Aksara untuk Bunda

                            Surat Cinta untuk Ibunda…

Assalamualaikum wr. Wb..

Teriring dengan surat ini, ananda menguntai lafaz do’a agar Ibunda di sana berada dalam keadaan sehat dan selalu berada dalam pelukan Rahmat-Nya.

Bunda, ananda menulis surat ini ketika alunan tembang “satu rindu” Opik mengalun dengan diiringi deru hujan di luar sana yang membuat jari-jari ananda bergetar untuk sekedar menekan tuts-tuts keyboard ini. Ananda merasa kesepian bunda, ananda sangat merindukan pelukan kehangatan bunda. Kehangatan yang selalu bunda berikan walaupun untuk itu engkau senantiasa harus melawan setiap kerikil dan gelombang dinamika kehidupan.

Bunda, tak sabar ananda melangkah pulang untuk menjumpai dirimu dan berkumpul dengan ayah dan saudara-saudara di rumah. Menempuh semua batas-batas waktu yang mengharuskan aku berada jauh darimu. Bunda… sungguh aku merindukanmu, rindu dengan semua cerita-ceritamu yang menyejukkan, rindu dengan belaianmu yang menghangatkan, rindu dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang menjemukan, rindu dengan omelan-omelanmu yang memukau, rindu dengan nasehat-nasehatmu yang membuatku terperangah…

Oh,,,ibunda,,engkau sungguh sosok yang patut kurindui. Walau kadang perilakuku sungguh membuatmu murka, membuat engkau kecewa dan bersedih hati.

Ibunda tercinta yang senantiasa meneteskan air mata harapannya untukku…

Beberapa musim sudah kita lewati walau dengan perpisahan raga, namun sungguh hati ini senantiasa lekat dan merasa haus untuk berada di sampingmu Bunda. Aku tak tahu kemana harus mengadu ketika hati ini bergumul dengan keresahan, terkadang aku hanya mampu menangis membayangkan berada di pelukanmu ketika beban-beban kehidupan satu persatu menampakkan taringnya, dan raga ini terkadang hanya bisa meringkuk lemah ketika terpaan cobaan menghadang di depan mata.

Sungguh aku mengharapkan kehadiranmu ketika itu Bunda. Namun, dengan bijak, engkau selalu menguntai ucapan-ucapan pembangkit semangat bagiku. “Nak, inilah hidup, inilah tahapan dewasa yang selalu engkau nanti-nantikan itu. Berjuanglah nak, Ibu akan selalu mendoakanmu… Cukuplah Allah yang menjadi peganganmu ketika engkau merasa sedih, putus asa, kesakitan, dalam menghadapi cobaan. Nak, memang Bunda tidak berada di sampingmu saat engkau butuhkan. Bunda hanya bisa menangis dan mendoakanmu, serta melafakan kepada Tuhan agar senantiasa melindungi dan memberikan engkau kekuatan. Bunda titipkan anak yang Bunda kasihi hanya kepada Allah semata…”

Kembali bulir-bulir air mata itu jatuh mendengar pesan darimu Ibundaku tersayang. Wanita mulia yang dari rahim sucimu terlahirlah anak-anak harapan bangsa, generasi pembangun umat, dan pencipta peradaban. Sungguh mulia perananmu Bunda.

Bunda, maafkan..maafkan diriku yang kadang tak berdaya melawan nafsu angkara syetan untuk melawan kepadamu. Sehingga sering terucap dari lisanku kalimat-kalimat pedih nan menyakitkan. Bunda izinkan aku untuk membalas semua jasa-jasamu. Izinkan aku untuk membahagiakanmu Bunda. Sungguh raga ini akan berjuang untuk mengukir senyuman kebahagiaan untukmu.

Bunda yang kucintai…

Aku akan selalu merindukanmu disini….

Aku akan selalu berjuang….

Doakan aku selalu bunda

21 desember 2009

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, catatan buruk, Karya. Bookmark the permalink.

4 Responses to Aksara untuk Bunda

  1. rahmat firdaus says:

    seandainya surat ini betul2 sampai ke tangan ibunda 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s