Jenazah Pertama Itu…

Hari ini adalah dinas malam pertamaku. Iya benar ini dinas malam pertamax sodara sodara!!! Empat tahun kuliah di keperawatan baru kali ini aku mendapatkan jatah dinas malam. Dengan penuh kesungguhan aku mempersiapkan semua yang kubutuhkan untuk dinas malam pertamaku. Mulai dari 1 bungkus roti kecil snack malam beserta 1 liter air mineral, dua pasang handscoon dan satu buah masker untuk melakukan tindakan.

Tepat pukul 8.30 malam aku sudah mengisi absen di counter perawat. Cukup cepat untuk ukuran seorang mahasiswi yang akan dinas malam. Maklum, malam pertama dinas malam. Jadi aku tidak ingin mengambil resiko terlambat kali ini.

Di Nurse station sudah ada 4 orang rekan sejawat lain yang dinas sore. Setelah saling menyapa dan berbagi kabar tentang pasien, salah seorang adik rekan kerja dari Poltekes menyampaikan kabar duka ada seorang pasien DM (Diabetes Melitus) yang meninggal  di R.17 Maghrib tadi, bernama Bapak Samsul Bahri.

“Apa???!!?? Bapak Samsul Bahri yang kemaren kakak injeksi dek??”, Tanyaku terkejut.

“Bukan kak, itu Bapak Hasan Basri. Ini pasien baru masuk 2 hari yang lalu”

“Oo…. Berarti belum ketemu ketika kakak dinas ya. Kakak kemaren kan libur”

Sedikit lega. Aku tidak bisa membayangkan jika pasien yang aku bantu langsung menginjeksikan obatnya meninggal setelah itu.

Dan adegan berikutnya adalah keisengan teman sejawatku yang lain yang dengan noraknya menakut-nakuti kami yang dinas malam.

“Eh nanti yang mengantar jenazah ke bawah kalian yang dinas malam ya. Soalnya kami yang dinas sore udah selesai jam dinasnya”

“Helloooww…. Kami dinas malam 3 orang cewek semua loh”

“lah trus kenapa??? Kan ada keluarga pasien juga”

“Heh… iya lah…”

“Eh Eh… tapi nanti hati-hati ya pas naik lift. Biasanya itu lift sering macet kalau malam. Nanti kalau macet, pencet bel darurat aja” *mulai aksi penakutan”
“Ya … ya…” *cuek*

“Trus kalau mau masukin alat ke R.9 jangan sendiri-sendiri. Rame-rame gitu… Di sana kan ada penunggunya”
“Makasiiihh yaaa… atas informasinya”
Sebenarnya aksi temanku ini tidak lah berpengaruh pada kadar takut yang kumiliki. Ya setidaknya rumah sakit ini memiliki lampu yang terang dan tidak setemaram suasana sekolah ketika kami pembayatan Pramuka ketika SMA. Dan apa itu kamsudnya menakut-nakuti haa??? *jitak*

Akhirnya teman-teman dinas sore pulang. Mereka yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan tega membiarkan kami  3 anak gadis yang beresiko besar untuk disuruh mengantar jenazah ke bawah. Benar saja. Aku dan seorang teman dinas malamku disuruh Uni perawat mengantar jenazah itu ke bawah menuju ambulance.

Jenazah pertama yang kuantar! Ya… seumur-umur dinas di RS inilah tugas mengantar jenazah pertama yang kudapatkan.

Dengan memberanikan diri, akhirnya kami menjemput jenazah ke ruangannya yang sudah dikerumuni keluarga. Suasana sedih dan haru segera menyeruak masuk. Jenazah Bapak Samsul Bahri sudah ditutupi kain panjang. Ah… ternyata disini ruangannya. Kupikir  yang meninggal bukan di ruangan ini. Sehingga ketika overan tak sempat kutengok.

