawa, bersuka ria, melakukan aktivitas tak berguna lainnya.
Masih suka berfoya-foya, pamer, dan tidak zuhud.
Dimanakah? Kapankah? Bagaimanakah kematian kita?
Hanya Allah yang tahu.
Mulai dari sekarang, mari persiapkanlah amal, sedekah, ibadah sebanyak-banyakanya agar kita tidak menyesal kelak dan selalu berdoa kepada-Nya :
“Demi Dzat yang diri saya berada di tanganMu, berikanlah saya akhir yang baik ya Rabb, akhir yang Khusnul Khatimah”.
Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan saya akan suatu pertanyaan,”Seberapakah kualitas diri ini di hadapanNya?”
Anda khawatir dengan kematian? Sama, saya juga.


milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Copasus, Puisi... Bookmark the permalink.

One Response to Andai Kita Tahu

  1. Ahlah Wa sahlan Akty…Saya Suka Artikel….Berkunjung juga di blog "Pondok Mahasiswa"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s