Aku, Tempat Fotocopyan, dan Orang-orang…

Aku, Fotocopyan, dan orang-orang…

Sesore ini aku memiliki sebuah urusan fotokopi-memfotokopi di sebuah tempat fotocopy di jl.Proklamasi. Ya, biasalah demi masa depan pertugas-an seorang mahasiswa sarjana semester 9 :p

Sembari uni-uni perfotocopyan menyelesaikan tugasnya, aku pun dengan seksama menghidupkan MP3 dari HP Nokia #bukanN70 L Sembari mendengarkan musik melalui headset, aku memperhatikan beberapa ornag yang lalu lalang di depanku. Beragam bentuk, usia, pekerjaan, dan berbagai macam keperluan pastinya.

Entahlah,menjadi pengamat gerak gerik manusia sangatlah menyenangkan untuk mengusir kebosanan saat ini.

Orang pertama yang tiba-tiba menarik perhatianku adalah seorang polisi yang juga memiliki kepentingan kopi-kopian di tempat fotocopy itu. Dan yang menjadi pusat perhatianku adalah pistol yang bersarang di pinggangnya lengkap dengan 4 butir peluru yang terlihat sengaja dipamerkan karena sarung peluru itu transparant. Sepertinya memang keren, tapi entah kenapa, di mataku itu lterlihat seperti memamerkan arogansi aparat kemanan yang satu ini.

Aku ingat, tadi beberapa orang teman sempat mempergunjingkan beliau-beliau ini di puskesmas. Jadi ceritanya temanku itu curhat tentang kekesalannya dengan polisi yang menilang Cuma gara-gara ia lupa menghidupkan lampu di siang hari. Hehe, ini cukup menarik karena temanku itu juga anak seorang anggota kepolisian, dan itu adalah kali pertamanya ia ditilang dan harus “mengeluarkan uang”. Ia kesal, aku juga kesal #nahlo… Ya ya, selama tinggal di Padang aku pernah 3 kali ditilang dan menurutku untuk ukuran “lupa menghidupkan lampu di siang hari” tidak lah terlalu fatal dan seharusnya beliau-beliau itu mengingatkan saja tanpa harus didenda. Kan tidak semua orang yang tahu tentang peraturan menghidupkan lampu di siang hari ini (*dan tidak semua orang yang mengerti rasionalnya apa).

Tetiba aku juga ingat, sebelum berangkat ke tempat fotocopyan ini aku sempat ragu harus memakai helm atau tidak, karena ruteku hanya menyeberang jalan besar dan selebihnya adalah jalanan kompleks perumahan biasa. Ahh… syukurlah, aku masih waras dan sadar kalau aspal itu keras. Apa yang akan terjadi jika aku tidak memakai helm dan bertemu dengan polisi lalu lintas ini di tempat fotocopyan??? *sepertinya ini tidak terlalu penting untuk dipikirkan (=..=)”*

Dan hal tersebut masih menjadi tanda tanya bagiku sampai akhirnya polisi itu pergi dan amatan kedua mataku kulabuhkan kepada seorang uni-uni yang berjalan di depan tempat fotocopyan, berpakaian sederhana, membawa sebuah map plastik berjejaring dengan isi kertas kertas entah apa dan sebuah tas “anak perempuan” yang disandang di lengan kiri. Ah, aku selama ini tidak begitu suka dengan jenis “tas anak perempuan” seperti punya uni-uni itu. Karena tidak bisa dibawa “berjuang” (*ini istilahku, dan aku tidak bisa mengambarkan perjuangan seperti apa yang kumaksud disini :p) dan tidak bisa diisi berbagai macam barang. Intinya, aku adalah pecinta ransel.

