Jilbab oh Jilbab

Aini… JILBABmu Kini!!!! ckckckc…

Mungkin ini adalah salah satu statement yang “sering” timbul diantara berjenis-jenis opini ketika teman-teman yang terbiasa melihat Aini dengan jilbabnya yang mencapai batas abdomen, namun ketika sudah menjelma menjadi perawat yang sedang berdinas di Rumah Sakit tetiba jilbabnya diminimalisir hanya sampai sebatas torak.

Ya… Dan Aini pun tidak tahu harus bersikap seperti apa. Posisinya seolah sedang memakan buah simalakama. “Kamari bedo” kalau orang Minang bilang.

*ini pict kagak nyambung dengan postingan #FYI :p

Mungkin di postingan-postingan sebelumnya aku sudah pernah menggambarkan kekhawatiranku akan “pressure” Rumah Sakit dan protap ke”dinas”an dari kampus secara tidak langsung. Dan sudah menjadi rahasia umum, jika ketika mengikuti yang namanya praktek profesi, dimana kita adalah bagian terbawah dari struktur operasional tenaga medis yang notabene berada dalam pengawasan dan juga harus patuh dalam melaksanakan instruksi dari tenaga ahli ruangan (*ahh belibet banget bahasa ente Nur)

Ya begitulah… Intinya… hmm…. ya begitu… #YouKnowWhatIMean kan?? hoho….

Susah juga ternyata menuliskannya disini. Di satu sisi orang-orang akan berteriak “Istiqomah donk” atau “Keep fighting lahh….masa segitu aja kalah” Tapi ternyata pengalaman di lapangan sungguh akan sangat berbeda kawan. Kita saat ini benar-benar sedang berada di posisi dimana kita tidak memiliki kekuatan untuk melakukan tawar menawar (*ini bukan di pasar sodara)

#Apakah tidak ada Uni-uni perawat yang berjilabab dalam?

Ada… jawabannya Ada… dan beliau-beliau sedang berada dalam struktur fungsional ruangan. Yang posisinya memiliki “power”. Dan tidak terlalu banyak melakukan tindakan medis.

Oke… bingung ya?? ya iyalah… Aini aja bingung.

Hari ini Aini kembali kena teguran. Teguran gegaranya jilbab mengganggu dan hampir menyentuh luka pasien saat proses mengganti balutan perban pasien dengan luka bakar berat.

“Itu jilbabnya memang  sudah modelnya seperti itu ya? Apa tidak bisa dipendekin lagi?”

#Hoaalahhhhh Bapak…. Ini aja sudah kependekan untuk saya. Masa dipendekin lagi *ngomongdalamhati*

TT__TT

Hmm… Dulu ketika dinas Gerontik dan Rumah Sakit Jiwa, dengan cuek dan penuh kepedean aku masih menggunakan jilbabku yang biasanya. Dan alhamdulilah tidak ada yang protes secara langsung untuk masalah jilbab lebar ini. Yang ada palingan lirikan-lirikan aneh dan “perbincangan kecil” di belakang layar dari uni uni perawat disana,” Ini si Aini jilbabnya kok gak seragaman?” “Aini memang beda sendiri ya… tuh coba lihat jilbabnya” *gosip Ini kuketahui dari cerita salah seorang teman*

Selama masih tidak mengganggu aktivitas dinas, insyaAllah aku akan mempertahankkanya. Tetapi sesampainya di Rumah Sakit,,,,,, *Bukan..aku sedang tidak mengatakan jilbab dalam mengganggu tindakan medis*. Tentu saja kita masih bisa menggunakan “skor” “jas lab” untuk menutupi jilbab ketika melakukan tindakan. Tetapi, ada peraturan dan tata tertib yang membuat … ya seperti itulah kawan…

Dan saat ini tentu saja aku belum bisa dinas dengan tenang kawan. “Kamari bedo”  membuatku ingin terus bersembunyi dari orang-orang yang kukenal. Rasanya seperti ingin dinas dengan memakai Helm, agar tidak ada yang mengenalku sebagai si Nuraini yang berjilbab d*lam. Seperti ketika dinas di ruangan kebidanan dengan kostum “stenen” (seperti piyama, khusus digunakan di ruangan intensif care) dengan jilbab mininya yang berwarna hitam itu, membuatku terus menerus mencuri momen untuk bersembunyi di ruangan parasat (*tempat peralatan medis disimpan red) sampai jam dinas berakhir. Tentu saja ini menyiksa Jendral!

