Warna Tanggung Jawab…

Hai blogger semua… Mau kukisahkan sesuatu lagi gak???

Akhir-akhir ini memang Aini sedang bersemangat-mangatnya menyebar semangat kepada para sahabat.

Kali ikita cerita tentang apa ya??

ha… ini saja.. tentang karate. Hehe. iya… iya… Aini bukanlah seorang atlet karate, ataupun seorang yang berprestasi di bidang itu. Namun 2 tahun terakhir ini bergelut latihan di dojo untuk bisa menguasai seni beladiri yang satu ini.

Dan sampailah kepada puncaknya, ketika tanggal 27 Oktober lalu, senpai dengan penuh pertimbangan dan pastinya setelah memberikan beberapa kali ujian kenaikan sabuk mempercayakan Ni sebagai asisten pelatih senpai. Ya dengan sabuk yang akhirnya Ni kenakan sekarang membawa Ni kembali ke tingkatan yang lebih rendah. Kenapa Ni katakan seperti itu? Karena dengan melatih kohai kohai sama artinya Ni memperdalam lagi kemampuan karate mulai dari dasar. Dengan begitu, Ni dituntut untuk melakukan gerakan lebih benar, lebih mendalam. Memang kami tidak akan mencoba meraih prestasi dengan  mengikuti event-event pertandingan seperti dojo-dojo lainnya. Tapi setidaknya kami akan mencoba untuk berprestasi dengan cara kami sendiri. “Pencapaian (achievement), peningkatan (improvement), atau perubahan menuju sesuatu yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Apapun itu, sekecil apapun itu, asalkan lebih baik dari kondisi semula maka itu adalah prestasi.” (Danang, A.P). Ya kan?

Akhir-akhir ini senpai juga lebih melankolis dan banyak memberikan wejangan kepada kami. Tentang nasib dojo ke depannya. Ya, dojo muslimah kedokteran memang tidak selalu berjalan baik. Banyak anggota domuske yang berangsur-angsur mengeliminasi diri mereka. Ya, bukan dikeluarkan, tapi banyak yang mengundurkan diri, entah itu karena alasan akademik, dinas profesi, lelah, tidak diizinkan, dan sebagainya. Gelombang pertama domuske yang awalnya berjumlah lebih dari 30 orang, akhirnya cuma bertahan menjadi 2 orang di sabuk biru. Dan akhirnya baru satu yang mengikuti ujian kenaikan sabuk coklat. Demikian juga dengan gelombang kedua dan ketiga. Semakin berkurang.

Jujur, aku juga mencemaskan kondisi ini. Begitu juga dengan senpai. Senpai sangat berharap domuske tidak mati di tengah jalan. Kami diminta untuk tetap aktif melanjutkan dojo kedokteran ini. Mempertahankan sesuatu memang lebih susah daripada menciptakannya. Begitu yang senpai selalu bilang. Dan sudah banyak dojo-dojo karate yang akhirnya mati suri. Kami semua tidak berharap hal itu juga terjadi di domuske.

Oleh sebab itu, senpai memberikan wejangan kepada kami berhubung beliau akan mengambil cuti beberapa bulan kedepan agar kami tetap berada di sini. Membantu melatih kohai-kohai baru. Apalagi sekarang sudah ada penerimaan kohai baru. Senpai sangat aware sekali dengan absensi dan kedatangan kami para senior. Hm.. memang, kalau bukan kita yang akan mempertahakan sesuatu yang sudah kita miliki sekarang? siapa lagi!!

Karate tidak dinilai dari warna sabuk. Kalau sekedar untuk keren-kerenan memakai sabuk berwarna, ya tak perlu susah-susah latihan, beli saja di toko mau sabuk berwarna apa. Mau langsung dapat warna hitam juga bisa. Tapi apakah lantas warna sabuk menjamin kita untuk bisa paham dan bisa melakukan teknik karate dengan baik? Pastinya tidak! Sabuk apa yang kita pakai akan ada tangung jawabnya. Dan begitulah, sabuk berwarna yang sedang kami kenakan saat ini juga membuahkan tanggungjawab yang ditopangkan di pundak kami.

Dan saat ini, senpai memberikan nama untuk tanggung jawab itu dengan : Tetap lah datang latihan kalau kalian punya kesempatan demi keberlangsungan dojo kita, untuk mempertahankan dojo muslimah kedokteran ini!

Sekarang kami memang sudah harus mengubah mindset. Bukan kenaikan sabuk lagi yang akan menjadi motivasi kami untuk datang ke dojo. Tetapi menjadi sebuah misi yang besar bagi kami untuk tetap bisa mempertahankan dojo ini.

Dan biarkan kelak kita bisa mengukir sejarah dan kenangan bahwa pernah di suatu masa lampau, kita berjuang untuk mempertahankan ini semua. Dan ketika itu, yang kita harapkan adalah kondisi yang lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, Cuap-Cuap Aini, Karate. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s