Hikmah

Waktu di desktop laptop saat ini menunjukan pukul 4:22 WIB. Entah apa yang merasuki pikiranku sampai akhirnya aku memutuskan untuk terjaga pada pukul 2:30 tadi untuk melakukan beberapa ritual seperti sholat malam dan membaca beberapa kisah di internet dari layar Handphoneku (*sebut saja itu ngenet Ni, ribet bener,,, kehkehkeh). Dan rasanya akan sangat sayang sekali jika melewatkan kesyahduan sepertiga mala ini tanpa merenung memikirkan masa depan dengan mengucapkan beberapa pengharapan kepada Yang Maha Kuasa. Seketika juga, pikiran membawa tangan dan organ-organ tubuhku untuk mengaktifkan laptop. Barangkali pikiranku sedang berbaik hati sehingga bisa menuliskan beberapa patah kata yang “mungkin” tidak begitu penting setelah begitu lama aku tidak menulis beberapa waktu ini.

Hmm… Ini tentang kehidupan sehari-hari yang “mungkin” tidak begitu penting untuk diketahui orang lain. Tapi setidaknya itu “cukup” penting bagiku dan masa depanku. You know what? Sudah seminggu ini aku dan teman-teman sekelompok  (*aku sedang berbicara tentang kelompok Profesiku) dipulangkan secara halus ke rumah demi suatu miss and discomunication antara pihak kampus dan Rumah Sakit. Terlalu ribet jika kuceritakan alur “pemulangan” ini kepadamu kawan. Intinya, seminggu terakhir ini kami tidak dinas dan dipersilahkan istirahat sambil menunggu kabar kepastian di rumah masing-masing. Di satu sisi aku begitu senang, sudah hampir 3 bulan aku tidak pulang kampung gegara profesi ini. Namun di satu sisi yang lain, ada kekesalan dan ketakutan akan nasib dan kelanjutan cerita dari profesi kami ini. Ya, waktu kami tidak banyak. Keegoisan dan keambisiusan dari jiwa “kemahasiswaan” kami membuat kami terlalu terobsesi untuk bisa mencapai target yudisium setidaknya akhir Oktober nanti. Itu sudah menjadi semacam “komitmen” tak tertulis dari kelompok. Dan tentu saja agenda “pemulangan-secara-lembut” ini cukup membuat cemas jika sampai berbuntut pada “pending sebulan dinas” yang otomatis akan mengacaulan jadwal dinas yang sudah tergambar dengan rapi di benak kami. Semoga ini tidak terjadi ya Rabb …

Namun, apapun bisa terjadi sobat! Percayakan semuanya kepada Allah. Ya, aku hanya bisa menenangkan dan menghibur diriku sendiri dengan mengembalikan semuanya kepada keputusan Allah. Aku pernah diberitahu oleh seseorang yang diberitahu oleh seseorang yang diberitahu oleh seseorang entah siapa yang oleh orang itu mungkin (*bukan mungkin Aini, tapi pasti!) mendapatkan sebuah kata hikmah yang cukup bijaksana dari kitab suci Al-Qur’an bahwa: Selalu ada hikmah dan pembelajaran dari suatu kejadian yang menimpa umat manusia.

Ya. Akan ada hikmah dan itu patut disyukuri oleh umat manusia bagaimanapun bentuknya. Sebut saja salah satu hikmah yang bisa terjadi itu adalah:

