Aku, Mimpi, dan Sejumput Takdir Tuhan (part 1)

Pernahkah kamu memiliki satu hari atau satu event dalam hidupmu dimana kamu rasanya tidak akan pernah melupakannya? Aku rasa ada… dan aku juga.

Satu hari yang aku berjanji dalam hati akan menjadikannya sebagai katalisator untukku berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi!

Ya… inilah serenade kehidupan. Nyanyian kehidupanku…!

Cerita ini tentang aku kawan. Seorang mahasiswi tahun akhir lewat 3 bulan. Terbilang terlambat untuk dikatakan lulus tepat waktu. Namun aku masih pede dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mengakhiri ini.

Ini adalah cerita tentang aku, mimpi, dan sejumput takdir Tuhan

..:::***:::..

Minggu kedua Juni adalah minggu yang membuat perasaanku bereuforia dan membuncah bahagia, karena aku telah melewatkan seminar proposalku dengan baik. Proposal itu kukerjakan hanya dalam waktu 1 bulan. Ada 4 kali konsul, satu minggu satu kali konsul, dan berikutnya ACC. Dan ujian itu pun berlalu begitu saja.

Berikutnya, revisi proposal. Waktu 3 hari bagiku pun cukup untuk revisi dan mendapatkan ACC untuk melakukan penelitian, pasca di ACC aku langsung menuju ke lokasi tempat para sampel respondenku berada. Ya, aku memang berkejar-kejaran dengan waktu teman. Targetku September! Ya,,, September akan kuraih degan senyuman. Itu tekadku. Tiga hari mengumpulkan data, dan semuanya siap untuk diolah. Namun apa yang terjadi kawan? Aku membiarkan kuesioner-kuesioner itu berdebu di sudut kamar tanpa kusentuh sama sekali. Entah apa yang merasuki benakku saat itu. Rasa malas itu datang tanpa diudang. Meluncur begitu saja.

Sebut saja aku sang pemalas! Ya… kurasa ejekan itu tepat untukku. Juni-Juli berlalu. Akhir Juli adalah pendaftaran terakhir untuk ujian skripsi agar bisa yudisium dan wisuda dengan tenang di bulan september. Tapi tiba-tiba aku memutuskan (lebih tepatnya dengan bodohnya) sepertinya aku takkan bisa mengejar september. Karena sampai pertengahan Juli pengolahan data itu masih terkendala dan terkendala.

Hah,,, aku hanya menunda-nunda dan menjanjikan diriku untuk mengerjakannya, besok-besok-dan besoknya lagi. Sampai aku sendiri tak menyadari entah sudah berapa kali “besok” yang kuucapkan. Dan ternyata kata-kata besok itu telah merubah dirinya dengan sendirinya menjadi berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Sampai Agustus terlewat, memasuki September dan beberapa temanku sudah berbahagia dengan toga hitamnya di awal September itu.

Aku benar-benar terpuruk. Jujur, keseriusan itu enggan mendekapku. Aku pun tak bersungguh-sungguh mencari sang “serius”. Sampai pada suatu ketika di pertengahan September kutemukan diary pink yang tergeletak pasrah dengan debu-debunya di rak-rak buku. Ya itu adalah diaryku yang kutulis setiap hari ketika di awal-awal kuliah dahulu. Aku menulisinya hampir setiap hari. Semua aktivitas, kejadian, agenda, curhatan, kekesalan,rasa bahagia, kutulis semuanya di sana. Sampai akhirnya aku menemukan satu halaman yang disana jelas tertulis tanggal 1 Januari 2009.

Dan tahukah kamu apa isinya? Isinya penuh dengan tulisan tulisan harapan, list-list mimpi-mimpiku, cerita cerita membanggakan tentang masa-masa gemilang, semuanya seperti menyeretku ke dunia lain yang kemudian memutar memori-memori indah tentang harapan dan kebahagiaan.

Aku semakin ketagihan membolak-balik dan membaca diary itu. Semalaman. Ternyata diary itu ditulisi cuma sampai tanggal 5 Juni 2009. Dan halaman-halaman berikutnya kubiarkan kosong. Entahlah… aku juga tidak tahu pasti hal apa yang menyebabkan aku berhenti menulis diary itu.

Kembali kutulisi diary itu tepat pada tanggal 14 September 2011. Tulisan pertama yang kubuat adalah tentang aku yang memaki-maki diriku sendiri. Tentang aku yang selama ini hanya pandai menyemangati diri, namun rentan untuk tidak melakukannya. Aku benar-benar menulisi diary itu tentang kebencian terhadap diriku sendiri. Halaman demi halaman terisi, aku benar-benar marah dengan sesosok yang kupanggil dengan aku ini! Setelah puas dengan menulisi rasa marah ini, kemudian hatiku tiba-tiba melunak. Kalimat-kalimat berikutnya adalah untaian doa-doaku kepada Allah, pengharapan-pengharapanku sebagai makhluk lemah tak berdaya. Rasanya malam itu aku berada pada puncak kepasrahan tertinggi. Rasanya ingin kuserahkan kehidupanku ini kepada Allah sambil berlinangan air mata. Dan itu benar-benar membuat lega. Membuat hatimu lapang, tenang, dan nyaman.

Kuputuskan untuk tidak mengerjakan apa-apa malam itu. Termasuk melirik SKRIPSI! Dan aku memutuskan untuk berhibernasi terlelap dalam tidur yang nyaman, untuk kemudian mencari celah di tengah malam untuk kembali mengadu padaNya.

(con’t)

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, CERPEN^^. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s