Embun, aku

Seharusnya kita belajar pada embun,

Yang selalu memetik rindu pada pucuk-pucuk dedaunan di subuh hari

Melepas kerinduan hanya dalam beberapa waktu

Kemudian dengan penuh keikhlasan menghilang tersapu panasnya sang mentari

Seharusnya kita belajar pada embun,

Yang dengan penuh kesabaran tak bosan menjumpai pucuk-pucuk kehijauan

Mengulangi lagi dan lagi…

Tak terbilang berapa kali mekar dan redup berpacu dengan sang surya

Embun yang menikmati peran singkatnya

Embun yang menikmati perjumpaan ringkasnya

Embun yang begitu setia dan ikhlas

Namun aku bukanlah embun…

Yang memiliki banyak kesempatan untuk menjumpaimu dalam riuh rendah fenomena kehidupan

Namun aku tak ingin menjadi embun…

Karena rindu hanya akan menyiksa

Karena aku adalah aku, dan tak sekuat embun yang tak pernah belajar untuk melupa

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Puisi... Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s