Flashback Memoria

 

DISASTER NURSING ON THE STORY

Sebuah Kisah tentang Kita dan Sejumput Takdir Tuhan

 

–          21 Junii 2012

 

Malam ini udara cukup sejuk, entah ada angin apa, aku ingin sekali merapikan beberapa folder di laptop yang terlihat kacau balau dan awut-awutan. Tetiba aku melihat sebuah folder yang sudah lama tidak kukunjungi. Ya, sudah hampir 2 tahun ini aku sama sekali tidak menyentuh folder itu. Folder yang berjudul “Tulisan Cahayamata” yang merupakan folder tempat aku menyimpan berbagai macam tulisan dengan berbagai genre yang entah sejak kapan mulai kutulis, kusimpan, dan sebagian besar kuposting di blog pribadiku.

 

Tetiba mataku tertuju kepada salah satu file dengan judul yang cukup menggelitik tanganku untuk membukanya “Mushola in memoriam”, tanpa memperpanjang durasi kepenasaranku, segera ku klik file itu. Aku ingat, ini adalah salah satu rangkaian note yang pernah kuposting di blog pada  tahun 2009 lalu, tentang bagaimana gambaran kampus kami Program Studi Ilmu Keperawatan pasca diguncang hebat gempa pada tanggal 30 September itu.

 

FlashBack…. 14 Januari 2010

Mushala in Memoriam….

 

What a nice camp, right??

Teman, sebuah tenda berdiri di samping kantin “Bundo”, berwarna putih seperti rumah siput, terlihat lucu dan unik. Tenda itu tentu saja tidak sama dengan tenda perkemahanku ketika kemping di zaman-zaman Pramuka SMA dulu, tetapi tenda berukuran kurang lebih 3×2 meter ini adalah “Mushalla Wanna Be”(?)  yang sekarang difasilitasi kampusku.

Yap, engkau boleh berbangga hati dengan Mushallah/Mesjid yang berdiri megah di tengah deretan gedung-gedung perkuliahan di kampusmu. Namun kami cukup bersabar dengan pemberian dan nikmat Allah yang satu ini. Buktinya kami tidak melayangkan komplain secara langsung kepada pihak birokrat kampus karena kami tau semua ini hanya proses menuju pembangunan kembali kampus pasca gempa. Sebuah moment yang benar-benar menguji kesabaran, menuntut perjuangan lebih agar kami tetap tegar dan bertahan.

Apa benar kampusku tidak memiliki Mushalla??

OOhh… tidak benar itu!! Sekali lagi, ITU TIDAK BENAR!!

Kampusku memiliki satu ruangan Mushalla “SEBELUM” gempa. Hanya ruangan kecil, seluas ruangan kelas untuk kapasitas 30 orang mahasiswa. Letaknya menyatu dengan deretan ruangan kelas yang lain.

Di dalamnya hanya ada 2 shaf sajadah dan 1 sajadah paling depan khusus “laki-laki”, dan tidak memiliki hijab.

Aneh???

Yup… Kuberitahu kawan, laki-laki yang notabene adalah kaum minoritas di kampusku “otomatis” akan mencari tempat sholat di luar kampus karena pada jam-jam sholat, wilayah Mushala, toilet, dan sekitarnya akan didominasi oleh “induak-induak” sehingga yang bapak-bapak “tasuruik” dan memilih ngacir mencari tempat sholat lain.

Paling hanya 1 atau 2 yang nekad dan sholat di sajadah tunggal paling depan.

Oke, kita lanjutkan ceritanya….

Mushalla “mini” kami ini adalah markas “besar” nya para ‘NIC-ers’. Kamu tau apa itu NIC? NIC adalah lembaga dakwah jurusan yang selama ini menjadi penggerak aktivias kemahasiswaan di kampus kami ketika HIMA pun belum begitu menggeliat dan masih hibernasi.

 Selain beribadah, kami sering mengadakan rapat, forum An-Nisa’, diskusi, atau sekedar istirahat di sini. Wah, memori-memori indah banyak terekam di ruangan yang di siang hari lampunya tetap dinyalakan ini.

Namun, G 30 S (baca: gempa 30 September 2009) telah mengubah segalanya.

