Bidadari-Bidadari Surga

Assalamulaikum!

Haii…!!

Subuh tadi tepatnya 30 menit lepas kumandang azan shubuh, aku baru saja menyelesaikan membaca novel karya bg Tere Liye yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga”. Tidak. Aku tidak membacanya dari semalam suntuk. Novel ini punya ketebalan 363 halaman. Dan aku tidak cukup bahagia untuk membacanya cepat-cepat. Perjuanganku membaca novel ini dimulai siang kemaren, terhenti menjelang jam 3 karena aku harus menunaikan beberapa agenda, kemudian aku melanjutkannya selepas maghrib sampai pukul 10 malam. Dan itu sudah cukup membuat mata ku lelah. Aku tertidur dan terbangun lagi karena HP ku mengumandangkan bunyi alarm tepat pada pukul 3 dini hari. Ya, itu waktu yang tepat untuk bermunajat padanya. Setelah setengah jam lebih bergulat dengan mukenah dan sajadah, kulanjutkan membaca novel itu. Dan akhirnya DoNE ! Aku menyelesaikannya!

OK, mungkin laporan daily acivity di atas tidak cukup penting, karena bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Isinya! Ya isi dari novel itu.

Well, isinya cukup unik dengan jalan cerita yang sangat menarik. Tentang persaudaraan 5 orang saudara. Dimana novel-novel islami saat ini lebih sering berbau kisah percintaan dan *maaf* sering membuatku sedikit muak tidak berminat untuk membacanya. Tapi di beberapa karya Tere Liye yang kuketahui, sarat dengan kehidupan keluarga, persaudaraan, kehidupan bermasyarakat, dan yang paling membuatku selalu antusia dengan karya-karya Tere Liye adalah setting dan budaya yang diangkatkan. Benar-benar mengIndonesia. Benar-benar tempat yang ternyata aku sendiri baru ngeh sambil bergumam,”Ini daerah mana ya?? Oh ada ya daerah ini di Indonesia”. Too specific.

Ok, jadi bidadari-bidadari surga ini mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang kakak untuk bisa membuat keempat adiknya sukses. Perjuangan yang dilandaskan dengan komitmen yang besar, kecintaan, dan keikhlasan kepada Allah. Biarlah dia mendapatkan sakit dan malu daripada harus adik-adiknya yang menanggungnya. Ia rela putus sekolah untuk membantu mamaknya di ladang demi mencukupi kebutuhan sekolah adik-adiknya. Dialah kak Laisa. Yang dengan perjuangannya adik-adiknya bisa menjadi bintang-bintang cemerlang yang membanggakan. Sebut saja profesor muda Dalimunte yang diumur 37 tahun sudah menyandang gelar profesor dan sudah terbang kemana-mana sebagai pembicara di berbagai konfrensi ilmiah. Kemudian Ikanuri dan Wibisana yang dengan kerjasamanya berhasil membuat pabrik suku cadang dan bengkel modifikasi mobil yang sukses di ibukota, dan yang terakhir adik mereka Yashinta. Seorang biolog lulusan terbaik Universitas di Belanda untuk program Doktornya. Benar-benar luar biasa.

Sedangkan kak Laisa? SD pun dia tidak tamat. Makanya beliau sangat mengharapkan adik-adiknya menjadi orang-orang yang sukses dengan selalu menerapkan kedisiplinan kepada mereka dan selalu meneriakan: Kerja keras! Kerja keras! Kerja keras!. Ia yang tidak pernah datang terlambat di saat adik-adiknya membutuhkannya, yang rela berlari di tengah hutan rimba di malam yang kelam untuk menyelamatkan adik-adiknya, berjalan mencari pertolongan di tengah hujan lebat untuk mencari tenaga medis untuk adiknya yang kejang-kejang. Dan masih banyak pengorbanan-pengorbanan lain yang kak Laisa lakukan. Semuanya itu ia lakukan dengan ikhlas. Termasuk keikhlasan adik-adiknya harus melangkahinya untuk menikah lebih dahulu karena sampai berumur 40-an pun Kak Laisa masih belum menemukan jodohnya. Karena bentuk fisiknya yang membuat banyak laki-laki memutuskan perjodohan dengannya.

Lembah Lahambay yang dahulunya kelam, terpencil, suram menjadi lebih bercahaya, maju, atas kerja keras dan usaha kak Laisa juga. Ia mengubah kladang-ladang penduduk yang awalnya Cuma bertanam padi, jagung menjadi ladang strawberry atas saran mahasiswa KKN yang datang kesana dengan hasil yang luar biasa. Perekonomian warga kampung mulai membaik. Laisa juga mulai memfasilitasi sekolah, pendidikan, taman bacaan, dan lain sebagainya untuk kemajuan kampung.

Dan pada akhirnya, kak Laisa yang banyak dicintai oleh masyarakat termasuk adik-adiknya yang menempatkan kak Laisa sebagai orang yang paling mereka hormati selain Mamak, harus berjuang melawan kanker paru-parunya. Ia dengan segala kerendahan hati menyembunyikan penyakitnya itu dari adik-adiknya karena tidak ingin membebani mereka. Yang harus direpotkan itu kak Laisa, yang boleh merasakan sakit, malu itu kak Laisa. Bukan adik-adiknya. Begitu yang selalu beliau bilang.

Dan akhirnya kak Laisa pun menghembuskan nafas terakhirnya di tengah lembah Lahambay yang tenang di kelilingi oleh orang ornag yang mencintainya di umur 40 tahun lebih dengan doa terakhir agar Allah memperkenankan dirinya menjadi salah satu bidadari bermata jeli yang hidup di syurga Allah.

Ok, kisah ini akan lebih mengharukan jika kalian membacanya langsung dari novel tersebut. Dan well, ini setidaknya memotivasiku untuk kelak menjadi perpanjangan tangan ornag tuaku untuk membuat adik-adikku sukses. Dan yang pasti untuk selalu bermimpi dan iringi dengan kerja keras, agar suatu saat kita bisa melihat sejuta kunang kunang yang lebih indah di luar sana.

Dan satu lagi yang kemudian terlintas di fikiranku tentang ide aku juga tidak akan menikah sebelum kakak perempuanku menikah. Upps (^^) heh…. Yap, seperti Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta yang tak tega melangkahi kakaknyauntuk berumah tangga terlebih dahulu karena rasa hormat mereka.heheh….APLT

Epilog

Dengarkanlah kabar bahagia ini.

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia 30, 40, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatsan fisik, kesempatan, atau tidak pernah “terpilih” di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah ang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.

milkysmile

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CERPEN^^, OpIni.... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s