  1. Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di kampung halaman, and you know what? Ama ku baru saja kecelakaan dari sepeda motor bersama adikku pada hari pertama kami “tidakditerima di RS”, tidak begitu parah, namun cukup membuat beliau shock dan ada beberapa luka serta ketidaknyamanan di tubuhnya sehingga beliau harus bedrest dan tidak bisa melakukan aktivitas rumahan. Dengan demikian kepulanganku ke rumah adalah pada waktu yang tepat. Karena aku bisa ikut merawat Ama dan menggantikan Ama melakukan pekerjaan rumah sampai Ama benar-benar fit kembali.
  2. Pada akhirnya aku berhasil memproses pembuatan E-KTP*bakarkembangapi* *sujudsyukur* !!! Yap, sudah lebih dari sebulan yang lalu Ama memintaku pulang karena sudah adanya surat panggilan *telat emang ckckck* dari Kecamatan untuk kami sekeluarga *yang sudah lewat usia 17 tahun* untuk segera mengurus pembuatan e-KTP ini. Sebagai warga Negara yang taat, Ama memintaku untuk izin dinas beberapa hari demi mengurus pembuatan e-KTP ini. Namun tentu saja itu tidak mungkin. Meminta izin dinas untuk hal lain selain“adanya kematian dari keluarga paling dekat” adalah tindakan bunuh diri di dunia per-dinas-an keprofesian. Untuk 1 hari ke-alfaan mahasiswa diwajibkan ganti dinas 3 hari. Belum lagi izin berarti melewatkan momen untuk memenuhi lembar kompetensi dan akan mengacaukan jadwal seminar ataupun penyuluhan yang sifatnya wajib. Intinya: Jangan cari mati Ni…! Aku sudah menjelaskannya kepada Ama, dan Ama akhirnya cukup bernafas lega dan berhenti menerorku untuk segera pulang kampung setelah mendengar berita pembuatan e-KTP ini diperpanjang selama bulan Juli. Finally, dengan adanya break dinas aku akhirnya melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan menuju kantor Kecamatan untuk menyerahkan data-dataku demi e-KTP ini. Ahhhh… aku memang warga Negara yang baik #selfKeplak
  3. Bertemu dengan akak dan mokdang. Kuberitahu kawan, aku dan kakakku juga sudah cukup lama tidak bersua. Itu sudah lebih dari 4-5 bulan kami tidak bertemu. Dan kebetulan akak juga sedang berada di rumah ketika Ama jatuh dari motor. Selama di rumah Mokdang (adik Ama tertua) memanjakanku dengan berupa-rupa jajanan seperti bakso, sate, pragede jaguang *paporitku iniii 😀* Banzzaaaaiii!!!
  4. Berhasil mentransfer uang 10.000 Ama ke rekeningku! LOL!!! Ini cukup penting kawan. Bayangkan saja uang di ATM ku itu bersisa 395.000 rupiah. Kamu tahu artinya apa? Aku hanya bisa mengambil uang 300.000 saja dan harus merelakan 95.000 itu bertengger di ATM karena *entah demi alasan apa* Bank tidak memperbolehkan uang yang tersisa di rekening kurang dari 50.000! *ini cukup mencekik demi mengingat betapa berharganya uang 50 rb bagi mahasiswa kere sepertiku!* Sudah lama aku ingin mengajarkan bagaimana cara transfer antar rekening via ATM kepada Ama. Tapi Ama selalu menolak dan ragu-ragu dengan berdalih takut uang nya hilang keman-mana. Yah, walau pada akhirnya Ama masih menolak untuk kuajarkan, setidaknya aku sudah mendapatkan izin mentransfer uang Ama –cukup 10 ribu saja- untuk menyelamatkan jatah 50 rb uang bulananku. Terimakasi Ama! Ahaha
  5. 5.       Finally aku berhasil berbelanja sendiri ke pasar! Ini sangat penting kawan. Sedikit berbagi cerita, aku kurang suka dengan suasana pasar. Di Padang pun aku juga kurang suka jika harus membeli beberapa kebutuhan di pasar raya. Sesak, berdempet-dempetan, dan TAWAR MENAWAR HARGA! Itu yang paling tidak kusuka. Namun ketika pulang kampung kemaren ini, sudah 2 kali aku menggantikan Ama berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Dan yang terpenting dari kisah ini, aku berhasil membeli 1 ekor ikan! *penting ini Ni? Penting sekali!!* Rasanya cukup bangga bisa membeli ikan, daging, beras, dan bumbu-bumbu dapur dalam waktu yang bersamaan. Arghh…
  6. 6.       Memberikan peluang kepada Ama untuk bermain Zuma Deluxe “again”. Ahaha… aku tahu, ama cukup stress dan shock dengan kecelakaan kemaren itu. Sampai-sampai selama di rumah aku tidak diizinkan membawa kendaraan dengan kecepatan di atas 30 Km/jam serta terus mewanti-wanti dan menasehati untuk tidak ngebut selama di jalan mengingat betapa kejamnya jalan raya  *huhuhu, seandainya Ama tahu bagaimana style bermotorku di Padang #selfkeplakAgain *.

Dan aku sangat tahu, salah satu cara membuat Ama relax adalah dengan memberikan peluang kepada beliau untuk nge-games! Yeah! #selfkeplakAgainAndAgain. Hmm… kami sekeluarga *kecuali Apa* memang game addict sejak dahulu. Dahulu zaman-zaman Uda SD, waktu itu yang ada baru Vidio Games, uda sudah membuka rental di rumah (taon 93-an itu). Alhamdulilah kondisi Video games itu masih bagus sampai bertahun tahun kemudian. Kami sekeluarga sering battle games di rumah. Apalagi jika masa-masa liburan sekolah. Tidak hanya aku dan saudara-saudaraku, adik-adik sepupu, Ama, sampai Ibu (*nenekku) juga suka bermain dengan pidio games ini. Permainan kesukaan Ama dan Ibu itu Super Tank, Bombar Man, dan permainan temba-tembak serangga yang aku lupa namanya. Setelah kemunculan kompuer di rumah ketika aku kelas 2 SMA, muncul kegemaran games baru: Zuma Deluxe dan permainan bola-bola warna-warni yang entah apa namanya *benar2pelupa (=..=). Ketika kami kuliah computer itu rusak, pidio games dinonaktifkan, sebagai gantinya sekarang adikku yang laki-laki malah ngerental-in PS2 nya di rumah. Dan ketika pulang kerumah kemaren, tentu saja laptopku menjadi incaran Syifa dan Adit (*adik-adikku) walau aku sudah mendelete semua permainan kecuali Zuma demi menyelamatkan laptopku dari incaran tangan tangan jahil mereka. Entahlah, walau Cuma Zuma, ternyata adikku yang laki laki dan Syifa masih saja berselera untuk memainkannya (*padahal di PS sudah cukup banyak jenis permainan). And finally, Ama juga ikutan main. Ketika Adit dan Syifa sudah lelah berebut laptop Ama akan mengambil alih dan mulai memainkan Zuma, permainan yang sudah cukup lama tak disentuh Ama. Fufuf, aku hanya bisa tersenyum. Sesekali tak apalah…

