Saya Bingung Ngasih Judul Apa….

Beberapa hari lalu aku mengantar adikku ke kampusnya di kawasan Jati. Sebuah fakultas dimana aku juga bernaung di sana namun sudah lama tidak kukunjungi karena jurusanku sudah berpindah tempat ke kampus pusat.

Hal pertama yang terpikir olehku ketika roda-roda motor “pinjaman dari uda” yang kupakai memasuki gerbang adalah: “Kampus ini masih sama ya!”, Yap, masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Namun satu hal yang semakin kusadari adalah: Kampusku kini semakin “sumpek” dengan mobil.

Well, mungkin sudah menjadi rahasia umum “siapa sih” yang ngampus di bilangan Jl. Perintis Kemerdekaan ini. Kampus yang dikenal dengan para mahasiswa yang “wealthy” yang kadang di cap “arrogant”. Awalnya aku menolak mentah-mentah suara sumbang ini. Karena jujur kulihat tidak semua temanku yang kuliah di sini yang seperti itu. Bahkan banyak juga diantara kami yang berjalan kaki, menggunakan sepeda ke kampus. Kalau boleh kubilang, kampus ini memiliki dimiliki oleh semua strata dan golongan. Mau lihat mahasiswa dengan penampilan elegan yang super kaya raya dengan kendaraannya “minimal” Honda Jazz, tongkrongan selalu di café atau tempat-tempat makan yang mewah atau mau lihat tampilan mahasiswa yang sederhana, ke kampus jalan kaki atau naik kendaraan umum paling banter punya sepeda, juga ada di sini. Ya, tidak semuanya merata seperti pandangan banyak orang.

Namun sekarang aku semakin menyadari kenapa banyak orang yang berpikiran semuanya sama. Apalagi jika mereka memasuki area kampus ini. Lihat saja, dimana-mana sumpek dengan parkiran mobil mahasiswa dan dosen. Semakin banyak mahasiswa baru yang masuk, semakin terlihat penuh saja parkiran itu kelihatannya.

Aku sedikit bergumam kepada adiku,”ck ck ck.. .semakin penuh aja nih lapangan sama mobil, anak baru pada bawa mobil juga ya?”

“Nggak kok Ni, anak baru 2011 dilarang bawa mobil, tapi ada juga yang melanggar sesekali”

Dilain kesempatan, kembali aku berdecak kagum dengan kebiasaan mahasiswa sini, jika untuk cemilan sebelum makan siang saja mereka patungan membeli hamburger ke KFC.

Oke, mungkin tak bisa disalahkan kenapa mereka bisa terlihat kaya seperti itu. Atau kenapa mereka mendapatkan begitu banyak fasilitas dari orang tuanya.

Hmmm.. Bingung juga. Karena aku juga tidak tahu pasti apakah ini benar-benar salah, atau biasa biasa saja. Namun yang sering terlintas di otakku ketika menyaksikan mahasiswa yang mampu tertawa terbahak di dalam mobil mereka sambil mengkonsumsi makanan-makanan mahal itu adalah Bapak-Bapak pedagang keliling yang suara nyaringnya kerap menghiasi sunyi malam ketika beliau menjajakan makanan berupa kacang goreng, telur asin. Atau ibu-ibu penjual lontong di depan rumah yang dengan senyum mengembang menunggu pembeli anak-anak SD.

Sekian… kalau ada yag mau beropini, silahkan…

milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, KamPus..., OpIni..., PSIK FK UNAND. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s