Suatu Masa Bernama “Gerontik”

Rasanya sudah lama sekali tidak ngeblog…. hahaha #halah #gaya!

Padahal baru beberapa hari pun…

Saat ini Aini nulis tulisan di Sicincin. Tepatnya di PSTW (Panti Sosial Tresna Werdha) yang menampung para lansia.

‘Ngapain Aini disini???

Yap, finally, like I say, I start the next cycle of my  life…. Continue my study to be a professional islamic Ners.

Stase yang sedang Ni jalani saat ini adalah gerontik. Jika teman-teman searching di gugel, gerontik ini bisa disederhanakan bahasanya menjadi “keperawatan orang tua/lansia”. Dan untuk itulah kami berada di sini. Menghabiskan 10 hari kedepan untuk merawat orang tua yang rata-rata berumur 50 tahun ke atas.

Seperti yang sudah pernah Ni bahas 1 tahun yang lalu di dalam postingan INI, kali ini pun banyak kisah kehidupan yang kami dengarkan dari para lansia di sini. Beberapa diantaranya masih sama mengharukannya, dan lainnya terasa begitu sangat berhikmah.

Ya Kawan, sekali-kali ada baiknya kalian berkunjung di sini. Menyaksikan sendiri bagaimana gambaran kehidupan manusia pada usia lanjut yang mungkin kelak akan kita hadapi.

Tidak semua orang tua yang tinggal di sini merasakan kebahagiaan, namun ada juga yang bahagia tinggal di lingkungan panti yang pada umumnya dihuni oleh teman-teman mereka yang sebaya. Sebagian besar cerita yang akan kalian dapat jika menanyakan alasan mereka tinggal di panti pastilah terkait dengan “anak” “keluarga” “konflik”, and stuff like that.

Seperti dua orang pasien yang kukelola dan sudah 2 hari ini kami berinteraksi. Beliau-beliau berdua ini masuk ke Panti sosial ini diantar langsung atau “dicampakkan” oleh anak mereka sendiri. Bukan, bukan karena anak mereka tidak mampu atau berekonomi lemah sehingga tidak bisa mengurusi keperluan orang tuanya, bahkan anak-anaknya hidup dalam kesejahteraan. Namun, karena keegosisan, ketidakpeduliaan, ketidak ada waktu-an untuk mengurusi orang tua mereka. (tolong dokoreksi jika Ni mengambil istilah yang tidak tepat).

Ketika Ni bertanya kepada salah satu lansia,”Sebenarnya apa sih yang Bapak inginkan dari anak bapak?”

“saya hanya ingin perhatian, saya ingin dimanja. Sejak kecil saya memanjakan anak-anak. Tapi ketika saya tua, lihatlah… bahkan saya meminta makan saja, ia memaki dan memarahi saya. Saya seperti tidak punya anak saja. Ia ada, tapi tiada. Jadi lebih baik saya tinggal di sini. Makan tercukupi 3 kali sehari”

Sedangkan Bapak yang lain mengatakan,”Anak lelaki saya baru menikah. Ia akan tinggal di rumah keluarga istrinya. Katanya tidak enak jika saya ikut dia. Daripada saya menyusahkan, anak saya sudah mengatur saya untuk masuk ke panti ini”.

“Apakah Bapak senang tinggal di sini?”

“Bagaimana saya bisa senang, saya sakit tidak ada yang mengurus di sini. Walau tiap bulan saya dijenguk, tapi saya ingin berada di samping anak saya”

Nenek yang lain mengatakan,”Lebih baik saya tinggal di wisma ini. Saya tidak dimarahi terus sama anak-anak saya. Di sini saya punya banyak teman. Buat apa tinggal sama anak yang tidak perhatian sama sekali kepada orang tuanya”

Demikianlah….

Amat banyak kisah bagaimana para orang tua ini bisa tinggal di panti ini.

Kawan…

Menyaksikan para orang tua ini menjalani hari-hari tua mereka di panti sosial sungguh sangat membuat hati tersentuh. Mungkin di luar sana kita bisa melakukan berbagai aktivitas. Ke kampus, melaksanakan berbagai agenda, jalan-jalan, bermain bersama teman, searching di dunia maya, mengunjungi banyak tempat, mengenal berbagai macam orang… amat berwarna dan bervariasi.

Tapi di sini, waktu berlalu “sama” dari hari ke hari. Yang ada hanya ke-mono-an, waktu yang terasa berjalan lambat. Hidup dengan teman senasib, dengan fungsi tubuh yang semakin lemah dan banyak penyakit yang mulai menggerogoti.

Dan untuk para anak muda, dan semua umat manusia yang bernama “anak” dan masih memiliki orang tua, tancapkanlah tekad dalam dirimu untuk memberikan pengabdian kepada kedua orang tuamu sampai masa “purna”nya. Mereka, para orang tua yang sudah mencapai tahap gerontik memang akan berevolusi kembali seperti “anak kecil”. Mereka amat perasa, berhati sensitif, ingin dimanja, mendapatkan perhatian… karena fungsi tubuh mereka tak lagi sama seperti mereka muda. Ingatlah betapa orang tua sangat berjuang membesarkanmu. Jangan sampai kita menyia-nyiakan beliau justri ketika beliau amat sangat membutuhkan anak-anaknya.

Astagfirullahaladzim…

Teman, sejujurnya postingan ini juga untuk memperingakan diri Ni sendiri. Bagaimanapun Aini juga seorang anak yang masih sangat bergantung kepada orang tua.

Setidaknya, Ni mulai menancapkan tekad, untuk selalu memberikan perhatian, merawat, dan kalau bisa akan membawa kemanpun orang tua Ni ingin pergi….

Amin ya Rabb…

demikian…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, Cuap-Cuap Aini, Islamic Nurse. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s