7.       Pai baralek!! LOL… Selain ke pasar, hal yang paling jarang aku lakukan adalah “PAI BARALEK”. Apalagi selama di kampung, mana pernah aku pergi baralek dengan Ama. Kalau dulu waktu SD sih alasan Ama adalah enggan membawa anak kecil. Pas remaja, aku yang enggan ngikut-ngikut Ama. Sudah bukan rahasia lagi jika banyak orang-orang yang tidak tahu bahwa dirku adalah anak Ama karena amat sangat jarangnya kami melakukan ritual2 -Ibu-anak gadisnya- bersama (seperti ke pasar, baralek, and stuff), sampai-sampai Ama pernah benar-benar memarahiku karena menolak untuk ikut baralek di perkampungan suku kami (*ngerti kan?) yang notabene isinya adalah keluarga dekat sesuku.”Bilo juo lai katau jo urang kok ndak pernah kalua rumah” (*yang tidak mengerti maaph silahkan cari sendiri di google translate phuhaha … *ditimpuk*). Yeah, sama dengan alasan ke pasar, finally aku harus menggantikan Ama untuk Pai baralek sodara. Untunglah ada Syifa fan Nenek yang menemani dan sepanjang perjalanan aku diceramahi dan dinasehati Enek,” Kalau bisuak Ani baralek jan pakai artis-artis mode yang tadi tuh ndakk…” Siiiiiiaaaappppp nek!!!

8.       Berpartisipasi di  sirkumsisi (read: Sunatan) masal yang diadakan oleh Gonjong Limo FK Unand. Gonjong Limo (G5) yaitu Ikatan Mahasiswa Payakumbuh-50 Kota yang kuliah di FK Unand dan sirkumsisi merupakan agenda rutin yang biasa dilaksanakan. Kali ini Sirkumsisi diadakan di SD 04 Kubang. Whoaa… sudah lama sekali aku putus hubungan dengan G5 ini. Dan tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan ikut join dengan agenda sirkumsisi ini setelah Kak dr. Ika mengajakku untuk berpartisipasi beberapa hari sebelumnya. Setidaknya dengan berbekal pengalaman klinik selama profesi, semakin membuatku antusias dengan agenda sirkumsisi ini. Tapi sayang, separoh acara, diriku terpaksa pulang karena segera harus ke Padang. Gomen ne minna, padahal pengen berlama-lama membantu disana >..<

 

Yeah… Benar-benar liburan yang menyenangkan bukan? Walaupun masih dibayangi perasaan was-was tentang dinas. Namun setelah beberapa hari berlalu dan banyak kejadian, sepertinya aku hanya perlu untuk selalu bertawakal, kemudian menyerahkan semua keputusan kepada Allah.

 

Finally, saat ini aku sudah kembali ke Padang, dan mungkin akan menghabiskan beberapa hari ke depan di Padang sembari menunggu kepastian jadwal dinas. Dan dalam beberapa hari kedepan sudah ada saja agenda yang kurencanakan. Seperti bertemu dengan teman-teman, bayar uang kuliah **hadehhhh, tapi janji ini yang terakhir bayar SPP di Unand! LOL** melaksanakan kewajiban sebagai panitia Seminar Pendidikan ACIKITA, dan itu sedang ada pembahasan untuk gathering KEPEDEAN season II.  Semoga dimudahkan dan dilancarkan Allah. Amin ya Robb 🙂 …

 

Pasti akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian bukan? 🙂

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in CAhaya Hikmah.., Cahaya Legend, catatan buruk. Bookmark the permalink.

5 Responses to Hikmah

  1. cara mensykuri musibah yang tepat adalah dengan mengambil hikmah atas musibah tersebut

  2. Lhona PS says:

    coolllllllllll…..menarik kak ainitul..^^

  3. fannynovia says:

    Salam kenal Aini..*mesti panggil uni atau ga ya?* hehe…aku liat di FB, mutual friend kita lumayan banyak loh, ada teman2 sejurusan aku di Teknik Lingkungan juga..kenalin nama aku Fanny..mampir ke blog aku juga ya..*aku add kamu d FB*

    http://fabulouspace.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s