Sebut Saja Itu Sebuah “Tangisan”

Seumur-umur hidupku, aku pernah sekali-dua kali menangis ketika sedang harus berbicara di depan umum. Aku tidak ingat itu kapan-kapan saja, yang jelas sekali waktu yaitu ketika terpilih sebagai ketua NIC (pas ngasih kata sambutan) dan ketika harus menyampaikan kesan dan pesan terakhir sebagai ketua NIC di Mubes NIC. Ya,itu adalah moment-moment mengharu-biru yang rasanya sayang sekali kalau dilewatkan tanpa tangisan * walaupun sebelum Mubes dimulai sudah janji-janjian sama pengurus yang lain gak bakal ada agenda bertangisan* #perjanjian teringkari #lapingus.


Daaannn….. ini dia kejadian yang “agak” memalukan, sedikit di luar kesadaran & tema & moment yang kalau dipikir-pikir malah bikin ngakak sendiri..huahahahahah *oups…

😀

Kejadian itu terjadi ketika aku harus menjadi presentator di acara seminar kasus kami di RSUP, saat itu masih siklus Keperawatan Medikal Bedah. Seminar dihadiri oleh beberapa kelompok profesi, dosen pembimbing akademik, Clinical Instruktur, Kepala ruangan, dan sederet nama-nama penting dari bagian keperawatan yang ada di Penyakit dalam dan bedah.

Awalnya seminar berlangsung lancar jaya *tampak depan* walaupun kacau beliau *tampak belakang*. Setelah melalui berbagai proses yang membuat “sesak”, akhirnya aku tampil mempresentasikan kasus “sirosis hepatis” dari pasien yang sudah kami tetapkan sebagai kasus kelolaan bersama.

Dan entah apa yang terjadi, ketika masuk BAB Pembahasan, tetiba aku tidak bisa menjelaskan kepada audience tentang pembahasan kasus, yang ada malah aku menangis terisak-isak *ga seperti isakan anak kecil ya!* sambil berkata,”Kemudian pasiennya meninggal,,,hiks…..” *kemudian hening*…. *Kemudian nangis lagi* *Kemudian teman-teman heboh bilang,”Lanjutin aini”. Dan … dan … dan … ekeh tak sanggup lagi,”Untuk selanjutnya bisa dibaca di BAB Pembahasan di modul.” 😄

Ahh…. rasanya gak peduli lagi dengan kalimat,”Helloo Aini, terharu-terharunya ntar-ntar-an aja deh … Ini kan seminar kasus gitu, ilmiahh, rasional, objektif, logissss, gak pake SIMPATI”.

Ahh teman… Menjelaskan kepada publik bagaimana rangkaian perjuangan merawat seorang pasien sampai akhirnya pasien meninggal gegara tidak seimbangnya asupan “pelayanan medis” yang seharusnya ia peroleh dengan kalimat terakhir yang kita dengarkan,”Tolong Bapak nak,,, mohon Bapak Nak…. Sakit sekali Nak”,,,, dan kita Cuma bisa bilang,”Sabar ya Pak, ini kami masih mengusahakan untuk memanggilkan dokter”. Kemudian menahan tumpukan “gondok, keki,” karena kita yang mejadi perpanjangan lidah si pasien hanya dianggap angin lalu bahkan dilirikpun tidak.

Ah sudah lah teman. Pengalaman pahit sekaligus berharga itu memang sebaiknya kutelan sendiri kemudian dipoles lagi agar menjadi narasi yang lebih baik.

Walaupun pada akhirnya para clinical istruktur banyak yang meng-komen aksi menangis mendadakku ketika presentasi adalah “semacam tindakan yang dilebih-lebihkan” “Hyper-Simpati” yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang calon tenaga medis sepertiku.

Eghm… perlu kuperjelas kawan. Aku bukanlah tipe wanita yang gampang terharu. Yah setidaknya aku tidak menangis seperti teman-teman wanita lain ketika membaca novel “Ayat-ayat Cinta” atau ketika menonton film-film yang konon kabarnya menguras air mata. Dan toh pun ketika aku pertama kali mendengar pasien yang kurawat itu akhirnya meninggal, perasaan sedih itu memang bermunculan, tetapi tidak bermuara menjadi air mata.

Satu hal yang bisa kujelaskan kenapa tetiba menangis adalah sebuah perasaan yang tidak terdefenisi yang mungkin saja terjadi walau kadang kita sudah bertekad tidak akan kejadian  bahkan percaya itu tidak  mungkin terjadi adalah “prosesnya”,”perjalanannya”.

Ketika akhirnya air mata itu memutuskan untuk mengalir begitu saja setelah otak memerintahkan secara sepihak *tanpa meminta persetujuanku* yang seperti membayang di dalam otakku adalah potongan film demi film ketika aku dan beberapa orang teman bergegas, wajah memelas pasien, rintihan permohonan untuk segera ditolong, wajah istri dan anak pasien yang begitu cemas dan memohon. Ahhh…. ternyata aku cukup rapuh untuk sekedar mengingat sebuah “Kenangan yang membuat sedih”.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, catatan buruk, CERPEN^^. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sebut Saja Itu Sebuah “Tangisan”

  1. khansa says:

    maaf ya mba,, sepertinya ada kesalahan persepsi bahwa paramedis perlu menahan empati pada pasien, seringkali nemuin paramedis di rsud yang kurang empati dan perhatian pd pasien..
    Tetep semangat ya mba.. Dimanapun kita bertugas semoga bisa memberikan yang terbaik dari potensi kita..

    • ya seperti itulah kenyataan kekinian di dunia paramedic dek…
      mbak setuju banget kalau kita juga harus memakai “hati” dalam memberikan pross kesembuhan pasien.
      Cuma yang tidak boleh itu ya “Hipersimpaty” yang menyebabkan kita tidak lagi profesional 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s