Lagi-Lagi VMJ

Lagi-Lagi “VMJ”

Kurang lebih dua minggu yang lalu saya diundang oleh adik-adik Pengurus Keputrian FSKI  FK UNBRAH untuk mengisi acara forum An-Nisa di sana. Alhamdulillah, ini adalah undangan keempat dari FSKI FK Unbrah untuk menjadi pemateri disana, namun jujur ketika mendapatkan telfon keempat kalinya itu, saya sedang dalam keadaan “HDRB”, Harga Diri Rendah Buaaangeett…. Rasanya kok ya gak pantes nian untuk menjadi pemateri di agenda sekaliber Forum An-Nisa saat ini. Secara akhir-akhir ini keimanan saya rasanya berada dalam stage yang rendah, seolah-olah menurun drastis. Tentu saja saya tidak ingin niat “pencerahan” malah nyeleweng menjadi “pengracunan”. Namun, ketika sang adik berkata : “Kak, bisa jadi pemateri untuk FA besok? Temanya tentang VMJ kak…” Tetiba di dalam hati saya ingin ngakak. Entah lah. Dengan sedikit menahan tawa, saya menggoda sang adik :“Nahh kok VMJ -VMJ terus?? Banyak yang lagi kena VMJ ya?” Dengan malu-malu sambil menahan tawa sang adik menjawab di seberang sana,”Iya nih kak… banyak yang lagi kena virus nih kayagnya”.

Mendengar temanya adalah tentang “VMJ”, tetiba saya merasa harus sejenak melupakan kegalauan saya tentang “HDRB” yang sedang saya derita. Saya memutuskan untuk menerima undangan ini dan men-delay acara kepulang-kampungan saya sebelum berangkat dinas ke Painan (Awalnya saya sudah berniat untuk pulkam pada hari Kamis maka schedule diubah menjadi: ikut Agenda FA Jumat, Pulkamnya Jumat, ke Painannya Minggu).

Saya bertekad untuk tidak menempatkan diri menjadi “pemateri” kali ini, seperti biasa, ketika memenuhi undangan untuk mengisi agenda akhwat, saya menamakan itu sebagai agenda “Sharing-sharing Curhat”. Saya menyadari betul saya belum layak untuk menjadi pemateri. Pun ketika berada di depan adik-adik, saya lebih menempatkan diri sebagai seorang kakak, yang berceloteh ribut (*seolah itu bukan agenda dengan genre serius), memberikan sedikit apa yang saya punya dan ketahui (*yang sebenarnya sudah banyak diketahui oleh orang) dan kemudian mendengarkan curhatan para adik, membahas dan membedahnya menjadi sesuatu yang menarik.

Dan kenapa saya sangat tertarik dengan topik “VMJ” walaupun pernah dalam beberapa postingan blog saya mengaku kesal dan antipati dengan pengulangan topik semacam “VMJ”, “pernikahan”,dan isyu-isyu menarik seputar topik tersebut??  Bukan… bukan karena saya sudah berpengalaman dan sangat memahami hal tersebut atau memiliki kisah pribadi yang menarik tentang itu, jangan salah sangka dulu. Namun saya cukup menyadari yang namanya materi tentang “pemusnahan VMJ” itu bertebaran dimana-mana, dengan konsep yang amat jelas seterang bulan purnama, lapak-lapak untuk pembahasan ini ada dimana-mana *narasi ini Hiperbolik-red*. Mungkin yang tidak jelas itu adalah “penerapan aplikasi” nya dan saya sangat tertarik bagaimana jika topik yang biasanya dibahas di lapak nonformal sambil ngemil bakwan atau minum teh poci ini diangkatkan di forum semiformal seperti FA yang notabene akan dihadiri oleh adik-adik putri mulai dari kalangan akhwat sampai kalangan yang “ogah” dipanggil akhwat. Ya, FA nanti akan dihadiri oleh mahasiswi berbagai genre. Saya penasaran sekali bagaimana jika hal ini diangkatkan dalam bahasa kasual dan tidak terlalu menggurui.

Dan akhirnya dengan modal seadanya, dengan ppt (power point-red) yang baru sempat difinishkan pagi hari gegara saya pakai acara menginap pula di rumah teman malamnya *Sadarlahh wahai Aini!!!* akhirnya acara kunjungan saya ke FA-nya adik Unbrah ini berjalan lancar.

Ada satu pertanyaan menarik dari seorang adik. Kira-kira narasinya begini :
“Kak, di surat An-Nur ayat 26 kan dikatakan:
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” Namun pada kenyataannya banyak juga seorang istri yang sholehah dapat suami yang tidak baik akhlaknya.

Hoho,,, jujur ini pertanyaan persiiiiisss banget dengan pertanyaan saya beberapa tahun lalu di halaqoh kepada murobbiyah pertama saya. Namun sialnya saya lupa-lupa ingat dengan jawaban konkrit sang MR. Namun yang saya ingat adalah, surah an-Nur diturunkan Allah untuk meluruskan kejadian yang menimpa  Aisyah RA.