Retakan-retakan indah yang menghiasi kantor dosen dan Biro mengakibatkan Mushala kami disulap secara paksa menjadi sebuah kantor dadakan. Ah, tidak tega rasanya melihat Mushala yang dulu kami injak tanpa alas kaki demi menjaga kebersihan dan kesuciannya, sekarang dengan semena-menanya dimasuki oleh “jajaran-jajaran terhormat “ dengan sepatu-sepatu beliau yang mengkilap.

Dan sekarang??? Eng ing eng…. Benda melingkar berwarna putih itulah “Mushala wanna Be” kami. Yang membuat kita harus berkuras keringat ketika sholat Zuhur di sana (lumayan sambil sauna), yang untuk masuk ke dalamnya kita harus membungkuk terlebih dahulu sembari berhati-hati dengan tali dan pancang yang malang melintang di sekeliling tenda.

Namun itulah perjuangan kawan…

Mungkin Allah sedang memberikan kesempatan kepada kami untuk meraup pahala sebesar-besarnya melalui ujian kesabaran ini….

Tetap semangat sahabat-sahabatku! Walau untuk sekedar sholat kita akhirnya memutuskan untuk berjalan sekian ratus meter ke Mesjid Nurul Iman untuk bisa melaksanakan sholat dengan lebih nyaman. Perjuangan kita belum seberapa berat dibandingkan perjuangan para sahabat ketika islam pertama tegak bahkan kita jauh lebih beruntung dibanding saudara kita di Palestine yang setiap saat melakukan ibadah mereka harus bertaruh nyawa.

Jadi bersabarlah, setiap selesai satu kesulitan ada dua kemudahan yang akan menanti… ^^

HAMASAH!!!

—oOo—

Aku tersenyum tipis membaca tulisanku lebih 2 tahun yang lalu ini. Terlihat jelas butir-butir semangat itu sungguh menguasai kami para mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK Unand. Yang dahulunya kampus kami berada nun jauh terpencil dari kampus Utama UNAND di Limau Manih dan terpisah dari kampus Induk Fakultas Kedokteran Jati. Yang setiap hari mahasiswanya kadang mengeluh dengan fasilitas kampus yang tidak memuaskan, kelas yang kecil dan pengap, kantin yang serba tak ada, akses angkot yang satu-satunya, ruang ibadah yang kurang nyaman, kemudian hal yang  paling  menakutkan adalah  karena kawasan kampus kami yang terletak di  zona merah rawan gempa dan tsunami. Dengan letak geografis kampus yang tak kurang dari 2 km dari “Tapi Lawuik” cukup membuat kami ber-takikardi-ria dan sesak nafas ketika gempa mengguncang saat kami sedang mengikuti perkuliahan. Tak ayal, pemandangan mahasiswa yang langsung kocar-kacir ketika gempa “kecil” menggetarkan adalah hal biasa yang terjadi. Bahkan ketika gempa tahun 2007, kampus kami diliburkan selama 1 minggu walau mahasiswa UNAND lainnya tetap menjalankan perkuliahan seperti biasa.

Belajar di bawah tenda adalah salah satu pengalaman menarik yang cukup menuntut kesabaran, ketika hampir semua kelas di kampus kami mengalami retak parah. Ketika mahasiwa mau tak mau harus merasa  nyaman untuk melakukan aktivitas perkuliahan, mengadakan kegiatan pratikum, berdiskusi untuk melanjutkan aktivitas kemahasiswaan, menjalankan beberapa agenda organisasi di bawah tenda yang sumpek dan panas. Huahhh… sungguh pengalaman yang berharga.

 Tak ada penyesalan Karen bisa menikmati semua hal tersebut. Karena kau tau kawan? Dengan demikian kami betul betul merasakan bagaimana harus menjadi mahasiswa “disaster campus”, kejadian ini benar-benar mendidik kami untuk menjadi mahasiswa yang tangguh dan siap untuk belajar di dalam kondisi apapun, dan pastinya belajar untuk ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan yang tengah Allah ujikan kepada kampus kami. Dengan penuh kesabaran, kami yakin “Badai pasti berlalu, setelah hujan petir menggelegar akan ada semburat pelangi indah di baliknya”.

