Aku, Mimpi, dan sejumput Takdir Tuhan Part 5 ^^

Assalamualaikum!!

Hai semuanya…

Sebelum aku lupa dan tiba-tiba tidak berminat lagi untuk menulis, ada baiknya ngelanjutin sambungan kisah Aku, Mimpi, dan sejumput Takdir Tuhan Part 6 ^^

Ok, kisah berlanjut…

Aku sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari ruangan, peralatan untuk presentasi, dan bahan-bahan yang akan menunjuang performa nantinya. Hmm…. masih pukul 11.30. Sekitar 30 menit lagi. Namun belum sampai 15 menit menunggu, tiba-tiba pembimbingku  masuk ruangan dan mulailah perasaan gak enak itu menyergap, karena tidak biasanya dosen hadir lebih awal dari waktunya. “Aini, maaf ya… kita gak bisa ujian sekarang. Penguji 2 katanya gak bisa datang, belaiu bisanya ntar sore. Sedangkan pembimbing 2 juga ada urusan. Karena nanti ada rapat staff  jam 1, kita undur jam 3 aja ya ujiannya. Tolong kasih Penguji 1. Bilangin nanti izin keluar aja pas rapat kalau udah pukul 3”.

Tidak… aku tidak begitu shock mendengar kabar itu. Justru ini adalah semacam kejutan yang sudah kunanti-nantikan. Yap kawan, satu hal yang harus kita sadari, setiap langkah keberhasilan tak selalu berjalan mulus. Bahkan aku takut jika semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Karenanya aku selalu berdoa agar Allah mempermudah dan juga memberikan keringanan untuk setiap hambatan yang akan terjadi. Aku mengangguk kalem. Tak memperlihatkan ekspresi kecemasan.

Beberapa saat setelah pembimbing menyampaikan kabar tersebut, aku masih duduk di belakang meja presentasi memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku harus menghubungi penguji 1, yap…

Kuberi tahu kawan, untuk bisa terlaksananya ujian ini, setidaknya harus ada 2 orang penguji. Dan 2 dari 3 penguji proposal ku kemaraen, sekarang berada di tanah Jawa untuk urusan pendidikan. Maka jadilah Cuma ada 1 penguji asli yang juga sudah membedah proposalku.

Sedangkan penguji 2 ku kali ini adalah penguji sebenarnya yang sudah direncankan untuk skripsiku sejak awal, namun beliau tidak bisa hadir karena sesuatu dan lain hal ketika ujian proposalku, maka ia digantikan dengan dosen lain, nah berhubung dua orang penguji proposal sudah gak ada, maka kembali ibu ini ditarik dan menjadi  satu-satunya dosen penguji 2 harapanku demi terlaksananya ujian ini (*ribet yahh)

Demikianlah… ujianku yang seharusnya berlangsung pada pukul 12 siang diundur jadi pukul 3 sore. Dan demi itu, aku kena marah habis-habisan oleh penguji 1. Karena beliau tidak senang dengan jadwal yang dirubah-rubah seenak hati. Aku sudah menjelaskan bahwa perubahan jadwal itu amat sangat mendadak, sedangkan aku sendiri sudah mempersiapkan semuanya. Sang dosen sampai mengancam tidak mau mengujiku.

Huaahhh…. kali ini baru serasa disambar gledek. Akhirnya dengan memasang tampang memelas, menghiba-hiba aku pun memohon kepada sang dosen dan mengatakan, kalau ibu tidak mau menguji, ujian itu tidak akan pernah ada. Karena ibu-lah dosen satu-satunya yang mengikuti ujianku sejak sidang proposal. Akhirnya penguji 1 ku luluh namun tetap dengan penuh emosi beliau menyampaikan bahwa selesai nguji akan langsung pulang. Apapun itu buk, tapi mohon datanglah barnag 30 menit untuk mengujiku!! Alhamdulilah beliau meng-Ok-an walau penuh amarah. Maka demi tidak melukai hati penguji 1 untuk kedua kalinya, kutelfon penguji 2 dan kembali memastikan sang dosen untuk datang ON TIME pada pukul 3.