Yang aku takutkan adalah ketika aku merasa nyaman dengan tampilan seragam dinasku yang sekarang. Huaa… naudzubillah… semoga ini tidak terjadi dan mohon do’akan saya kawan!

Tenang kawan, Aini akan kembali menjadi Aini dengan tampilannya yang biasa ketika sudah melempar seragam dinasnya ke ember cucian 😀

Jadii… harap maklum ya kawan, kalau bertemu Aini di RS dalam keadaan seperti itu  (*terlalu banyak pemakluman ente Nur! huh)

bY: Aini yang benar-benar sedang Galauu

Mohon masukan dari sodara sodari seiman 😦

Sekiann...maaf postingannya gaje begini...

nb: Kelak aku akan mencari profesi yang tidak akan meprotes2 masalah jilbab 😀

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

12 Responses to Jilbab oh Jilbab

  1. iraolimpiani says:

    ah, pasti sulis ya kak. smg Allah swt kuatkan kakak.. coba disiasati kak dg memasang peniti agar jilbab yg sepanjang abdomen (bahasa kak aini nih) tdk mengganggu saat menangani pasien?
    smg Allah swt kuatkan kak Aini..
    (Imel Bio09) via blog adek di wisma 🙂

    Like

    • syukron Imellll 🙂
      hiks …
      sedikit menyiksa bathin Mel…
      insyaAllah cuma di klinik yang seperti ini.
      Kalau dinas di puskesmas atau ke masyarakat, kakak tetap tampil seperti biasa 🙂
      bantu doa selalu ya

      Like

  2. ulia rahma says:

    Semangat kk ainiiii… !!!
    Selama Allah slalu di hati whatever lah gosip2 aneh tu..
    ulia juga pnh kena tegur t kk, tpi bkan krna jilbab, tapi krna “rok”
    huaaaa ampe jelalatan tu mata uni-uni perawat..
    Heee.. but gpp kk, uji mental, uji kesabaran plus keikhlasan
    klo kita lulus bisa naik tingkat deh.. oceh, smangat kk quuu… ^^

    Like

    • uliaaaaa…’
      syukron adikkuu..
      ulia juga tetap semangat yahhh….
      kalau preklinik insyaAllah aman dek. Karena preklinik masih melakukan tindakan2 yang tidak begitu berat.
      bantu doa ya 🙂

      Like

  3. nida says:

    alhamdulillah selama ana dinas, gag ada yang protes kog, cuma dipelototin aze…hehehe, bener tuh dipenitiin aza jilbabnya menyatu kebaju jadi tetap melekat walau melakukan penanganan ma pasien, yang sabar ya ukhti ^_^
    semangat ^_^

    Like

  4. sandurezu says:

    kasih pentul aja kak, disematkan di baju mpe abdomennya. hhe. *saran. 🙂

    Like

  5. rahmat firdaus says:

    al-ajru ma’al-masyaqqah
    -pahala itu bersama (sebanding dengan) kesulitan-

    sepakat dengan komentar di atas, usahakan dulu semaksimalnya. sampai “samati-mati angin”.
    maka insyaAllah diberi kemudahan dan pahala yg besar untuk usaha mempertahankan prinsip.
    wallahu a’lam.

    Like

    • alhamdulillah,, finally untuk pertama kalinya malam tadi Aini mencoba memakai jilbab Aini yang biasa… (^.^)
      next time Aini mau bikin design jilbab seragaman yang lebih safety
      syukron brotahh

      Like

  6. Memang susah ketika terbentur dengan peraturan dan tidak dalam posisi orang yang memiliki “kuasa” disana. Memutar otak dan mencari jalan agar tetap survive.
    Yah, apa pun itu, salam semangat..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s