Gawat itu

Alhamdulillah…

Akhirnya ini tangan berhasil juga menari-nari narsis di atas keyboard laptop acer yang lumayan kucel dan dekil  karena sudah lama dibiarkan terbuka siang malam oleh pemiliknya. Ah… sungguh susah ternyata untuk sekedar berhenti sejenak berpikir di depan halaman Microsoft word ini. Ada ada saja pemikiran jahat yang membuat niat untuk memposting sesuatu di blog terhenti. But, finally I did it. Hehehe…

Alhamdulilah wa syukurilah, 95% siklus profesi keperawaratan kegawatdaruratan telah kami (kelompok F) jalani dengan penuh perjuangan, keringat, dan sedikit tetesan air mata (5% lagi proses pengumpulan laporan dan  masih tersisa 1 hari dinas, *ntar malem minggu saya dinas di IGD mamahhh TT_TT*). Ga terasa ya… perasaan baru kemaren capek-capek pulang dari Painan dari siklus anak, trus masuk siklus KGD, eh ternyata udah 1 bulan aje…

Pertama perlu digarisbawahi, siklus Keperawatan gawat darurat bukanlah sebuah siklus yang gampang (konon kabarnya menjadi 3 siklus teratas yang paling ditakuti mahasiswa), namun juga bukan siklus yang susah. I mean, siklus ini akan menjadi siklus yang mudah apabila mahasiswa profesi mampu menjalankannya sesuai dengan aturan yang berlaku dan berjalan mengikuti arah yang benar. Yah misalnya, kalau dikasih deadline bikin tugas tanggal segini trus responsinya tanggal segitu, maka ikutilah hal tersebut dengan baik. Kemudian aturan perdinasannya yang yahhhh lumayan ketatlah. Gak boleh ini ga boleh itu nya sih cukup banyak dibandingkan ruangan lain. Secara ketiga ruangan (ICU-CVCU-IGD) adalah ruangan-ruangan dimana pasien yang dirawat masih dalam fase “GAWAT”. Jadi mahasiswa mau ga mau ya harus mau untuk menjalankan semua ini dengan keikhlasan, #ciyehhhhh bijak bener heheh #

Minggu pertama Ni dapat siklus di CVCU (Cardiovaskuler Care Unit) tempat rawat intensive penderita penyakit jantung gitu deh, kemudian minggu kedua di ICU (Intensive Care unit). Dinas di sini cukup seru. Pertama, karena disini ruang lingkupnya cukup lapang dan nyaman (berAC getoh). Dari nurse station kita bisa memantau dan memonitor keadaan seluruh pasien yang memang terbilang gawat darurat. Kemudian di sini semuanya itu serba teratur. Mulai dari dimana letak perkakas-perkakas medisnya, dimana ngambil ini ambil itu, dimana buang sampahnya, kemudian urutan aktivitas dari pagi hingga pagi lagi sudah terjadwal dan kudu dilaksanakan sesuai dengan waktunya. Dan satu hal, perawat disini mustilah orang-orang yang sigap, cepat tanggap dan berpikir kritis. Secara pasien yang masuk adalah pasien yang kondisinya gawat dan benar-benar membutuhkan perawatan serta pengobatan yang serius.

Nah lain lagi di IGD. Dinas disini, sungguh membuat saya seperti sedang berada di lokasi peperangan. Pasien datang tanpa kita duga. Beda dengan ICU dan CVCU, setiap pasien yang akan masuk ruangan, pastilah akan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada orang-orang ruangan apakah masih bisa dirawat di sana atau tidak. Nah kalau di IGD, kita ga bisa menebak pasien dengan jenis apa yang akan masuk pada hari itu. Yap, disini kita-kita akan dihadapkan pada berbagai macam kondisi dan penyakit pasien, dengan berbagai macam tingkat kegawatan, serta berbagai macam tingkah polah.

Yak, dinas di sini benar-benar membuat saya seperti dalam kondisi perang. Dimana semuanya harus dilakukan serba cepat. Bunyi ambulance yang meraung-raung dari kejauhan sontak akan membuat kami segera tegak karena signal di otak akan ikut meraung-raung “Ada pasien!!”. Bayangkan saja jika yang  datang adalah pasien kecelakaan lalu lintas yang mengalami trauma kapitis berat, penurunan kesadaran, luka menganga dimana-mana, darah berserakan. Gimana ga bikin seperti perang coba. Dinas disini benar-benar tidak bisa dibuat santai dan berleha-leha. Kaki rasanya udah pegel-pegel karena berjalan kesana-kemari dan ga ada tempat duduk pun yang bisa disinggahi. Ok well… itu versi curhatan ga penting nya. But, tahukah kamu?? Dinas di IGD sungguh asik dan menarik. Setidaknya itu yang saya rasakan. Di sini saya bisa belajar berbagai macam tindakan. Yah setidaknya saya jadi bisa mencobakan RJP (resusitasi jantung paru) langsung kepada pasien yang sekarat dan setiap harinya menjadi perawat penghisap darah pasien, kamsudnya ngambil-ngambilin darah pasien.

Selama dinas di IGD, setidaknya pasien tergawat yang pernah aku saksikan adalah pasien cedera kepala berat akibat kecelakaan lalu lintas (waktu itu anak-anak) kepalanya sampai remuk seperti bonyok dipukul keras (ya Allah), kasihan betul melihat kedua orang tuanya. Dokter aja rasanya ga tega ngasih tau kondisi sebenarnya dari si anak (yang hanya bisa dirawat dengan baik namun tidak bis adioperasi karena resikonya besar sekali). Kedua adalah seorang ibu muda hamil anak pertama, hipertensi, dan akhirnya kejang, eklampsi kalau tidak salah. Hiks… setelah kejang, si ibu muda mengalami oenurunan kesadaran dan memberontak. Kasihan betul lah menyaksikannya.

Ya okeh sodara sodara… itu sekelumit cerita oleh-oleh dari siklus KGD. Sebenarnya banyak sekali kisah disini. Etapi kita ceritanya dikit-dikit aja yah…

 See ya!

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Nursing Diary, PSIK FK UNAND. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s