Manusia, Hidup, dan sesuatu tentang keduanya

“Tiada sesiapa yang bisa hidup tanpa menyusahkan orang lain”

Kata-kata itu saya kutip dari percakapan dokter sensei yang sedang merawat Aya di Rumah Sakit dalam dorama Jepang yang sangat terkenal “One Littre Of tears”

Ya, tak dapat dipungkiri manusia sebagai makhluk sosial akan saling memiliki ketergantungan satu dengan yang lain. Contohnya saja, Pasien butuh tenaga medis untuk bisa sembuh, tenaga medis butuh pasien sebagai sumber kehidupan ekonomi. Seorang dokter akan membutuhkan bantuan perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam proses kesembuhan, begitu juga sebaliknya, perawat juga sangat membutuhkan bantuan dokter dalam menyembuhkan pasien. Semuanya akan saling menyusahkan satu sama lainnya, dalam artian satu dengan yang lainnya akan saling meminta bantuan dan peran masing-masing dalam mencapai suatu tujuan.

Hal ini sungguh sangat kusadari dan semakin kucermati setelah dinas selama lebih kurang 2 minggu di RS ini. Yang mungkin bagi para senior masih terlalu idealis dan memakai perasaan dalam merawat pasien, sedikit prinsipil, dan ceroboh pastinya.

Hari ini banyak pasien yang mengeluh kesakitan. Banyak keluarga pasien yang mengadu ke counter perawat dan meminta bantuan perawat untuk segera men-cek keluarga mereka yang sakit. Kali itu, pasien yang infusnya macet dan harus dipasang ulang, namun ketika keluarga sudah kembali membeli set infus, perawat kemudian hanya menunda-nunda pemasangan infus sampai akhirnya keluarga harus melapor untuk kesekian kalinya untuk segera dipasangkan.

Lagi-lagi ada pasien yang mengeluh, suhunya tinggi, Tekanan darah juga tinggi, dan ujung-ujungnya seperti biasa, musti panggil dokter. Ah kali ini sungguh tidak beruntung, dokter muda lah yang datang. Dan sayang sekali beliau hanya bilang,”Mungkin masuk angin Pak” kemudian berlalu dan meninggalkan pasien yang tidak puas.

Berikutnya, kembali pasien mengeluh. Beliau dengan asites (perut yang membengkak besar) dan oedema grade 4 pada kaki. Sungguh aku seakan bisa merasakan rasa sesak yang dirasakan pasien itu. Beliau mengerang kesakitan. Seharusnya beliau segera ditransfusikan albumin serta diaspirasi cairan yang ada di perutnya. Lagi-lagi harus menghubungi dokter. Namun kembali disayangkan, dokter jaga sedang tidak di tempat saat itu. Aku berusaha menenangkan pasien dan mengatakan besok akan ada dokter visite yang akan masuk dan memeriksa Bapak. Keluarga kembali memohon, “tolong nak, hubungi dokter. Mambana bapak ha… ndak sanggup bapak kesakitan”. Lapor ke perawat senior, suruh cari dokter muda. Sungguh aku tidak tega Tuhan. Akhirnya ada dokter muda yang datang. Tergopoh dan dengan penuh kesungguhan aku meminta beliau untuk menenangkan pasien, karena setidaknya mereka akan lebih nyaman jika dokter langsung yang menjelaskan. Tapi sepertinya dokter muda juga kebingungan. Sesaat kemudian barulah dokter datang. Tanpa membuang waktu aku segera curhat tentang keadaan pasien. Lima detik kutunggu jawabannya, namun ternyata berita pasien yang kesakitan sama sekali tidak menarik baginya. Laporanku sama sekali tidak digubris. Setelah keluarga langsung yang datang dan meminta dokter itu untuk datang, barulah beliau mau turun dan memeriksa. Ahh… aku tak tahan lagi, intinya… sampai bermenit-menit kemudian masih belum ada penanganan serius terhadap pasien tersebut, semuanya dikerjakan dalam . Sampai akhirnya jam dinas soreku berakhir dan aku pulang dalam keadaan kecewa dan kesal karena tidak mampu memberikan penanganan terbaikku untuk pasien-pasienku.

