Salah Siapa?

Teringat dengan seorang sahabat yang memaki-maki kedua orang tuanya melalui status di FB. Ia melontarkan kata-kata yang sama sekali tidak pantas melalui status-statusnya. Dan sedihnya status-status mengerikan itu akan dibaca oleh hampir semua teman-temannya yang mengkonsumsi FB…

Sang teman memberontak dan menyalahkan kedua orang tuanya. Apa pasalnya? Ternyata kedua orang tuanya berlaku cukup keras dan otoriter kepadanya, terutama dalam enentuan pilihan hidup dan pilihan jenjang pendidikan. Sang teman sangatlah ingin untuk menempuh pendidikan di bidang seni, namun kedua orang tuanya menetakan bahwa ia harus masuk ke jurusan Teknik. Dan sudah empat tahun lamanya ia tersiksa menjalani pilihan kedua orang tua. Bergulat dengan kerasnya kehidupan pendidikan di Fakultas Teknik tanpa ada rasa “keihklasan”.


Hmm… miris rasanya. Ada yang terluka rasanya disini. Di hati ini. Walaupun yang dibentak bukanlah aku atau kedua orang tuaku, namun sebagai anak dan “insyaAllah” calon orang tua, kalimat-kalimat itu rasanya menohok diriku sendiri. Aku menempatkan diriku sebagai anak, dan sebagai ornag tua. Sungguh sedih sekali. Kontradiksi dari kedua belah pihak yang sama-sama menginginkan kebahagiaan, namun ditempuh dengan “cara” yang keliru dan berujung kepada “kekecewaan” masing-masing.

Lantas siapa yang mau disalahkan di sini? Apakah anak yang memberontak setelah bertahun-tahun diam menjalani siksaan bathin mengikuti kemauan kedua orang tuanya, atau orang tua yang otoriter menentukan pilihan terbaik bagi anaknya?

Mungkin saat ini kita cukup mengambil pelajaran dari kisah nyata ini. Sebuah pelajaran kehidupan yang menuntut kita untuk kembali mengintrospeksi diri atas tuntutan dan jalan hidup yang akan ditempuh suatu pihak. Memberikan dukungan sepenuhnya kepada anak untuk menjalani pilihannya sendiri tentulah bukan berarti menjerumuskan si anak. Dan belum tentu juga apa yang menurut kita terbaik untuk masa depan seseorang adalah yang terbaik bagi masa depannya. Sebaliknya untuk anak, menjadikan status FB sebagai limbapahan kekecewaan kepada orang tua dan memaki maki mereka bukanlah sikap yang dewasa yang bisa mengantarkan kita kepada pemecahan masalah.

Namun ini lebih ke arah mengumbar “betapa bejat” nya kita sebagai anak dan “betaa kejam”nya kedua orang tua dalam menentukan pilihan hidup anak. Sama-sama tidak bagus. Bahkan Allah memerintahkan kita untuk menyimpan aib saudara, dan ini adalah orang tua kita! Orang yang selama ini menghidupi dan memberikan kita fasilitas untuk bisa sekolah.

Memang benar adanya, menimbulkan rasa ikhlas di hati untuk menjalani pilihan hidup yang tidak kita inginkan adalah sangat berat dan menyakitkan. Namun, ingatlah wahai sahabatku, belum tentu yang menurutmu baik untukmu adalah benar-benar baik untukmu, dan belum tentu sesuatu yang engkau kira buruk untukmu adalah benar-benar buruk.

Namun serahkan semuanya kepada Allah.Allahlah yang maha tau apa yang terbaik untuk kita jalani. Sebagai mahkluk, kita hanya berkewajiban menjalaninya degan sepenuh hati.Yang hanya mengharapkan ridho Allah (dan bukankah ridho Allah juga terletak pada ridho orang tua?). InsyaAllah Allah akan memberikan buah manis di ujung perjalanan.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s