Melihat uni-uni itu, timbullah rasa kasihanku. Sepertinya ia begitu lelah berjalan ke-sana kemari. Seperti seorang sarjana yang baru lulus dan saat ini galau memikirkan lahan pekerjaan yang belum kunjung ditemukan. Tetiba otakku langsung memiliki pikiran mau jadi apa aku setamat kuliah nanti? Ya Allah, mudahkanlah rezeki uni-uni itu dan mudahkanlah bagiku untuk mendapatkan lapangan pekerjaan kelak ketika aku sudah menyelesaikan semua ini. Aminn…

Aku masih memikirkan uni-uni itu sampai ia beranjak menjauh ke seberang jalan untuk menunggu angkot. Sampai kulihat seorang nenek berjalan perlahan menuju tempat fotocopy-an. Oh Tuhan, kelak ketika manusia beranjak menua, semua fungsi tubuh akan melemah. Dan mungkin aku, kamu, jika Allah mentakdirkan kita beranjak tua, akan berjalan perlahan dan tidak akan secepat sekarang. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesehatan ketika menua kelak, kesehatan untuk kedua orang tua kita, keluarga dan saudara-saudara kita, Semoga kami tidak renta dalam keadaan sakit-sakit-an ya Allah…

Nenek itu tengah menjumpai suaminya yang sedang memfotocopy. Kali ini perhatianku beralih ke pasangan lanjut usia ini. Kulihat wajah sang nenek sangat penyabar dan lembut. Dan sang kakek kupikir beraut wajah tegas. Kolaborasi sifat yang bagus menurutku. Kulihat nenek itu menawarkan tas tangannya untuk menyimpan kertas-kertas fotocopyan kakek. Tapi kakek itu menolak dan memilih memegangnya sendiri. Haha…. seperti dugaanku, nenek ini tidak marah dan memang sangat penyabar. Selanjutnya kakek dan nenek ini berlalu menuju angkot. Hati-hati di jalan kek, nek, semoga beliau-beliau ini menghabiskan sisa usia dalam keharmonisan sampai ajal menjemput. Amin ya Allah…

Dan kemudian efek pengkajian mata ku ini beralih kepada dua orang petugas klinik kesehatan (*menurutku begitu karena mereka memakai seragam putih-putih) yang hendak menjemput potocopyan. Kupikir mereka adalah pegawai yang baik. Tetiba aku kagum kepada mereka yang sepertinya bekerja degan sangat rajin dan loyal. Walau aku tahu, banyak orang yang sepertinya berambisi untuk bisa bekerja di tempat yang lebih baik dengan kedudukan lebih tinggi dan salary yang cukup, namun jarang yang bisa bekerja ikhlas dan komit dimanapun posisi nya diletakkan. Hah, sebuah do’apun mengalun dari hatiku: Semoga kelak aku menjadi seorang pekerja keras yang bertanggung jawab dan loyal.

Dan terakhir, pandanganku tertumbuk pada dua orang gadis berjilbab lebar yang sedang berdiri di depan minimarket Singgalang. Sepertinya sedang menungu seorang kawan yang berbelanja di dalam. Keduanya terlihat manis dari seberang jalan (?) #heheh #evilLaugh. Tipe-tipe mahasiswi yang rajin kuliah, rajin ikut kajian, aktif organisasi, suka mendengar nasyid, murotal, dan pergaulannya terjaga. Dan seperti dugaanku mereka memang menunggu seorang kawan yang juga sama lebar jilbabnya dan berembuk untuk kemudian memesan teh poci di depan Singgalang. Tetiba aku teringat tentang “kita” kawan!.

Aku ingat kita dulu juga seperti itu. Jalan bersama, jajan bersama, kompakan mau beli apa, dan banyak aktivitas yang dahulunya kita lakukan secara berjamaah. Aku rindu dengan masa-masa itu. *berkaca-kaca sambil mendengarkan musik*

Ah sudah lah… Aku berhenti melamunkan tentang kita karena bahan-bahanku sudah selesai di kerjakan uni uni photocopy.

~

Sungguh banyak hikmah yang terdapat di sekeliling kita. Begitu banyak cerita yang disuguhkan oleh sutradara alam untuk kita semua. Manusia yang begitu unik dan penuh rahasia. Duduk, merenunglah sejenak. Lihat dengan mata, dan tentu mata hati. Mungkin engkau bisa memikirkan sebuah cerita unik tentang mereka! Tentang kita… Dan menarik berbagai hikah dari sana.

Aini: Pengamat jalanan (?) #eeh

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s