Dari Libur Hari Raya, Baralek, dan Pendidikan. Apa Hubungannya Coba??? #abaikan judul ini!

Liburan untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri telah usai. Sudah masanya untuk kembali melaksanakan aktivitas sehari-hari, kembali menumpahkan semangat yang telah di-charge sebulan penuh bersama Ramadhan.

Bapak-Bapak sudah kembali ke kantor atau tempatnya bekerja, begitu juga dengan ibu-ibu, mulai berkutat dengan pekerjaan kesehariannya, anak-anak sekolah pun sudah kembali ke bangku pendidikan melanjutkan perjalanan akademik mereka.

Dan disinilah aku kembali berada, di Kota Padang tercinta. Walaupun belum ada jadwal melanjutkan aktivitas akademik, aku sudah buru-buru kesini untuk melaksanakan agenda yang sepertinya sudah memasyarakat di Bumi Minang untuk dilaksanakan setelah hari Raya yaitu Baralek.

Pergi menghadiri acara Baralek atau walimahan bukanlah termasuk salah satu agenda favoritku. Jam terbang pergi baralek ku bisa dikatakan rendah. Namun kali ini aku berkorban berangkat sebelum shubuh ke Padang untuk menghadiri acara baralek adik dari ibu kosku. Beliau sudah sangat baik mengundang keluargaku. Dan kedua orangtuaku sebagai warga Minang yang menganut paham “baso-mambasoi, sagan manyagan” menganggap ini adalah acara yang penting untuk dihadiri. Jadilah mereka mengutusku dan adikku untuk kembali ke Padang sebelum waktunya sebagai perpanjangan tangan dari Beliau berdua.

Sesampainya di Padang mulailah aku menikmati posisiku sebagai tamu undangan baralek. Karena baraleknya persis di depan pintu kamar kosku, berarti sepanjang hari aku akan berada disini. Di upacara baralek.

Apa yang bisa kita lakukan ketika baralek? Senyum kanan-kiri, mengisi buku tamu, menyerahkan kado, makan, menikmati music, bersalaman dengan mempelai, kemudian pulang. Namun tidak kali ini. Aku seperti menghadiri baralek sepanjang hari. Terang saja… Musik keras yang mengalun memenuhi pendengaran. Walau penyuka segala jenis music, namun entah kenapa music yang dihadirkan pada acara baralek pada umumnya tidaklah mengenakkan di telinga. Dan akhirnya pertanyaanku tentang kenapa di acara baralek itu selalu disajikan lagu Minang yang meratap-ratap terjawab sudah, mungkin itu karena mempelainya memakai suntiang! Ya, betul…! Itu pasti karena mempelainya memakai suntiang. Coba kalau mempelainya memakai kimono, mungkin music yang disuguhkan semacam J-pop atau J-rock. Jadi jika engkau ingin mengalunkan music berbau Timur Tengah atau Islami ketika baralek, mungkin mempelainya musti memakai kostum yang juga lebih islami #okeee #siipp.

Ah, kenapa jadi membahas baralek sih… Bukan ini yang ingin kuceritakan sebenarnya! #PLAK!   

Kembali ke fokus! Kita ulang lagi ya!

Jadi disinilah aku sekarang berada. Di Kota Padang yang kucinta, kujaga, dan kubela demi menghadiri acara baralek adiknya ibu kos #plak! #selfkeplakPart2…. Okeh okeh…

Kuberitahu teman, rumah kontrakanku berada tepat di depan sebuah SD, dan kabar baiknya adalah salah satu kantin SD tepat berada di depan pintu rumahku! Jadi mendengarkan Ibu-Ibu bergosip sudah seperti sarapan pagi bagiku. Ada banyak hal yang ibu-ibu itu perbincangkan. Dan secara langsung suara mereka yang cukup “agak” keras itu merambat sampai ke dalam kamarku. Jika ingin tidak mendengarkan suara berisik di luar, aku cukup memakai headset dan mendengarkan music. Namun tak apalah sekali dua kali aku simak perbincangan ibu-ibu di luar. Lumayan untuk belajar menjadi Ibu tukang gossip #dihajarmasa# ibu yang baik di masa depan.

