Aku, Mimpi, dan Sejumput Takdir Tuhan (part 4)

Kepenatan ternyata membuatku meninggalkan malam-malam yang sungguh berharga untuk kubersujud padaNya. Aku menyesali kenapa malam ini kantuk lebih menguasaiku. Kuhabiskan ba’da subuh dengan membaca draft ku lagi. Dan kemudian pukul 7 aku kembali tertidur, bangun, tertidur lagi, dan pukul 9 aku memutuskan untuk bersiap-siap ke kampus dan menyelesaikan segala hal yang harus kusiapkan untuk jam 12 nanti.

Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri mengantarkan adikku ke kampusnya di FK Unand Jati. Hari ini dia ada ujian. Ah sungguh banyak barang yang harus kubawa, sekantong plastik buah, note book, charge, skripsi dan pernak perniknya, yang membuat ranselku memberat.

Sesampainya di FK…. uuuppsss…. motorku mati dengan tiba-tiba tepat di depan gedung PSIKM. Yahh… si hitam kehabisan bensin. Aku lupa! Benar-benar lupa! Perjalanan panjang seharian kemaren membuatku lupa telah menghabiskan entah berapa liter bensin tanpa sempat mengisinya. Sedikit panik. Kuliha jam, masih pukul 9.30…

Well, tenang… ini hanya sebentuk ujian kecil lainnya… akhirnya adikku bermurah hati meminta temannya meminjamkan motor untukku membeli bensin di seberang FK yang mendadak harganya menjadi 6000 seliter.

Ok, motor ini kembali bisa digunakan. Dan dengan berhati-hati aku kembali kepada tujuan selanjutnya. Sepanjang perjalanan aku berdoa dan berusaha berkomunikasi dengan Tuhan. Aku merengek-rengek selayaknya anak kecil meminta kepada Allah agar melancarkan semua urusan. Aku meminta kepada Allah apapun yang terjadi pada hari ini, aku ingin ujian hasil ini tetap terlaksana. Aku tahu ini tidak mudah. Selalu ada permasalahan yang muncul sebelum ujian ujian serupa berlangsung. Dan aku sudah harus bersiap-siap dengan itu semua. Sebagai makhluk yang lemah, tentulah ini semua tidak akan bisa kulalui tanpa adanya Allah di sisiku. Aku merasakan setiap denyut nadiku dan kembali berbisik lemah dalam hatiku: “Ya Allah, ternyata Engkau memang sangat dekat sekali denganku saat ini. Aku bahagia”.

Kutatap langit kota Padang yang kelabu, mendung menggantung. Dan kembali aku merengek manja. Ya Tuhan, langit itu milikMu, awan itu juga milikMu, sedangkan hujan dan panas itu hanya akan terjadi denagn izinMu. Aku mohon ya Tuhanku, jangan jadikan mereka (langit, awan, dan hujan) sesuatu yang akan menjadi penghalang hari ini.

Ya tentu saja aku cemas. Kemaren, salah satu dosen pembimbing temanku yang juga merupakan penguji II ku tidak bisa hadir pas seminar proposal temanku gara-gara hujan badai di atas. Aku memohon agar semua urusan dan pekerjaan dosen-dosenku dimudahkan. Sehingga bisa menghadiri ujian ku hari ini.

Kulanjutkan komunikasi satu arah ku dengan Tuhan, seolah aku tak rela satu detik waktu itu kubiarkan percuma tanpa memohon kepadaNya. Upss.. tidak ini tidak satu arah, aku yakin Allah akan mereply apa yang kusampaikan padaNya hari ini.

Banyak sekali yang kuminta dan kubisikkan di tengah laju kendaraanku menuju kampus pagi itu. Karena kupikir Allah adalah Tuhan yang Maha Kaya dan Ia telah memerintahkan umatNya untuk berdoa dan meminta. Namun terkadang aku berpikir aku adalah seseorang yang egois. Lebih mendekati Tuhan hanya di saat-saat yang kubutuhkan. Meminta-minta apa yang kuinginkan namun kadang tak pernah lebih peduli dengan apa yang Tuhan inginkan dariku.

Dan aku hanya bisa berkata pada diriku sendiri, untuk selalu menganggap Allah itu ada lebih dekat dari urat nadiku sendiri! Dan jangan pernah lagi menganggap Ia jauh sehingga dengan seenaknya aku mengacuhkanNya.

Urutan aktivitas yang kulalukan berikutnya adalah: membeli teh kotak, mengantarkan buah dan teh ke dapur kampus, mencari seorang volunter untuk menemaniku menjemput nasi kota ke RM dekat kampus. Kadang aku sedih karena harus melakukan ini semuanya sendiri. Tidak seperti kebiasaan teman-temanku yang saling bahu membahu. Namun aku menyadari, tak selamanya aku bisa merepotkan sahabat dekatku. Selagi aku bisa melakukannya sendiri, aku akan menanggulangi. Dan aku akan meminta bantuan ketika aku sudah tidak bisa menyelesaikannya sendiri.

Ok, semuanya fix, sekarang tinggal duduk tenang di ruang ujian sambil menunggu jarum jam menunjuk ke angka 12.

Nah di sinilah cobaan terberat dan terindah itu terjadi. Cobaan yang kuyakini sebagai salah satu jalan dan “cara” untuk mendapatkan ‘hadiah’ terindah dariNya….

(con’t)
milkysmile
Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s