Skenario-Nya

Ya sohib, ana muflish, alias bangkrut, alias kere.

Tapi selagi nyawa dikandung badan, saya tetap yakin pasti ada saja rezeki  yang didatangkan Allah. Allah kan maha kaya, iya gak??

Makanya ketika panitia Rapimnas gembar- gembor mempublikasikan tentang agenda Seminar Nasional yang merupakan rangkaian acara Rapimnas I (Rapat Pimpinan Nasional 1) FURKI yang kali ini dituan-rumahi oleh UNAND, serta memaksa mempromosikan kepada saya untuk ikut dengan iming-iming 2 sertifikat Nasional (*karena ada dua tema dan dua orang pemateri dahsyat), saya Cuma mengucapkan “insyaAllah dek”.

Ya, saya juga sangat ingin ikut seminar Nasional itu. Apalagi pematerinya adalah seorang profesor di bidang keperawatan yang didatangkan langsung dari Universitas Indonesia. Ada banyak ilmu yang ingin saya dapatkan di sana dan saya sama sekali tidak terlalu berminat dengan sertifikat itu. Toh nilai SAPS (Student Activity Performa System) saya sudah diakumulasikan dan sudah dikumpul beberapa bulan lalu ke Fakultas. Bahkan berkali-kali lipat sudah melebihi batas standart poin kelulusan SAPS *sombong* #gampar!

Namun…. ya itu. Kembali lagi ke masalah materi. Hiks… memang nasib per-dompet-an saya agak mengenaskan sebulan terakhir ini. Bukan karena saya royal dan membelanjakan ini – itu yang tidak berkejelasan, tapi sungguh semuanya demi memenuhi kebutuhan akademik yang gila-gila-an. Persiapan wisuda dan masuk profesi Ners bulan Desember nanti, apalagi bulan ini saya sudah mulai les bahasa Jepang di kampus. Bahkan semua list anggaran dana yang sudah saya susun dan ajukan kepada Papa dalam sebentuk proposal pun semuanya melenceng dari yang direncanakan. Banyak biaya yang membengkak. Walhasil besar pasak daripada tiang. Demi mencukupi kekurangan, saya memakai uang saku sendiri, karena jujur saya “segan” minta lagi kepada orang tua. Dan demikianlah… saya benar-benar berhemat saat ini. Uang 50 ribu begitu buanyaaaakk dan besaaarr rasanya saat ini.

Memikirkan cara untuk menghadiri seminar yang insertnya sebenarnya cukup murah *untuk skala Nasional dan 2 sertifikat sekaligus itu* cukup membuat bingung. Apa baiknya saya gak datang saja ya? Tapi apa kata dunia? Hal ini pasti akan mengecewakan adik-adik. Dan sebagai seorang senior yang baik dan benar sudah seharusnya saya mendukung setiap kegiatan kampus adik-adik di organisasi yang sudah membesarkan saya ini.

Waduh, saya bingung, ya hanya bingung tapi entah kenapa hati saya juga tidak terlalu cemas. Semacam ada keyakinan pasti ada solusi untuk tetap bisa datang ke seminar itu. Ya, saya gak mau menyerah Cuma gara-gara kere. Hiks hiks… ini cukup menampar-nampar dan miris rasanya. Selama ini rasanya masalah keuangan selalu berjalan lancar. Tapi sejak beasiswa terhenti, everything should “diakal-akali”.

Ya,saya hanya bisa berdo’a kepada Allah agar bisa tetap datang ke seminar itu dan tidak mengecewakan adik-adik saya. Pasti nanti ada jalannya.

Dan beberapa hari kemudian, H-5 seminar… Ketika saya seperti hari-hari biasanya mutar-mutar di kampus  tiba-tiba salah seorang panitia acara mendatangi saya dan….. ,” Kak Aini, kakak bisa jadi moderator untuk seminar nanti gak kak?? “

Waw!! Saya kaget, tiba-tiba diminta jadi moderator.  Itu rasanya seperti saya baru mendengar sebuah penawaran untuk mendapatkan tiket gratis ke seminar Nasional. Tapi saya tidak langsung memutuskan dan sok basa-basi  bertanya ,”untuk narasumber yang mana dek”.  Karena ada dua orang narasumber yang didatangkan untuk seminar itu. Yang satu seorang dokter ahli hypnoterapi, dan satu lagi seorang profesor di bidang keperawatan.

