Kemana…Kemana…Kemana… #Bukan,ini bukan lirik Lagu Ayu Ting2!! (*pofesi gerontik on the story)

Setelah mengharu biru tinggal 10 hari di panti sosial yang menampung banyak lansia, akhirnya kami dilempar ke Puskesmas daerah Nanggalo sana. Disana pun kami juga akan mencari lansia untuk dikelola selama 2 minggu ke depan.

Maksud dikelola di sini adalah untuk dilakukan pengkajian, mencari permasalahan kesehatan dan keperawatannya, untuk kemudian dirumuskan tindakan-tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mengurangi berbagai permasalahan lansia ini. Seperti yang kita ketahui bersama, semakin tua umur manusia, akan semakin banyak permasalahan kesehatan yang menghampiri. Hal ini terjadi tak lain dan tak bukan dikarenakan fungsi tubuh yang semakin melemah, dan kebanyakan merupakan akibat, manifestasi dari kebiasaan hidup yang tidak sehat sejak muda dahulu kala.

Demikianlah…

Kami ditugaskan untuk mencari dua orang lansia untuk dikaji. Dan untuk itu, kami langsung ditugasi untuk menemui kader lansia yang ada di RW yang sudah ditetapkan oleh puskesmas. Disinilah kegalauan itu terjadi. Karena tidak ada pembimbing lapangan yang menemani kami, jadilah kami secara mandiri menemui kader lansia. Dan kader lansia dengan berbaik hati memberikan kami sederet nama dan alamat lansia yang sekiranya bisa diambil sebagai pasien.

Secara berombongan dan selalu memakai prinsip “kekompakan” kami beriringan mencari alamat lansia-lansia yang suda di-list oleh kader lansia.

Jalannya?? Subhanallahh… jangan ditanya. Kompleks perumahan yang terbilang padat dengan banyak gang dan belokan. Huh, rasanya seperti sedang memutari labirin, tersesat kemana-mana demi mencari alamat yang dituju. Sudah 2 hari ini kami berputar-putar mencari pasien lansia. Dan lagi lagi demi menjunjung prinsip “kekompakan, sakit senang kita bareng-bareng, kalau lapar kita makan bareng juga”, pada akhirnya kami akan terus berjalan sampai seluruh member kelompok kami mendapatkan pasiennya masing-masing.

Tidak lantas, setiap lansia yang kami datangi mau menerima mahasiswa abal-abal seperti kami. Banyak juga yang akhirnya menolak untuk kooperatif. Padahal kami niatnya baik kan ya? Karena selama 2 minggu penuh kami akan mengontrol kesehatan beliau-beliau ini. Mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada, kemudian mencari cara untuk menghilangkannya. Berbagai jenis penyuluhan juga akan kami berikan sekiranya dibutuhkan nanti. Namun apa daya, jika calon pasien tidak bersedia, maka haruslah kami mencari pasien lain yang dengan rela dan senang hati mau menerima kami yang lucu dan imut ini #hah?

Berbagai macam dan karakter lansia sudah harus kami kuasai. Seni menarik perhatian kakek-nenek itu haruslah dijalankan semaksimal mungkin. Kalau istilah orang Minang sini,”Harus pandai bapandai-pandai”. Bukan hanya nada suara dan mimik wajah yang harus kita jaga. Tetapi juga pemilihan kata dan topik pembahasan yang perlu kita angkatkan.

Kuberitahu kawan, lansia pada umumnya memang suka “ngobrol” ngalur ngidul. Apalagi jika kita sudah mengungkit riwayat masa lalu beliau, maka sedikit banyak akan mulai berkisah kesana kemari. Dan sebagai seorang anak muda, kita harus tabah dan sabar menjadi pendengar yang baik. Tidak hanya riwayat masa lampau, beliau-beliau ini juga suka banyak bertanya lo…. untuk kemudian menyambung dengan berbagai petatah-petitih terutama kejayaan masa lampau.

Ya,,, hal ini perlu kita waspadai agar tidak semakin berlarut-larut. Istilah kerennya “post power syndrom”. Tapi tidak semua lansia juga yang seperti itu. Yang tertutup, pendiam, dan ogah diganggu-ganggu juga ada. Namun begitulah… secara umum, untuk menghadapi lansia, haruslah dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. Karena lansia juga cenderung ,”sensitif” “perasa” “emosian”, ad stuff like that. Makanya tidak jarang banyak anak yang berkonflik dengan orang tuanya ketika beliau sudah mencapai tahap lansia. Dan pada akhirnya banyak yang tega membuang orang tua nya ke panti-panti sosial karena tidak sanggup merawat ornag tuanya sendiri, seperti cerita yang pernah kutulis di postingan beberapa waktu lalu.

Hmm… ini masih sebagian kecil dari tahapan profesi yang harus kulalui kawan. Akan banyak jenis manusia yang harus kuhadapi nanti. Mulai dari bayi baru lahir, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dewasa tua, lansia, sampai manusia yang sudah meninggal dengan berbagai karakter manusia seperti pemarah, sensitif, baik, ramah,egois, judes, tidak sabaran, sampai manusia dengan gangguan jiwa! Semuanya harus kupelajari dengan baik jika dan hanya jika aku ingin menjadi seorang perawat yang profesional.

Oke Aini,,, tetap semangat! Jangan mudah putus asa! Ingat setiap batu sandungan pasti ada pemecahannya karena Allah tidak akan meninggalkan hamba-hambanya yang berdoa dan bertawakal! Spirit! Ganbate ne! Chayoo! Fighting!! (*menyemangati diri sendiri)

#kos-kos-an,

By: Nur’aini, S.Kep (tamat 4 tahun 1,5 bulan!) <<<– penting ya?? (=..=)”

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kemana…Kemana…Kemana… #Bukan,ini bukan lirik Lagu Ayu Ting2!! (*pofesi gerontik on the story)

  1. fila says:

    assalamu alaikum ukhtiiiii
    kunjungan pertama
    Fila

  2. ikrimmah says:

    itu namanya yang koass gitu kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s