#Kisah2 , Menanti sang Jabang Bayi


Diary, Catatan 5 Januari 2012

Ini kisah tentang keponakan pertamaku, si Rafif Naufal Fadhillah, yang namanya sudah kutemukan sejak ia berumur 7 bulan di kandungan ibunya. Nama *yang menurutku cantik untuk ukuran bayi lelaki* ini kutemukan dari hasil penjelajahan dan “mausai-usai” buku nama-nama anak di GM (Gramedia Padang) bersama dua rekan menggajeku di GM Mbak dan Nami. Walau sempat dipelototin sama mbak-mbak yang mengawasi buku, akhirnya bisa menemukan beberapa nama cantik juga 😀 . Aku sendiri tidak tau kalau nama yang dipilih emaknya si Rafif ini adalah hasil pencarianku di GM sampai akhirnya kakak iparku mengatakan ini  salah satu nama yang pernah kukirim ke uda via sms.  ihiyyyy #bukanIniYangInginKuceritakanSebenarnya. (=..=)”

Berkat kejadian menunggu kelahiran Rafif ini, aku jadi semakin menyadari posisiku sebagai seorang wanita dan sebagai seorang sarjana keperawatan *nah lo*. Sama seperti emak dan bapaknya, aku juga turut berpusing-pusing ria  (gimana gak pusing tiap sebentar Bapaknya Rafif nelfon konsul perkembangan sang istri) memikirkan proses kelahiran Rafif sampai akhirnya aku yang masih trauma dengan segala sesuatu bernama “maternitas” kembali membuka buku Obstetry karangannya Oom William untuk memastikan teori-teori yang kusampaikan ke uda *untuk menenangkan dirinya yang cemas menunggu kelahiran anak pertama* adalah teori yang benar sesuai petunjuk dari buku kedokteran.

Awalnya pada tanggal 31 Januari 2010, tetiba ada semacam cairan yang yang kukira adalah ketuban pacah dini sehingga membuatku panik dan menyuruh uda untuk segera ke RS. Tapi entah cairan apa itu yang jelas itu bukan tanda-tanda persalinan maka berguguranlah euforia prediksi punya anak yang lahir di tanggal 1 januari, tahun baru masehi. Jadi malam yang konon kabarnya disebut malam tahun baru itu aku kelayapan di jalanan mencari berbagai kebutuhan di RS walau berakhir dengan sedikit kekecewaan karena belum bisa menggendong si kecil.

Dan jeng jeng jeng..akhirnya 5 Januari 2012, itu anak bayi lahir. Setelah menunggu hampir 24 jam lamanya. Yap, kakakku itu menahan sakit kontraksi persalinan sekali 15 menit hampir 24 jam. Sebelum dilarikan ke RS, kakakku itu sempat transit di kos-kos-anku. Berhubung kosku cukup dekat dan dengan sekali gas mobil sudah bisa sampai *halah.

Aku yang melihat emak Rafif meringis kesakitan gak tega memaksa uda untuk langsung ke RS. Maka kami berbondong bondong menuju RS pukul 2 dini hari itu. Demikianlah… Ba’da ashar keesokan harinya, Aku sudah nongkrong di ruang persalinan, menunggu proses persalinan Rafif sembari tanganku sesekali gatal pengen ngebantuin bidan yang kerjanya sendirian. Kebetulan dokter obgyn langganan kakak lagi di ruang operasi. Alhamdulillah Rafif lahir normal walau terlilit tali pusat di sekitar leher. Aku cukup berbangga hari itu karena bisa menyaksikan proses persalinan Rafif secara langsung. Sensasinya beda dibanding ketika menyaksikan persalinan orang lain ketika dinas di kebidanan. FYI aku menjadi orang pertama di keluarga kami yang melihat Rafif pertama kali karena Bapaknya sendiri kagak sanggup ngelirik. Huahaha…. Senang sekali rasanya lihat Rafif tiba-tiba ngeloncat nongol dan menangis tersedu-sedu. Tangisannya kecil dan lucyuu… ^^ #lumayanBuatBekalProfesiMaterBesok 🙂

Dan demikianlah… akhirnya aku menjadi seorang ibu *nah lo* untuk pertama kalinya. Ya, Rafif jatuhnya menjadi anakku, cucu pertama Ama&Apa, anak pertama penyambung deretan ranji berikutnya dari silsilah keluarga kami. Kelak aku akan menyuruhnya memanggil ummi atau bunda kepadaku #caelahh sedaaapp…

Hikmah dari kejadian ini setidaknya menyentilku kembali untuk semakin sayang kepada Ibuku. Apalagi konon kabarnya aku adalah anak Ama yang paling lama dan susah dilahirkannya karena ukuran batok kepalaku yang besar #hah??

Mama Daisukiiiiii 🙂  #pelukAma

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s