Hmm… tunggu dulu. Itu semacam kenal dengan wajah anak Bapak Samsul Bahri ini. Ah… tidak tidak mungkin hanya mirip. Di dunia ini begitu banyak orang yang memiliki kemiripan wajah dan nama. Dengan mengumpulkan keberanian kami berdua dan dua orang keluarga Bapak Samsul Bahri mendorong brankar tempat jenazah ke lift. Dan sesaat sebelum lift ditutup, aku akhirnya benar-benar mengenal salah seorang keluarga dari Bapak Bahri ini. Ya Allah Ya Rabb, itu kan Uni El, tetangga dekat rumah ku. Innalillahii…. Ternyata Bapak Samsul Bahri yang jenazahnya sedang kudorong saat ini adalah Bapak Bari tetangga dekat rumahku di kampung.

Aku segera memanggil Uni El, anak Pak Bari.

“Uni… jadi ini Bapak uni???”

Uni El mengangguk sambil menahan tangis… “Iya Ni…”

Kali ini Aku benar-benar  tak kuasa menahan haru ketika menyadari jenazah yang wajahnya telah ditutupi kain panjang dan penutup jenazah itu adalah Bapak yang sudah kuanggap seperti kakek ku sendiri selama ini. 15 tahun hidup bertetangga cukup membuat kami seperti memiliki hubungan kekeluargaan.

Ya, aku memang telat menyadari Bapak Samsul Bahri ini adalah tetangga kami yang akrab kami sapa dengan Bapak Bari. Kulirik anak lelaki Bapak ini. Subahanallah,,, beliau adalah Uda, anak Pak Bari yang selama ini merantau. Pantaslah aku tak begitu mengingatnya ketika pertama kali berjumpa.

Tak ada lagi rasa takut dan kesungkanan dalam diriku mengantar jenazah ini ke depan pintu ambulance. Sebaliknya aku merasa bertanggung jawab untuk mengantar Beliau. Walaupun tidak sampai ke liang lahatnya. Selama perjalanan teringat wajah Pak Bari semasa beliau hidup. Seorang pensiunan guru yang sederhana. Istrinya telah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan sejak itu sepertinya Pak Bari kehilangan semangat hidup dan kerap sakit-sakit-an. Aku sungguh tidak menyangka Pak Bari akan pergi secepat itu. Tanpa sempat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya ketika itu karena aku tak sanggup, aku menyadari sapaan hangat terakhirku untuk beliau ketika pulang kampung lalu adalah sapaan terakhirku untuknya.

Kematian. Semacam misteri yang tak terpecahkan. Kuncinya tak akan beralih dari tangan Tuhan. Siapa sangka Pak Bari, tetanggaku yang baik adalah orang pertama yang jenazahnya harus kudorong di dinas malam pertamaku.

What a Life….

Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan untuk Beliau di alam barzah, meringankan dosa-dosanya serta memberikan tempat yang nyaman untuk Beliau…

Maafkan aku Pak, untuk semua kesalahan yang telah aku dan keluarga mungkin lakukan. Maafkan aku yang tak sempat merawatmu walau sebentar. Maafkan…

Selamat jalan Pak Bari, selamat jalan tetanggaku yang baik….

😦

#Post Dinas…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Keperawatan, kisah aini, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

6 Responses to Jenazah Pertama Itu…

  1. Lhona PS says:

    asslm…

    eh.. kak..
    ceritanya bagus….
    g’ nyangka jalur ceritanya bakalan begitu…

    semoga do’a kita untuk beliau diijabah….ya kak.. 🙂

  2. semoga amal ibadah beliau diterima disisiNYA… untung saja sedang dinas malam ya, jadi tau bahwasanya jenazah tersebut adalah tetangga dekat…
    btw, waktu membawa ke ambulan gak sempat liat wajah jenazah pak bari yak???

  3. fanz says:

    kirain cerita horor.. ga taunya…
    semoga bapak bari di tempat Allah di sisi yang baik yah ni 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s