Jilbab Rebus

Entahlah…
Kadang, walau saya sangat yakin bahwa saya adalah salah satu makhluk Allah yang keren di muka bumi ini, namun pada malam itu ketika saya kebagian jatah dinas sore di ICU, ke-keren-an saya seolah-olah menurun drastis beberapa level gegara ditegur lagi mengenai jilbab saya yang kelebaran sekaligus kedalaman dan saya hanya mampu tersenyum seraya berkata,”Iya bu… nanti Aini ganti jilbabnya”. Ahhrggg… saya pikir  itu jawaban yang sangat  tidak keren sekali.

Ya… ya… itu hanya jawaban untuk memuaskan nafsu angkara murka salah seorang pengawas perawat yang tetiba hipertensi demi melihat seorang mahasiswa praktek seperti saya memakai jilbab dalam di ruangan ICU. Kemudian mengalirlah dalil-dalil dari sang pengawas betapa tidak bolehnya  mahasiswa (sekali lagi MAHASISWA *berarti kalau statusnya bukan mahasiswa boleh boleh aja) memakai jilbab dalam di ruangan itu karena bisa menjadi sarang kuman dan bakteri sehingga resiko menginfeksi pasien dan perawat akan lebih tinggi.

Hiks karena ditegur itu, sepanjang sisa dinas sore, saya terpaksa memangkas jilbab ke atas *istilah apa ini*.
Padahal oh padahal, sudah 2 minggu ini saya dinas di CVCU, ICU, bahkan di Perynatologi ketika dinas di anak, saya menggunakan stenen dan jilbab yang sama. Dan semuanya berjalan Oke-oke saja. Tidak ada yang protes, bahkan kepala ruangannya CC-CC saja. Tetapi kenapa justru di hari terakhir dinas di ICU kemaren ini nasib buruk kena kopi hitam bin pahit lagi dari pengawas????

Dan karena tegurnya itu datangnya justru di hari terakhir dinas di ICU, yaa saya berusaha untuk tetap cool. Besok-besoknya ketika dinas malam di IGD tetap saja saya nekad memakai jilbab hitam lebar yang sama walaupun saya membawa cadangan sebuah jilbab semimini (ukuran berapa tuh Ni??) yang *terpaksa* saya beli gegara takut ketahuan pengawas. #lagi-lagi Saya merasa ke-keren-an saya menurun beberapa level 😦 …

Semenjak itu, saya sangat alergi untuk bertemu dengan pengawas perawat yang tiap hari *gak tentu jam* datang ke ruangan-ruangan demi mengabsen kehadiran, mencek situasi dan kondisi and stuff like that. Yah, semoga saja saya tidak dilaporkan dan masalah “jilbab lebar x dalam (tapi tidak tinggi) ” ini, tidak menjadi trending topic di meja-meja rapat para petinggi Rumah Sakit. #sokIyes

And… finally, saya masih bingung ini sodara-sodara. Next siklus adalah siklus Maternitas a.k.a kebidanan. Dan lagi-lagi bakal ada adegan dimana saya harus dinas menggunakan stenen dan jilbab hitam (*argghhh kenapa musti HITAM hah??). Saya bingung, di siklus ini bidannya gawat-gawat semua kabarnya (maksut looo Ni???). Kamsutnya, di sini memang benar-benar ditekankan untuk mahasiswa keperawatan/kebidanan untuk memakai jilbab mini!! *kadang saya iri dengan teman-teman akhwat dokter muda yang bisa bebas keluar masuk ruang Kebidanan dengan stenen ber-rok dan jilbab lebar…huahhuhuhuhiksuuu…

Maka demi itulah akhirnya saya memutuskan untuk merebus, eh salah… maksud saya menghitamkan salah satu jilbab putih semi lebar (*lagi-lagi saya tidak menemukan istilah yang tepat (=..=)) untuk dinas di ruang kebidanan nanti.

Jilbab putih semi lebar itu sengaja saya beli bersama Ama *dengan amat susah payah untuk ditemukan* di salah satu pasar Payakumbuah untuk dipakai dinas preklinik ICU setahun yang lalu. Ketika itu kami mahasiswa preklinik masih pakai jilbab putih. Rencananya itu jilbab mau saya pakai sampai Profesi. Eh gak taunya peraturan jilbab putih diganti menjadi jilbab hitam. Makanya saya kalang kabut.

Singkat cerita, saya merebus itu jilbab dengan wantex seharga 1700 perak dan menyulapnya menjadi warna hitam. Hiks… saya sedih… saya pasti akan merindukan kondisi jilbab itu dengan warna putihnya. Namun mau bagaimana lagi. Demi menentramkan bathin para clinical instructur, saya harus berkorban saat ini.

Ahhhh kadang saya iri dengan nasehat orang-orang yang bunyinya seperti ini : Berjilbablah! Ulurkanlah jilbabmu ke dada!
Demi apa coba ketika banyak wanita lain diluar sana diperingatkan bahkan ada yang diprotes keras karena tidak berjilbab atau jilbabnya yang kekecilan, sedangkan saya di sini kena tegur terus gegara jilbab yang *again* kelewatan dalamnya.

hehe, i wish bakal ada perawat yang menyuruh saya: “Aini, dinasnya pakai rok aja, jilbabnya pakai yang biasa Aini pakai aja yahh..” #mimpi

Sepertinya saya  tidak akan bosan untuk mengucapkan hal ini,”Itulah perjuangan…”
Yahh… saya yakin, saya akan semakin keren jika bisa melewatkan ujian ini dengan penuh perjuangan dan kesabaran.

#cemungudhhh eaaa Nur’aini… 🙂

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in narsis nurses, niners, Nursing Diary. Bookmark the permalink.

9 Responses to Jilbab Rebus

  1. fae says:

    cemanyat kaka… 🙂

  2. baru tahu saya kalau jilbab bisa dianggap jadi sarang penyakit… 🙂

  3. kenapa aku ngerasa tuh pengawas akan dapet hidayah sesuai mimpi aini di puncak keusilannya #lebay.com 😀 mari doakan saja dia….^_^

  4. rahmat firdaus says:

    selain direbus, untuk menghitamkan jilbab juga bisa dengan cara dibakar 🙂

    numpang iklan ya ni.
    http://adalahclothing.wordpress.com/
    ^yg mau bikin kaos satuan, mampir ya

    • digoreng sampai hangus juga ujung-ujungnya hitam loh bang…

      hahahah… sipt bang…
      nanti kalau ada adik adik di Forum atau BEM yang mau bikin jaket, Ni “asuang-asuang” untuk pesan di adalahclothing….
      ahahah,,, nama yang sangat lucu… ^_^

      • rahmat firdaus says:

        seharusnya dibaca ‘adalahclothing (sesuai logonya), tapi mungkin akan menyulitkan sebagian orang 🙂

  5. Yang ini, nih, Pernah dicomment kayak gini juga Kak. Pas PL.. Huff… Insyaallah, ujian kesabaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s