Tidak, aku tidak membenci profesi dokter, juga tidak sedang  ingin menjelek-jelek-an suatu profesi. Bagiku tugas dokter adalah suatu pekerjaan yang mulia. Itu sungguh kusadari setelah sekian banyak keluhan pasien yang masuk dan ketika kami tidak bisa menanganinya karena ujung-ujungnya harus segera diputuskan untuk memberikan “suatu terapi” yang mana hanya dokter yang berkompeten untuk menentukannya. Seperti yang sudah kubahas di atas, profesi ini seperti sebuah simbiosis dan kebutuhan. Perawat butuh dokter, dokter butuh perawat, pasien butuh dokter dan perawat, perawat dan dokter juga membutuhkan pasien.

Dan ketika ada orang yang tidak menjalankan suatu kewajibannya dengan sepenuh hati, sehingga melalaikan orang-orang yang butuh pertolongan secepatnya, bukankah itu adalah suatu tindakan penganiayaan? Suatu penganiayaan adalah kejahatan. JADI MEMBIARKAN PASIEN KESAKITAN ADALAH SUATU KEJAHATAN.

Tidak hanya dokter! Perawat, apoteker, Gizi, dan Seluruh tim medis adalah orang orang yang berperan penting dalam proses untuk mencapai tujuan : KESEMBUHAN pasien. Dan semoga kita yang mengambil bagian dan peran dalam proses ini tidak akan mengeluh “Ah, merepotkan saja… ah… sungguh menyusahkan”.

Aku tidak tahu akan menjadi perawat seperti apa kelak dimasa depan. Namun sungguh, tidak dapat memberikan kenyamanan kepada pasien adalah semacam rasa sakit yang juga harus kurasakan. Aku tidak bisa meramalkan seperti apa pelayanan yang akan kuberikan kelak ketika menjadi seorang perawat sesungguhnya, namun sungguh aku berharap aku tidak kehilangan “sense” ini. Rasa welas asih, empati, kepedulian, dan rasa-rasa yang kutahu itu adalah bisikan hati nurani yang sering kali dengan gampangnya di “cuek”-an oleh banyak manusia.

Ya Rabb… Semoga Engkau senantiasa menjadikanku dan seluruh manusia yang memilih profesi sebagai tenaga medis menjadi orang orang yang senantiasa mengutamakan bisikan hati kecil mereka. Menjadi manusia-manusia yang care, cure, empati, berdisiplin tinggi, serta berdedikasi untuk mencapai kesehatan umat manusia.

Serta berikanlah kepada hambaMu ini ilmu yang banyak. Ilmu yang akan memagari setiap tindakan yang akan dilakukan sehingga selalu berada pada kebenaran. Amin ya Rabb…

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Islamic Nurse, Keperawatan, OpIni.... Bookmark the permalink.

6 Responses to Manusia, Hidup, dan sesuatu tentang keduanya

  1. sepakat dengan kata-kata ini “MEMBIARKAN PASIEN KESAKITAN ADALAH SUATU KEJAHATAN.”.
    Satu lagi, perawat masih dipandang sebagai pembantu dokter, bukan sebagai rekan kerja yang setara dengan dokter.

  2. Ade says:

    sudah seharusnya kita saling membantu…kita tak kan mampu hidup sendiri..

  3. ayip7miftah says:

    Ya, begitu jg yg kami alami jika sbg pasien.
    Mirisnya, mereka yg begitu itu bekerja di RS milik pemerintah.
    Andai tahu cara mengobati banyak penyakit,
    Tdk akan mungkin kami “mempercayakan hidup” yg sekali ini ke tangan mereka.
    Tapi kenyataannya “Tiada sesiapa yang bisa hidup tanpa menyusahkan orang lain”

    Keep fight…

    • 🙂
      yap… dan kami kami yang masih”junior” ini juga tidak akan repot2 bertanya kepada orang yang sama sekali cuek jika kami tahu tindakan apa yang semesteinya kami lakukan untuk pasien2 kami yang kesakitan.

      Always keep figting brot 😀 !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s