#AddedValue

Nilai Tambah

 

Beberapa hari terakhir ini, ketika saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah di kampung halaman tercinta, saya banyak bertemu dan berjumpa dengan kawan-kawan lama yang tidak begitu akrab, namun saya cukup mengingat mereka. Walau saya tidak begitu hapal nama-nama mereka, namun saya si otak kanan yang memiliki kemampuan ingatan visual yang baik (jangan terlalu pede sodara!!), jadi saya tahu persis mereka adalah bagian dari masa lalu saya apakah itu di bangku SD, SMP, atau SMA.

Memang tidak begitu banyak interaksi yang terjadi diantara kami. Satu hal yang membuat saya miris, sedih, bangga sekaligus haru adalah mendapati kenyataan saya bertemu dengan mereka dengan kondisi mereka yang sedang bekerja di toko, menjadi sopir, sebagai pedagang makanan frenchise di pasar, atau ketika sedang mengasuh anaknya. Tidak ada yang salah memang. Saya bertemu dengan mereka dalam kondisi mereka yang sedang berusaha memperbaiki strata perekonomian dengan cara yang halal. Dan dapat saya duga, kawan-kawan saya tersebut sama sekali tidak melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang perguruan tinggi setamat dari SMA.

Di sisi lain, saya mengetahui dan sempat bertemu dengan beberapa orang kawan kenalan ketika SD, yang lainnya adalah sahabat saya ketika SMP dan SMA, yang sudah memiliki pekerjaan bonafit di perusahaan di pulau Jawa dan Kalimantan. Diantara mereka juga sudah ada yang singgah di beberapa Negara di berbagai benua, menghadiri event-event Internasional dan ah sepertinya Berjaya sekali.

Saya sempat terpaku dan merenung. Ada dua sisi yang bertolak belakang disini. Mungkin bisa kita bahasakan seperti ini: Bagaimana nasib orang yang “tidak mendapat nilai tambah” dan “orang yang sudah mendapat nilai tambah”.

Nilai tambah (added value) yang saya maksud disini adalah semacam “ilmu, pendidikan, keterampilan” yang meningkatkan kualitas sumber daya seorang manusia, sehingga nilai jual (proses penggunaan energy mereka dalam berkarya dan mencari nafkah) akan lebih meningkat dibandingkan dengan SDM yang tidak memiliki nilai tambah.

Untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan memang  merupakan sesuatu yang mahal saat ini. Pendidikan tinggi sesumbar dikatakan hanya untuk mereka yang “berduit”. Proses pemberian bantuan dana pendidikan tinggi juga tidak diberikan kepada orang sembarangan. Haruslah mereka yang memiliki kualifikasi kepintaran tertentu atau mereka yang berada dalam keadaan benar-benar kurang mampu namun memiliki semangat yang tinggi dalam menempuh pendidikan.

Memang bukan salah sahabat-sahabat saya itu jika mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan daerah dan mengecam pendidikan yang lebih tinggi. Toh keterampilan tidak hanya bisa didapatkan di bangku perkuliahan. Namun sangat luas ruang lingkupnya jika manusia mampu bergerak aktif untuk mendapatkannya. Menjadi seorang enterprenuer kemudian fokus  berusaha disana juga bukan pilihan yang buruk. Dan tentu saja sudah ada pula beberapa orang kawan (*ya saya punya banyak kawan sodara :D) yang tanpa duduk di bangku kuliah pun tampaknya mereka sudah sukses sebagai seorang saudagar (*jiaahh istilah ini J) di rantau sana, sehingga mereka tak segan-segan mentraktir kami-kami yang masih menengadahkan tangan kepada orang tua untuk kuliah ini.

Untuk semua sahabatku, mari kita tingkatkan “added value” yang potensinya sudah ada di dalam masing-masing raga kita. Apapun profesi dan jalannya, jika kita selalu mengasah bakat dan potensi yang ada, insyaAllah Allah akan memberikan berkah dan menjadikan kita sebagai permata yang berkilauan di masing-masing karier yang kita rintis. (*sedaapp, bijak euy :p).

Home sweet home, 26/7/12

9:34 PM

@aini_cahayamata

 

 

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s