Balada THR

Berbicara mengenai Hari Raya Idul Fitri, selain saling bermaaf-maafan, makan ketupat, dan saling mengunjungi, tidak lengkap rasanya kalau kita belum berbicara mengenai “THR”. THR alias Tunjangan Hari Raya. Entah darimana datangnya tradisi ini, yang jelas hal tersebut merupakan salah satu implementasi dari prinsip “saling berbagi”. Maka jadilah berbondong-bondong umat islam di Indonesia (*gak tau juga kalau di luar negeri sana gimana tradisinya) saling memberi dan menerima THR.

THR ini tidak bisa juga dikatakan sedekah  karena biasanya penerima THR tidak hanya kaum dhuafa, tetapi kerabat-kerabat dekat, sahabat, yang memungkinkan untuk menerima THR. THR juga tidak hanya dalam bentuk uang, ada juga yang ngasih THR dalam bentuk perlengkapan berlebaran, paket-paket Hari Raya (parcel), sarung, sejadah, mukenah, kue-kue, and stuff like that.

Bagi mereka yang THR-able (yang paling memungkinkan untuk menerima THR), hari Raya merupakan salah satu moment dimana mereka akan merasa sebagai orang yang kaya mendadak. Mereka yang THR-able diantaranya: Anak kecil, anak sekolahan (mulai dari playgroup sampai yang kuliahan), pegawai yang punya bos-bos tajir, istri-istri yang disayang suami(?), dan lain sebagainya.

Dulu sewaktu saya masih kecil (sekitar beberapa tahun yang lalu lah :p) ketika bakat “menambang di hari raya” saya masih sangat bagus, bahkan tanpa diminta pun saya akan diberi THR oleh sanak family. Ya, sudah semacam tradisi juga di keluarga kami THR diberikan kepada mereka yang berstatus “Anak” dan “pelajar” sebagai insan yang belum bisa menghasilkan uang. Ketika itu yang saya rasakan adalah senang dan bahagia. Ya iyalah, siapa juga yang gak happy dikasih duit. Namun sensasi lain yang menyebabkan kadar kebahagiaan saya meningkat beberapa level adalah karena uang THR yang saya terima masih BARU, wangi, dan tidak berkerut(?). Hah! Adalah semacam kebahagiaan tersendiri bisa mengkoleksi duit-duit baru tersebut. Tidak penting sih berapa nilainya, yang penting itu adalah “jumlah” alias berapa lembarnya. Uang – uang tersebut akan sangat saya jaga dengan hati-hati dan tidak boleh terlipat. Tentu saja saya juga jadi jarang jajan karena uang-uang kertas tersebut masih baru. Rasanya sayang aja kalau uang secantik itu dipakai buat jajan. Hahaha!

Seiring dengan berjalannya waktu, maka bakat THR-able akan berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Selain karena tarif(?) THR yang tidak mungkin lagi sebangsa duit bergambar oom Pattimura yang jika diberikan kepada bocah bocah ingusan akan membuat mereka senang minta ampun (So, om-om tante-tante bakal mikir 2 kali buat ngasih THR kepada yang sudah dewasa kehkehkeh), juga karena “bakat” menambang akan menurun. Apa sebab? Karena dulu ketika masih bocah-bocah, mungkin kita akan sedikit tidak tahu malu ketika mengemis-ngemis   meminta THR kepada orang tua, oom, tante, kakek, nenek, namun ketika sudah menginjak masa remaja dan dewasa, rasa malu itu akan bertambah. (*hehehe, udah gede masih minta-minta THR, apa kata duniaaaa hahah).

Tapi semua mitos diatas bisa teratasi jika dan hanya jika kerabat family sanak sodara memiliki tingkat “kedermawanan” yang tinggi sehingga tidak ragu-ragu lagi menghambur-hamburkan uang untuk bocah dewasa yang sudah enggan meminta-minta THR atau karena rasa malunya yang gak ningkat ningkat…. Hah!

Nah demikianlah, sebagai bocah tertua yang masih belum berpenghasilan, saya tidak terlalu berharap akan mengumpulkan serupiah dua rupiah ketika Lebaran kali ini. Namun ternyata masih ada yang kasihan melihat saya yang hanya menatap haru adik-adik, sepupu mengantri menerima THR dari para tetua yang sudah berpenghasilan. Bhahahaha, akhirnya lebaran tahun ini saya masih mendapatkan THR sodara-sodara!! Walau tidak banyak, angka-angka yang saya dapatkan lumayan tinggi dibandingkan penghasilan Adit dan Syifa (dua adik saya yang paling kecil). Impas dari jumlah THR yang saya dapatkan, malah Syifa dan Adit yang nuntut THR kepada Uni-nya ini. Yah, seikhlasnya aja ya! Maka saya infakkan kepada mereka masing-masing 2 ribuh perak…. bHahahha *uni pelittt* *dicubit*

#kalem

Eghm… dengan ini saya bertekad, bahwa insyaAllah lebaran kali ini adalah lebaran “TERAKHIR” saya menerima THR, next Hari Raya *semoga Allah masih memberikan kesempatan bersua dengan Ramadhan aminnnnnn* insyaAllah saya akan menebar-nebar THR untuk adik-adik, sepupuh, dan ponakan…. Hahahah… Amin ya RAbb

 

 

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s