Ujian Kenaikan yang Melelahkan (kemana staminamu!!!)

Osh!

Hai….

Apa kabar sahabat blogger. Malam ini cukup dingin yah?

Yap, dingin karena kurang lebih satu jam tadi hujan kembali mengguyur kota Padang tercinta, kujaga dan kubela. Walaupun pada awalnya ketika pertama kali melangkahkan kaki keluar rumah untuk hari ini saat ba’da maghrib tadi untuk menuju dojo FK, udara terasa sedikit pengap, panas. Tak ada tanda-tanda akan turun hujan (*atau aku yang kurang sensitif?).

Sesampainya di TKP, no body ! Aku orang pertama yang datang. Langsung kuhidupkan lampu di lapangan. Mengulang-ngulang gerakan karena malam ini adalah malam ujian kenaikan sabuk. Sepuluh menit kemudian beberapa orang anggota dan senpai sudah datang. Dan senpai yang datang persis ketika Jati berada dalam kondisi gerimis mengundang sudah terlebih dahulu lengkap dengan peralatan hujannya.

“Wah senpai kok udah stanby aja dengan jas hujannya, kan masih belum hujan”

“Apanya yang belum hujan, di atas sudah basah-basahan”

Dan 5 menit kemudian Jati benar-benar kebagian guyuran hujan deras. Beberapa anggota dojo yang lainnya datang degan payung, mantel. Tak tanggung-tanggung hujan mengguyur sekitar 1 jam-an.

OK, seperti biasa. Hujan lokal yang selalu datang bergantian menyisir tempat tertinggi ke tempat yang lebih rendah. Maka tak jarang ketika engkau sudah kuyup-kuyup-an dari Limau manih (kampus Unand atas) eh ternyata di Jati masih kering. Membuatmu lebih terlihat seperti manusia kecebur di got atau empang mana gitu… hehe

Well… Bukan ini inti masalah yang ingin kuceritakan. Hah. Terlalu banyak bermukadimah keliatannya. Seperti biasa.

Kejadian yang ingin kukisahkan malam ini adalah tentang ujian kenaikan sabuk yang mungkin terakhir kali kuikuti. Hmmm… kejadiannya persis sekitar satu setengah jam yang lalu. Saat ini sudah pukul 22.39. Ujian diakhiri kira-kira pada pukul 21.00 tadi.

Yap, mungkin ini ujian kenaikan sabuk terakhir yang bisa kuikuti. Karena setelah memperoleh sabuk ini kesempatan untuk ujian kenaikan sabuk yang lebih tinggi sangat tipis. Kata senpai ujian sabuk berikutnya ini jarang dilakukan di Kota Padang. Biasanya dilakukan di ibu kota sana. Biasanya kalau mengundang sensei yang dari Jakarta harus mencukupi quota dulu. Kalau tidak cukup, terpaksalah bertandang ke sana. Dan tentu saja memakan waktu, biaya, dan masalah utamanya adalah persyaratan yang tentu saja tak bisa dibawa-bawakan ke standar untuk seorang akhwat. Karena otomatis sudah harus berinteraksi dengan anggota dojo lain dan senpai yang lebih tinggi yang tidak semuanya wanita.

Ok, mungkin memang Cuma sampai di sini kesempatanku. Dan tentu saja ini sudah lebih dari cukup untukku. Warna sabuk sebenarnya tidak terlalu penting saat ini. Bagiku dan bagi akhwat yang ikut karate lainnya, skill dan kecakapan dalam ber-self-defense lah yang lebih penting. Bagaimana kami bisa melindungi diri sendiri ketika ada yang berusaha menjahati atau mengganggu.

Dan kecintaanku terhadap karate mungkin akan lebih diarahkan bagaimana aku bisa melatih dan benar-benar membentuk gerakan dengan benar. Seperti yang sering senpai bilang, gerakan itu hafalan tubuh, bukan dengan mengingat-ingat. Dan dengan latihan yang konsisten, maka tubuhlah yang otomatis membentu gerakan itu tanpa harus kita ingat. Semacam gerakan refleks yang sudah terlatih gitu.

Salah satu kendala terbesarku untuk bisa membentuk gerakan degan bagus selian jarang latihan, kurangnya power adalah stamina. Yap, stamina. OK, untuk yang satu ini memang cukup berat. Untuk mendapatkan stamina yang bagus benar-benar butuh latihan fisik yang disiplin.

Senpai selalu mengsugesti kami untuk selalu latihan fisik di rumah. Tak hanya ketika latihan rutin di dojo. Setidaknya jogging setiap hari libur. Atau push up, sit up. Tapi yahh… apalah daya. Sepertinya setan pengganggu untuk urusan yang satu ini cukup sakti. Maka tak jarang kami (*eh aku) lebih sering malas-malasan kalau disuruh latihan fisik.

Dan dampak buruknya, sedikit saja senpai memperberat latihan, atau seperti kejadian ujian tadi dimana aku dan rekan-rekan setingkat diminta untuk kumite 3 ronde setelah sebelumnya rapel melakukan semua gerakan kihon. Ok, ini cukup membuatku semaput. Tak ayal, aku sering kebagian pukulan dan tendangan dari lawan tandingku. Gak sakit sih, Cuma ya itu. Rasanya sulit sekali untuk membalas karena tenaga sudah habis, nafas ngos-ngosan, keseimbangan kurang, fokus menurun.

Beruntung ujian berikutnya adalah kata. Dua kata yang alhamdulilah sudah kuhapal sebelumnya. Namun lagi-lagi gara-gara kecapekan, gerakan yang dibentuk tidak maksimal. Kurang power kalau kata senpai…. Huaa kacau, pada salah satu kata tambahan, aku malah sempat melakukan kesalah karena sudah tidak konsentrasi akibat sudah lelah.

Hmmmm… begitulah. Ini adalah ujian kenaikan sabuk terberat yang pernah kurasakan. Betul-betul membuat letih. Namun tentu saja mengasyikan. Karena dengan begitu, kita sudah bisa maju ke babak berikutnya dalam dunia latihan karate dengan ilmu yang lebih banyak. Walaupun kesempatan untuk naik ke sabuk yang lebih tinggi teramat tipis *seperti yang sudah kuceritakan di awal.

Ok teman. Rasanya malam ini cukup letih dan badan pada pegal semua. Kucukupkan saja tulisan ini. Karena mataku mulai membentuk kabut-kabut aneh berwarna keputihan. Sepertinya aku menagntuk. Hoaammmm…. See you in the next story ^^

milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, Karate. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s