Dan benar, roda kehidupan itu berputar kawan! Ada saatnya Allah menempatkan kita pada titik terendah untuk mengetahui betapa tangguhnya kita untuk menghadapi ujian dan terus berusaha, namun kelak ada suatu masa dimana dimensi kehidupan berubah dan berputar membolak-balik realitas. Saat ini aku , sahabat, senior, junior, dan civitas akademika kampus patut bersyukur. Allah memberikan setumpuk hadiah dan nikmat atas kesabaran kami menghadapi berbagai macam musibah.

Saat ini telah berdiri megah gedung baru kampus Keperawatan di kampus induk Universitas Andalas di Limau Manih. Suatu gedung yang berkali-kali lipat lebih luas dan megah dibandingkan dengan kampus kami yang lama di Pondok. Dengan berbagai fasilitas dan akses. Yang tentu saja ini harus kami syukuri dan seharusnya semakin meningkatkan potensi mahasiswa.

Keperawatan UNAND, perlahan namun pasti telah benar-benar menjelma sebagai sebuah kampus idaman yang pernah kuimpikan. Aku tersenyum simpul ketika menyaksikan berbagai dinamika kemahasiswaan yang semakin menggeliat di kampusku. Aku tersenyum bahagia menyaksikan junior-juniorku dengan begitu semangat mau dan aktif melanjutkan perjuangan kami di organisasi kemahasiswaan keperawatan, dan aku akan senantiasa tersenyum haru melihat semua ini bergulir indah dan bergejolak seperti aku dan kawan-kawanku seperjuangan pernah bayangkan di suatu waktu di masa lampau. Yaitu masa ketika kami masih berjuang di tengah serba kekurangan.

Dan satu lagi nikmat yang harus kami syukuri adalah diberikannya kepercayaan kepada kampus kami untuk menjadi sebuah FAKULTAS! Ya, kampus itu sekarang FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS ANDALAS. Indah bukan?? J

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”

Aku, Kita, dan Sejumput Takdir Tuhan

Pernah di suatu ketika aku, kamu, dan kita semua berada dalam masa-masa sulit yang memberatkan.

Dimana peluh beranak pinak membasahi dahi, tangis membuncah menyeruak di kelopak mata, dan hati ketar ketir berteriak galau.

Pernah di suatu ketika aku, kamu, dan kita semua berkata dengan wajah sendu…

“Alangkah rumitnya… alangkah banyaknya rintangan….alangkah sulitnya….”

Pernah jua terlintas di benak, ”Apa aku hentikan saja perjuangan ini?”

 

Lalu??? Kemudian??

 

Kitapun saling menguatkan,”Hanya karena itu kau menyerah kawan?”

Kita saling menguatkan meski tak begitu yakin dengan kesanggupan diri dalam menghadapi selaksa badai.

 

Kemudian mimpi-mimpi itu datang bak cahaya mentari di lembayung senja.

Menjanjikan malam yang menyejukkan, menjanjikan sinarnya sebagai bekal untuk kemudian kembali berjuang.

Dan senyum itu kembali merekah, mengundang sejumput kekuatan untuk tidak “berhenti sampai di sini”

 

Kemudian sujud dan do’a menjadi hamparan pengaduan untuk mengharapkan Ridho-Nya. Meyakinkan diri terhadap kekuatanNya yang tak terbantahkan lagi…

 

Demikianlah perjuangan…

 

Bukan pada sulit, mudah, ringan, berat, bahagia, atau derita dalam menghadapinya.

Namun bagaimana aku, kamu, dan kita tetap berjalan, berjuang, mengahadapi ini semua… Demi  goresan sejumput takdir Tuhan nan indah di masa depan kita semua…

 

“maka selama engkau masih berjalan, bersemangatlah kawan”

 

Padang, 23 Juni 2012

Nur’aini, S.Kep

Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan Unand 2012

 

nb: Maaph tidak ada picture et causa modem lola bin lemot

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in HIMA PSK, KamPus..., Keperawatan, kisah aini, kisah klasik untuk masa depan. Bookmark the permalink.

One Response to Flashback Memoria

  1. sandurezu says:

    eh, baru tahu an kak udah ada fakultas keperawatan..
    hehehe *aslindakupdet 😛

    nice flashback kak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s