“Prof. Achir Yani kak”

Syalalalalala… Rasanya punggung saya baru saja ditumbuhi sayap yang membuat saya merasa terbang cepat menuju seminar…. hahaha

Hmmm…. Agak sok jual mahal  sedikit berstrategi, saya tidak langsung memutuskan untuk bersedia. Karena kebetulan ketika itu sedang ada urusan yang membuat saya sedikit terburu-buru, saya akhirnya mengatakan kepada panitia ,”Akan kakak fikirkan dulu dek. Tapi sepertinya kakak mau, nanti kakak sms lagi ya!” Sambil melambaikan tangan kemudian berlalu. Aishhhhh,,, asli ketika itu rasanya sok paten sekali gaya saya. Tapi sebenarnya saya hanya sedikit bereuforia dan tidak ingin tergesa-gesa, karena ini adalah agenda yang cukup besar dan butuh persiapan yang matang juga. Tapi sejujurnya hati saya berbahagia. Ya, nanti akan saya beritahukan kepada mereka bahwa “saya mauuu bangettt jadi moderator hehehe”.

Begitulah… sorenya, ketika berada di parkiran, adik panitia mendatangi saya lagi dan tanpa keraguan saya menjawab,”insyaAllah bisa”.  Hehehehe, saya bersyukur sekali. Allah sungguh baik menggiring saya menjadi moderator agar bisa ikut seminar dengan gratis walau tidak dapat setifikat dan seminar kit. Hahah, tak apalah, yang penting kan ilmu nya ya gak??

Dan sejak itu, jika ada panitia pubdok atau tim sukses pencari peserta mendatangi saya kembali mendesak untuk ikut seminar, saya dengan mantabh menjawab ,”insyaAllah datang dek!!!” Ketika diminta agar segera membayar tiketnya, dengan malu-malu sambil menahan ketawa saya berkata,”InsyaAllah kakak jadi moderator dek keh keh keh keh keh”.  Namun berita saya menjadi moderator cukup membuat kecewa  anak-anak  danus, katanya mereka kehilangan 50 ribu rupiah gara-gara kak ‘Aini jadi moderator…. aisshhh dahhhh…. segitunya….hehehe….

Oh iya, berbicara tentang menjadi moderator seminar berskala Nasional yang pesertanya juga dari berbagai institusi keperawatan dan Universitas yang ada di Indonesia ini saya yakini juga bukan sebuah kebetulan. Karena ini sempat saya mimpikan dan do’akan kepada Allah di waktu yang lampau agar Allah memberikan saya  kesempatan untuk menjadi moderator di sebuah seminar, talkshow atau apapun itu namanya dan mendampingi seorang narasumber yang luar biasa. Sehingga saya bisa merasakan aura menjadi narasumber seminar berskala besar jika kelak saya yang harus berdiri disana sebagai pemateri.  🙂

Rasanya sungguh luar biasa… Apalagi Prof.Yani orangnya sangat ramah, friendly, dan baik sekali. Rasanya bisa dekat dengan orang hebat menambah energi positif  berkali-kali lipat dalam tubuh. Apalagi mendengarkan materinya secara langsung dalam jarak yang dekat, memperhatikan cara dan gaya bahasa sang profesor… Aiihh… sungguh aku ingin seperti itu juga ya Allah.

Ah, sungguh indah skenario yang Allah ciptakan. Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah hal kecil dan tidak begitu penting. Tapi bagi saya ini adalah sebuah pencapaian yang membuat saya semakin gigih untuk terus bermimpi dan merentas semua impian yang sudah saya tulis, doa’akan, dan terbersit di fikiran ini.

Mungkin ini kisah yang agak memalukan :p namun satu hal yang ingin saya beritahu kepada kawan semua, ciptakanlah berbagai macam keinginan, prestasi yang ingin diraih, serta cita dan mimpi. Dan jangan pernah berhenti untuk meraihnya. Karena apapun bisa terjadi jika Allah suda mengkehendaki. Suatu saat Ia akan menjawab mimpi, do’a, dan usaha kita dengan cara yang sama sekali tidak kita duga. ^^

#nb: psstttt…. dan sampai detik ini saya masih bangkrut kawan-kawan. Saya sedang memikirkan strategi agar bisa segera mengambil rezeki yang sudah disiapkan Allah dan bertahan hidup setidaknya sampai akhir bulan.  ~_^

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, CERPEN^^, KamPus..., Keperawatan, kisah aini, kisah klasik untuk masa depan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s