Jejak Dramatis II (Pesantren Ramadhan On The Story)

Ternyata pasokan instruktur (?) di mesjid komplek ini dikelola oleh LPPM (untuk kepanjangan LPPM, cari sendiri! Hahah). Selain LPPM juga ada adik-adik santriwati kelas XII dari Perguruan Islam Ar-Risalah. Jadi mereka ceritanya sedang melaksanakan semacam  praktek lapangan dengan membantu pelaksanaan pesantren dan ikut membimbing santriwan dan santriwati di mesjid ini.

Hal ini cukup sangat membantu panitia dan instruktur pesantren. Mengingat lokasi yang sangat jauh, tak jarang banyak intruktur yang terlambat untuk ke mesjid (=..=) *acung* –> yang pernah telat, tapi gak sering kok ^^ hehehe.

Jadi setiap hari, sebelum kakak kakak isntruktur datang, adik-adik santriwati Ar-Risalah inilah   yang membantu peserta pesantren Ramadhan untuk memuroja’ah hapalan hadist anak-anak SMP, dan hapalan Al-matsurat anak-anak SD. Dan ikut membantu jadi mentor di sesi mentoring setelah penyampaian materi. Hmmm… amat sangat membantu bukan!

Dan sepertinya adik-adik peserta pesantren baik yang putri maupun yang putra sangat akrab dan bersahabat(*jiplak motto FKI Rabbani) dengan adik-adik Ar-Risalah. Secara mereka juga bermukim sementara di lingkungan Mesjid tersebut. Yang setiap harinya bergaul dengan adik-adik di kompleks itu.

Jadi ceritanya, tibalah masa adik-adik AR (selanjutnya Ar-Risalah disingkat AR :p)   harus kembali ke pondok pesantren. Karena akan ada agenda lain  di perguruan seperti I’tikaf dan lain-lain. Dan disinilah adegan dramatis itu terjadi. Adik-adik yang tau kakak-kakaknya mau pergi dan tidak akan membersamai mereka lagi di pesantren mendadak sedih dan mengharu biru. Sebagian besar dari mereka menangis dan tidak rela kakak-kakak AR  pergi. Apalagi adik-adik AR meninggalkan kenang-kenangan untuk masing-masing santri Ramadhan. Dan adik-adik juga berebutan memberikan kenang-kenangan untuk kakak-kakaknya dari AR.

Panitia dan Instruktur sampai dibuat kewalahan mendiamkan anak-anak SD yang menangis sesenggukan tidak mau berpisah. Hahaha, jujur aku juga merasa sedih dan kehilangan jika adik-adik AR  tidak ikut lagi bersama kami mengelola pesantren yang hanya tinggal beberapa hari ini. Tapi aku juga tidak bisa menahan ketawa (*entah kenapa) melihat ekspresi lucu dari adik-adik SD dan beberapa anak SMP yang ketika itu ikut di acara (*dadakan) pelepasan santriwati AR  ke pondok.

Aku dan beberapa instruktur mencari berbagai cara untuk menghentikan tangisan mereka. Mulai dari ancaman akan mengurangi “smile” atau semacam point per kelompok, atau iming-iming akan memutarkan film lucu dan seru asal mereka berhenti nangis. Tapi itu hanya sia-sia.

Anak-anak SD kembali brutal ketika kami memperbolehkan mereka untuk mengantar adik-adik AR ke mobil jemputannya, karena ada yang menarik-narik tangan adik-adik AR, mengepung(?) adik-adik AR sehingga kesusahan memasukan barang ke mobil. Beberapa dari mereka dengan sportif membantu mengangkatkan barang-barang anak-anak AR, walau masih sambil nangis dan bercucuran air mata (hahaha, asli ngakak), namun ada juga yang ekstrim seperti membentuk blockade (saling menautkan tangan) sehingga salah seorang anak AR terkepung di sudut dan tidak bisa keluar. Ckckcck, sambil menahan sabar aku berusaha menjelaskan bahwa kakak-kakak AR harus pulang ke Pondok, mereka harus melanjutkan sekolahnya. Tapi tau tidak apa jawaban adik-adik itu?
“Kami sekolah lo nyo kak”

“Tu, kakak-kakak AR ndak ka sakolah lo? Kadisiko se nyo mangawani awak tu?”
“Iyoooo… ndak usahlah kakak kakak tu sakolah, kan nyo ampia tamat lai mah”
 *gubrak*

Ondeh-ondeh… kami benar-benar kewalahan untuk mengembalikan adik-adik ke Mesjid. Sampai akhirnya adik-adik AR benar-benar pergi dengan mobil jemputan meskipun ada beberapa anak-anak SD yang nekat mengejar-ngejar ntuh mobil.

Pemateri yang ketika itu sudah datang Cuma bisa ketawa-ketawa sambil mencari cara untuk kembali menarik perhatian anak-anak SD yang dirundung duka tersebut. Kemudian beliau memutarkan film kartun lucu. Sehingga beberapa anak yang sudah kembali ke mesjid tertawa saking lucunya.

Karena mendengar kehebohan film dari microfon mesjid, anak-anak yang berada di luar mesjid segera kembali ke dalam untuk menonton film. Dan sesaat kemudian suasana kembali seperti semula, malah anak-anak itu tertawa-tawa melihat film yang lucu, setelah film kartun lucu habis  mereka meminta “tambuah pilem” kepada instruktur seolah-olah tidak ada kejadian sebelumnya.

Hahahahah… Sungguh anak-anak kecil yang mood dan perasaan mereka bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. Baru tadi mereka menangis meraung-raung (*lebay) karena sedih akan ditinggalkan adik-adik AR, namun sesaat kemudian mereka malah tertawa-tawa bahagia, lupa dengan air matanya. Ckckck

*geleng-geleng kapalo hambo*

Ternyata benar ukhuwah yang sudah dipupuk dan dibangun dengan baik akan menciptakan keterikatan bathin yang kuat. Sehingga akhirnya menyebabkan kesedihan serta tangisan ketika kata perpisahan harus terucap. *Asik!*

PS: Ssssttttt…. Nanti ketika pesantren Ramadhan benar-benar sudah berakhir, kami (*instruktur)  akan dilepas dengan cara seperti apakah oleh adik-adik santri disini?

  1. Dengan tangis mengharu-biru, ditarik-tarik,dikepung tidak boleh pergi
  2. Dengan senyum bahagia sambil berujar,”Pai lah lai kak…” *andweee,,,jangan sampai!!!*
  3. Biasa-biasa saja (?)

Hahaha,,, kita temukan jawabannya kelak di akhir siklus Pesantren. Kehkehkehekeh…..

NB : apload poto-poto ekspresi lucu adik-adik nanti-nanti aja yak di postingan berikutnya…hohoho *smirk*

 

 

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in akhwat militan, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s