Surah itu diturunkan sebagai arahan bagi umat manusia dalam memilih pasangan hidup. Dan Rasulullah pun pernah bersabda mengenai beberapa alasan umat manusia memilih pasangan hidupnya. Ada yang karena harta kekayaannya, karena jabatannya, karena cantik rupawannya, dan karena agamanya. Sebaik-baiknya alasan untuk memilih pasangan adalah karena agamanya. Kalam tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dan suasana. Maka pahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, bahwa untuk menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik yang akan terjadi. Jadi sepertinya kudu dievaluasi lagi nih motivasi orang tersebut menikah. Apakah sudah benar-benar memilih sesuai dengan tuntunan (*terlepas dari naik turunnya keimanan seseorang, wallahu’alam)

Ah coba kalau kita bandingkan dengan Annur ayat 3 :
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (QS. An Nur ayat 3)

Kalau dibaca-baca sih, ayat ini ada “unsur perintah” nya untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa kita maknai sebagai sebuah motivasi atau anjuran untuk “mengkondisikan diri” dan bukan sebagai hukum ketetapan bahwa yang baik “otomatis” akan mendapatkan pasangan yang baik. Tentu  saja brur sekalian perlu ada yang namanya usaha untuk memperbaiki diri lebih baik.

Wallahua’lam… Sepertinya saya begitu banyak sok taunya ya.

Satu pertanyaan lagi dari adik-adik yang menarik adalah : Bagaimana kasusnya jika ada seorang akhwat yang terlanjur menyukai seorang (sebut saja ikhwan) (*kalau yang suka adalah “akhwat” ke “ikhwan” kemungkinan besar sih sukanya gegara “kesholehan-keaktivis-an-Keimanan” seseorang kan yak? :p) Nah, bagaimana cara mereduksi, agar rasa suka itu tidak berlebih-lebihan alias over dosis.

Hoho…. hati itu emang rentan banget ya sodara-sodara. Meski sudah dijaga sebagik mungkinpun masih ada peluang untuk tergelincir. Terlepas dari alasan “Aku menyukainya karena dia sholeh dan beriman lhooo….”, pasti ada satu perasaan lain yang menyadari adanya ketidaknyamanan dan warning,“This is not true”. Right???

Adakalanya hati tak mampu dikendalikan. Dan memang menyukai seseorang itu adalah hal yang normal. Nah, dari sekian banyak orang sholeh yang bertaburan di muka bumi bagaimana bisa ya akhwat A menyukai ikhwah B?? *maksud lo Ni?? Maksudnya, kenapa bukan ikhwan C,D,Z, dst?? ckckc….

Jika kita analisa urutan WOC (Web Of Caution)-nya akan bermunculanlah beberapa Etiologi (penyebab) *bahasa ente Nur, sok gaye!!* entah karena itu sering bertemulah (semisal berada dalam organisasi yang sama), entah karena terdapatnya penumpukan rasa mengagumi yang dilebih-lebihkan (entah karena kecerdasannya, entah karena keterampilannya).

Nah salah satu solusinya mungkin adalah dengan meminimalisir. Misal: meminimalisir pertemuan, meminimalisir kadar nge-“fans” yang terlalu tinggi, dst. Kalau pengalaman pribadi sih, jika nge-fans secara berlebihan kepada makhluk, biasanya sih saya akan memikirkan dan mencari-cari kejelekan orang tersebut sampai akhirnya saya tidak nge-fans lagi. Mhuhahahaha…. *cara ini belum terakreditasi, jadi tidak begitu dianjurkan haghaghag*. Dan meminimalisir timing untuk “memikirkan” dalam redaksi lain: cari aktivitas  yang bisa membuat sinaps-sinaps otak kita lupa untuk memikirkan perasaan suka dan ngefans tersebut.

Intinya lagi sih, bagaimana kita memanejemen perasaan tersebut. Bagaimana kita berusaha untuk tidak memanjakan dan memupuk rasa yang ada. #eaaaa….

Sobat… *backsound kitaro*… Cinta itu berasal dari Allah, cinta itu karunia dari Allah. Maka kembalikan saja cinta itu kepada Allah, jika kita merasa kita tidak pantas memiliki rasa cinta itu (baca: bukan pada pasangan). Bukan suatu hal yang mudah memang, maka biarkan waktu yang akan menghapusnya. Dan selalu berpegang kepada Allah mengenai segala rasa cinta. Agar cinta kita tidak tergelincir. #eecciiiyehBangetIniKalimat,CopassDariManaAini??

Demikianlah teman…
beberapa ulasan tentang VMJ-VMJ-an yang gaungnya semakin lama semakin menjadi-jadi entah itu dikalangan remaja-remaji, ikhwan-akhwat, dst dst….

udah dulu ya… Sila disimpulkan sendiri. Yang jelas sih saya ga pernah melarang pacaran, asal ga  diketahui oleh Allah aja. Bisa? :p

Related post :

https://ainicahayamata.wordpress.com/2009/12/03/lets-talk-about-love/

ainicahayamata.wordpress.com/2009/03/24/pacaran-vs-nikah/

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Lagi-Lagi VMJ

  1. ikrimmah says:

    haha..jadi inget pas sma materi ini jadi materi dengan rating tinggi saat itu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s