Aku (belum) Dewasa

Ada yang bertanya, “Seperti apa hati orang-orang yang bekerja disni?”

“Tidakkah mereka tersentuh dengan yang namanya kesakitan dan kematian?”

“Semacam itu adalah hal biasa yang menjadi tontonan sehari-hari”

 

Ada kegelisahan memperhatikan kalimat-kalimat itu.

Semacam perasaan bersalah tanpa tahu apa penyebabnya…

Menu keseharian yang menyedihkan yang menyebabkan kalimat itu muncul bernama…

“KESAKITAN dan KEMATIAN…”

 

Dua kata yang belakangan ini akrab berbergentayangan di depan pandangan mataku. Tiap saat menyaksikan berupa-rupa orang yang mengeluh dengan rasa sakit dan bermacam-macam cara manusia menghadapi sakaratul maut. Kejadian-kejadian yang kerap menguras emosi dan mengguncang psikologis. Klise memang, karena orang-orang akan mulai berkicau,”Itulah resiko bekerja di Rumah Sakit” “itulah lingkungan yang harus dihadapi tenaga medis!”

Sebagai seseorang yang “baru” dengan dunia ini, jelas bathi akan sangat sensitif dan menolak terhadap segala sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Mulai dari membiarkan manusia-manusia yang lemah itu mengeluh kesakitan, sampai tangis menggugu dari keluarga yang ditinggal mati sang pesakit. Rasa sedih itu masih saja menghampiri. Rasa tidak sanggup ditengah tuntutan kompetensi untuk tetap bersikap profesional. Ada yang menjerit pedih di ulu hati. Namun ah… lagi-lagi ada yang berbisik,”Nanti kamu akan mulai terbiasa”.

Ya…mulai terbiasa. Kadang ada ketakutan dengan “mulai terbiasa” itu. Semacam ketakutan jika suatu masa kelak tak ada lagi sensitifitas dalam menjalankan profesi. Tak ada lagi hal-hal yang membuat perasaan mengharu-biru, karena sudah “mulai terbiasa”.

Kita belum dewasa!! Tidak… tidak… Aku yang belum dewasa! Dewasa dalam menyeimbangkan peran skill dan soft skill.

Namun tidak selamanya aku harus terkungkung dengan ketidakdewasaan ini. Sepertinya ini hanya semacam proses. Proses mengasah “rasa”dan “kemampuan” serta menyeimbangkan antara keduanya. Karena tidak ada satupun teori yang berani memisahkan antara keduanya.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Nursing Diary. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s