Ketika Kata Menyapa

Kembali kuasah keinginan untuk mempertemukan ujung-ujung jariku dengan keyborad ini. Oh tidak, mungkin mereka sudah sering bertemu, hampir setiap hari malah. Entah itu untuk mengerjakan skripsi yang sampai saat ini masih belum memuaskanku, entah itu untuk sekedar mengupdate status, atau menghabiskan 140 karakter di twitter. That’s all. Namun sudah lama sekali rasanya jari-jari ini tidak bercengkrama dengan keyboard laptop, notebook, handphone atau apapun itu namanya untuk sekedar meluapkan imajinasi dan buah fikiran yang kamu tau sering sekali menghampiri namun kamu pikir mereka datang di saat yang tidak tepat karena kamu sedang sibuk ini, itu, dan lain sebagainya.

Oh come on, they will not come in every time! Belum tentu lesatan kalimat yang tengah kamu fikirkan akan menjumpaimu lagi di waktu yang lain. Siapa yang bisa menjamin kita memang diberikan waktu khusus untuk menterjemahkan kembali kilatan imajinasi yang terangkai dalam setiap bait kata. Kadang kita tidak menyadari bahwa mereka butuh untuk dikeluarkan saat itu juga.

Ok, terlalu banyak moment perimajinasian yang berlalu begitu saja tanpa goresan kata untuk mengabadikannya. Mereka hanya sempat singgah sejenak di memori otak, bergulat dengan bahasa qalbu dan kemudian dengan angkuhnya kita mem-pending- peluncurannya dengan kilatan pemikiran,”Nanti saja, aku sedang sibuk”. Sehingga akhirnya mereka hilang begitu saja dan keesokan harinya kita hanya bisa termangu menyadari apa yang kita fikirkan kemaren tak lagi sehangat waktu sekarang. Hmm mungkin mereka memang hanya butuh dikeluarkan pada waktunya itu.

Ya, mungkin kita tak selalu berada di waktu yang tepat ketika pemikiran-pemikiran itu datang. Tidak dengan segala gadget yang kita butuhkan untuk melabuhkan itu semua. Namun masih ada media lain yang bisa kita gunakan untuk menelurkannya. Yah, aku teringat, dulu… duluu sekali, sebelum aku dan kamu (*oh tidak, ini mungkin hanya aku) mengenal yang namanya komputer, internet dengan segala macam fasilitas dan jejaringnya, aku memiliki sebuah buku yang kubuat cantik tempat aku mengungkapkan semua yang terlintas di kepalaku, baik itu pertanyaan, ide, komplain, hal yang membuatku marah, sedih, kebahagiaan, dan beberapa perencanaan.

And you know what? Ada rasa kebahagiaan tersendiri ketika aku kembali membaca buku yang kubuat cantik tersebut setelah bilangan tahun lamanya ia tergeletak ditemani debu di salah satu sudut rak-rak buku.

Kuresapi lembar demi lembar halaman buku yang kubuat cantik tersebut sambil sesekali mengulas senyum. Oh dear, engkau telah kutulisi hampir setiap hari di tahun-tahun itu. Untuk kemudian dengan sombongnya membiarkanku kembali kosong.

Ya… mungkin tak hanya sekedar pertemuan ujung-ujung jari dengan keyboard yang bisa kuhandalkan untuk menyelesaikan naluri perimajinasian kata-kata itu. Kadang kita masih butuh kertas dan pensil untuk menuliskannya.

Ya… mungkin itu saja coretan tak penting hasil pertemuan ujung-ujung jari dengan keyboardku saat ini, sebelum akhirnya mereka akan kembali bertemu untuk membahas hal yang juga penting lainnya.

@lovely room, 20 Setember 2011

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini, geje. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s