Serenade Of Dream

Sesore ini aku baru ‘turun gunung’. Dengan mengendari motor aku mulai menyusuri jalanan keluar dari kompleks kampus Unand. Di depanku terbentang pemandangan alam yang menakjubkan.

Nun jauh disana terhampar kota Padang dengan batas pantai yang menyemburkan cahaya jingga. Ah… melihat sunset dari sini seakan kita sudah berada di tepi laut sana. Jelas terukir lingkaran surya yang dibalut permadani awan yang sedikit kelabu sisa-sisa mendung siang ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45. Memang takaran yang tepat untuk menikmati indahnya pergantian siang dan malam dengan menatap cahaya jingga itu.

Kali ini sang surya tampak berbeda. Pinggiran lingkaran itu tegas terukir bulat penuh. Hanya sedikit awan iseng yang mengganggu, tapi itu justru mempercantik kondisinya. Cahaya berwarna orange kemerahan itu memantul menambah anggun awan-awan yang tadinya kelabu. Selama di motor, mataku tak henti-hentinya mengintip matahari sore itu. Sungguh indah, tak jemu dan tidak menyakitkan. Aku mencintai matahari dengan kondisi sebening ini, lembut menyenangkan.

Tiba-tiba terbersit khayalan dan keinginan untuk menjadi sesuatu yang sama seperti sang mentari senja. Tahukah kawan? Bukan hanya keindahan yang ia tampilkan, tapi sebentuk manfaat. Menghangatkan sebelum akhirnya malam yang dingin menggantikan, dan kemudian akhirnya tenggelam, namun tak ia tak lantas menghilang begitu saja. Masih ada pantulan cahayanya yang membersamai bulan, untuk kemudian ia kembali lagi dengan semburat kuningnya melanjutkan misi indah dari Tuhan.

Ya aku tiba-tiba ingin sekali seperti mentari itu. Terang bersinar! Bermanfaat dan mengagumkan. Kuuntai lagi beberapa mimpi-mimpiku, kemudian aku menyusuri satu muara kemana arah dan tujuan mimpi2 itu. Kebermanfaatan bagi semua! Tiba-tiba kesimpulan itulah yang mengisi rongga pemikiranku. Dan aku tersenyum lega mengetahui kesimpulan yang kubuat ini.

Ya, aku ingin menjadi orang yang bermanfaat dengan cara yang sudah kustrategikan ke dalam mimpi-mimpiku. Step-step yang mungkin semua orang menganggapnya adalah hal yang sama, namun aku hanya akan menjalankan dengan cara yang sungguh hanya aku sendiri dan Allah yang paham bagaimana itu terjadi kelak.

Serenade mimpi kembali bergelayut di pelupuk mata. Ia bersenandung riang di dalam otak dan hatiku berdetak, mengaminkan untuk kemudian menyerahkan kepada Tuhan untuk dimudahkan. Inilah jalan juang yang kutempuh, aku menatap haru kepada mentari yang menjadi inspirasi. Satu langkahku ini, akan menjadi langkah panjang ke depannya. I believe it…

20/11/011

milkysmile

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Puisi... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s