Tiga jam yang berlangsung lama dan penuh penderitaan bagiku. Aku berusaha untuk tenang, namun tak lagi bisa membaca ulang semua draftku. Lagian aku juga tidak mempersiapkan banyak amunisi. Satu-satunya amunisi yang kupegang ya…  draft skripsiku ini. Aku tidak sanggup keluar ruangan sidang kecuali untuk sholat dan ke labkom untuk mengedit sesuatu. Benar-benar nervous rasanya. Bukan gugup karena takut tidak bisa menjawab pertanyaan dosen, tapi takut jika salah satu penguji lagi-lagi berhalangan hadir. Menit-menit berikutnya kuhabiskan dengan menguntai kalimat kalimat doa pengharapan dan curhatan kepada sang illahi. Kuhabiskan halaman-halaman ksoong di belakang draft skripsi denagn coretan-coretan syair penghambaan. Ya,kepada siapa lagi aku bisa mengadukan hal ini. Tak ada orang di ruangan itu. Dan aku juga sudah tidak sanggup untuk berkeluh kesah kepada teman-teman di luar.

Setengah jam sebelum pukul 3, kukirim robithah untuk dosen-dosenku. Kudoakan kepada Allah agar segala urusan beliau lancar dan bisa hadir tepat pada waktunya. Di luar gerimis mulai bertaburan lagi, lambat-lambat mulai menjadi hujan. Ya Allah, kuserahkan semua skenario ini kepadamu. Hanya satu harapanku, walau apapun yang terjadi, aku ingin ujianku hari ini tetap terlaksana. Dan aku meyakini Allah akan mengabulkannya! Ya aku optimis bis aujian hari ini.

Pukul 3 kurang, penguji 2 ku datang dengan mantelnya. Aku terharu, beliau justru datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku mempersilahkan beliau masuk. Dan kemudian bergegas memanggil dosen pembimbing dan penguji 1 ku yang sedang rapat di lantai 1. Setelah mengkode pembimbing dari luar ruangan rapat, aku mengirimkan sms dan dibalas: Suruh ibunya nunggu dulu sebenar ya Aini…

Singkat cerita, akhirnya ujianku berlangsung tepat pada pukul 15.30. Arghhh… Bayangan mengerikan tentang penguji 1 yang akan bermuka masam terhadap panguji 2 sungguh diluar dugaan. Malah dosen-dosenku itu saling menyapa dengan akrabnya. Aku presentasi di depan, beliau-beliau masih sibuk ngobrol satu dengan lainnya. Dan demikianlah… Ujianku berjalan seperti air mengalir. Tidak terlalu banyak koreksi-koreksi perbaikan yang berakibat fatal, lebih banyak perbaikan dan masukan tentang bagaimana cara menampilkan hasil penelitian, memperbaiki format tabel dan memperdalam pembahasan. Bahkan penguji 2 lebih banyak menanyakan tentang BAB 1 yang tentu sudah kukuasai sejak lama dan sudah banyak ditempa dengan pertanyaan yang lebih sulit ketika sidang proposal sebelumnya. Tepat 45 menit, tidak sampai 1 jam, ujianku pun berakhir. Aku keluar ruangan dengan mengucap hamdallah. Menunggu para dosen berdiskusi memutuskan apakah skripsiku bisa diterima atau tidak. Tidak lama kemudian, aku kembali dipanggil dan dinyatakan lulus. Alhamdulilahirrabil’alamin….

Aku berbahagia pada sore yang dipenuhi hujan rintik-rintik itu, lebih bahagia ketika akhirnya aku kembali meminta maaf kepada penguji 1 dan beliau juga memohon maaf karena sudah marah-marah kepadaku tadi. Aku maklum, beliau adalah orang yang disiplin dan komit. Indah sungguh indah…

Kejadian hari ini membersitkan sejumput komitement dalam diriku untuk menjadi orang yang disiplin, selalu menghargai sebuah janji dan tidak akan memperberat urusan kaum yang lemah (dalam hal ini aku sebagai mahasiswa).

Terimakasih ya tuhan telah menghadiahkan ini semua untukku. Terimkasih Ama-Apa, untuk doanya, terimakasih untuk para dosenku, untuk teman-teman yang sudah memberikan semangat, dan tiba-tiba hadir di saat ujianku yang dipenghujung siang. Untuk bapak ibu staff kampus, untuk semua fasilitas yang telah diberikan. Terimakasih semuanya… ^^

***

Dan kemudian hambatan, rintangan menjadi sahabat yang berusaha untuk kujinakkan. Karena tak mungkin mereka kuusir dan kucegah dari cerita panjang jalan ini. Apalagi untuk menyerah dihadapan mereka. Karena aku tidak bisa menyerah untuk semua harapan dan impian yang sudah kugantungkan di depan mata ini sejak lama.

Untukmu kawan, selagi engkau berjalan, jangan pernah menyerah terhadap tantangan… 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s