Perbincangan Dua Orang Manusia Yang Sering Dipanggil "Akhwat"

Pada suatu siang di Pondokan Bakso di pinggir jalan sebelum ke kampus. Ada dua akhwat yang sedang berbincang-bincang hangat tentang berbagai masalah mulai dari masalah kuliah, kesehatan, sampai akhirnya diskusi mereka tertuju pada yang namanya aktivis dakwah kampus.

Akhwat 1 (A1) : Kak, tadi pas wawancara dengan adik-adik mahasiswa baru, banyak yang melaporkan tentang tingkah laku akhwat yang tidak lagi menunjukkan keakhwat-anya. Sudah banyak yang berpacaran, bahkan berani pacaran di depan umum.

Akhwat 2 (A2) : Ah masa iya? Udah ditabayun belum? Trus ukhty jawab apa sama adek itu?

A 1 : Iya kak, aku Cuma bisa menjelaskan kepada adik itu untuk menanyakan dahulu apakah benar si cowok itu pacarnya. Dan sudah selayaknya kita saling mengingatkan.

A 2 : Hmm… tapi pasti adik itu menyanggah dengan berdalih dia gak pantes dan sejenisnya kan?

A 1 : Betul kak, adik itu ngerasa tak layak untuk mengingatkan si akhwat karena ia merasa tak lebih baik dari akhwat itu. Namun efek buruk nya adalah, si adik jadi ilfeel kalau ketemu dengan jilbaber.

A 2 : Trus gimana coba ukhty ngasih solusinya?

A 1 : Ya, aku Cuma bilang sama adik itu, bahwa yang salah itu adalah pribadinya. Bukan jilbab yang dikenakkan oleh akhwat itu. Semua orang pasti pernah merasakan turun naik keimanan, dan mungkin saja saat itu adalah timing bagi si akhwat dengan keimanan yang sedang turun. Kan tidak ada salahnya bagi kita untuk menasehati. Karena kewajiban kita sebagai sesama muslim adalah saling menasehati.

A 2 : ya. Menasehati dengan hikmah dan cara yang ahsan *tersenyum*

A 1 : Ya kak… Lagian, membiarkan sesuatu kemungkaran hadir di depan mata kita tanpa berbuat sesuatu juga merupakan sesuatu yang salah kan kak… Jilbab itu kan memang seharusnya yang menjadi benteng bagi kita untuk tidak melakukan hal hal buruk, kalau dengan jilbab segondrong itu mereka udah kayag gitu, apalagi yang gak pakai jilbab kan ya kak?

A 2 : Yap… Alangkah baiknya jika si adik juga mau berbuat baik dengan mengingatkan si akhwat

A 1 : Tapi kak kebanyakan sekarang banyak sekali yang suka mengingatkan orang lain di depan umum. Menasehati di depan orang banyak. Contohnya saja menasehati di Facebook. Bukankah itu termasuk di depan orang banyak ya kak

A 2 : Menasehati seseorang di depan orang lain sama halnya dengan mengumbar aib saudara di depan orang banyak. Nanti bukannya makin tersadarkan, malah jadinya semakin lari dan timbul rasa malu dan benci.

A1 : Iya kak… aku kadang sedih juga. Banyak loh kak, akhwat yang menasehatiku gak boleh kayag gini, gak boleh kayag itu. Eh, malah mereka sendiri akhirnya yang berbuat hal sama seperti yang ia katakan kepadaku dahulu. Kadang kecewa juga sih kak…

A2: Hm… Kekecewaan itu adalah hal yang wajar. Mungkin selama ini di dalam bayangan kita si akhwat A adalah sosok yang seperti ini, seperti itu. Dan kita meyakini akan kebaikannya. Namun satu hal yang harus kita sadari, mereka juga manusia yang adakalanya berbuat salah. Tak selamanya benar. Turun naik keimanan Ibaratnya giliran mati listrik. Mungkin sekarang jadwal rumah mereka yang listriknya sedang padam, dan bukannya tidak mungkin seandainya besok-besoknya lagi giliran rumah kita yang kematian listrik. Dan daripada mengutuk kenapa rumah mereka gelap gulita,ada baiknya kita bantu memberi penerangan seperti lilin untuk membuat rumah mereka sedikit bercahaya lagi.

A1: Iya juga ya kak… Hmm… karena kita bukanlah malaikat. Yang sering juga berbuat salah… J

Terimakasih untuk perbincangan di siang yang terik itu ukhty. Setidaknya, rasa kesal itu sedikit berkurang. Rasa kesal terhadap akhwat yang seenak jidatnya menasehati ukhty-ukhtynya secara blak-blak-an di depan umum, namun pada akhirnya ia sendiri melakukan hal yang sama dan akhirnya membuat illfeel, kecewa, marah, ukhty nya yang pernah di”nasehati” dengan kasus serupa.
Mungkin para ukhty yang menjadi korban menganggap mereka menjilat air ludahnya sendiri atau seperti yang disinggung Allah dalam surat Ash-Shaff ayat 3, namun satu hal yang harus kita sadari, adakalanya manusia, mengalami fase futur yang akhirnya membuat ia melakukan kesalahan. Sebagai sesama umat islam, tak ada salahnya kita menegur dengan cara yang ahsan
dan tidak mengutuk nya. Karena siapa tahu kita lah orang orang berikutnya yang melakukan kesalahan yang sama. Wallahualam….
Keep Strugle and istiqomah….


*seseorang yang sama sekali pernah berbuat dosa*

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CERPEN^^, Cuap-Cuap Aini, geje, OpIni.... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s