Dan topic yang paling sering diangkatkan ke dalam perbincangan ibu-ibu tersebut kebanyakan adalah mengenai masalah rumah tangga, tentang kenakalan anak-anak, terutama masalah pendidikan anak-anak mereka #sedap. Dan yang membuatku sering miris adalah kebanyakan ibu-ibu itu mengeluh tentang bagaimana tidak baiknya cara mendidik guru-guru SD. Aku tidak tahu apa permasalahan yang sebenarnya terjadi. Namun banyak saja keluhan dari emak-emak yang setiap pagi berkumpul di kantin tersebut setelah mengantar anak mereka masuk ke kelas. Mulai dari ketidakdisiplinan guru yang sering datang terlambat, tentang cara mendidik guru yang tidak kreatif dan monoton, tentang pelitnya guru memberikan nilai, sampai tidak bagusnya cara mendidi seorang guru yang sering men-judge negative anak (nakal-lah, bodoh-lah, malas-lah), dan tidak mengapresiasi hasil pekerjaan anak didiknya, sehingga sang anak patah semangat.

Kadang aku menggerutu di dalam hati : “Kalau begitu anaknya tidak usah disekolahkan saja Buk! Didik aja di rumah dengan cara yang Ibu yakini betul”. Tapi ya tidak bisa seperti itu juga. Tak ada asap jika tidak ada api, tidak ada akibat jika tidak ada sebab. Jadi ini jelas seamcam aksi-reaksi dari suatu ketidakseimbangan system #sedaap istilahnya Sains euy😀

Menurutku, salah satu penyebab ini terjadi adalah kesalahan dari para pendidik dalam proses pengkomunikasi-an sistem pendidikan yang mereka terapkan. Terlepas dari baik buruknya system pendidikan itu sendiri *yah saya gak kuliah di kependidikan, jadi kurang ngerti juga masalah kurikulum-kurikuluman*.

Yang penting menurutku adalah proses “CARA” atau PROSES TRANSFER ILMU antara pendidik dengan anak didiknya. Yap, komunikasi yang terjadi antara pendidik dengan anak didik haruslah komunikasi yang seimbang, yang tidak saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Kalau di Kesehatan sih kita pakai istilah “Komunikasi Terapeutik”, ini jenis komunikasi yang digunakan dalam berinteraksi dengan pasien. Yang jelas, di komunikasi terapeutik terdapat hubungan saling percaya antara tenaga medis dengan pasien sehingga proses penyembuhan pasien akan menjadi lebih cepat.

Maksud saya, ketika seorang pendidik sudah mampu menggunakan system perkomunikasian yang baik dengan anak didiknya maka transfer ilmu itu akan lancar jaya. Tidak ada lagi anak yang merasa dibully hati dan perasaanya oleh sang guru. Kemudian tidak ada lagi yang mengadukan hal-hal buruk tentang sekolah kepada kedua orang tuanya.

Prinsipnya, “juts give what they need” , seperti tenaga medis yang tidak bisa menambah atau mengurangi segala jenis tindakan yang akan diberikan kepada pasiennya *maaph, dari tadi ambil contoh kesehatan terus*. Ya begitu juga kali ya di kependidikan tidak usah menambah-nambahkannya dengan substansi yang tidak dibutuhkan seperti : kata-kata kasar, perlakuan yang buruk, atau kalimat-kalimat seperti “Kenapa tulisan kamu jelek sekali” “Kamu ini bodoh sekali, tugasnya salah semua”, nah gimana emak-emak tidak pada heboh coba kalau anaknya diperlakukan seperti itu. Orang anak-anak nya di rumah tidak pernah dibentak *mungkin*. Bahkan dari penuturan seorang ibu *sebut saja namanya Bunga*, ia selalu mengajarkan anaknya dengan baik di rumah supaya tidak dimarahi ibu guru di sekolah. Hoalahh, menurut saya ini sedikit terbalik narasinya ya. Seharusnya guru-guru mengajari anak-anak didik di sekolah agar bisa membanggakan orang tuanya di rumah. #sigh

Demikianlah, mungkin memang ada yang salah disini. Dan sepertinya kita semua memang perlu mempelajari hal ini, ikut bertindak dan memberikan pengawasan serta selektif dalam memilih pendidikan yang tepat untuk anak. #bijak

Okeh, segitu aja yang mau saya ceritakan,

Salam peace, love, and keep calm!

 

 

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dari Libur Hari Raya, Baralek, dan Pendidikan. Apa Hubungannya Coba??? #abaikan judul ini!

  1. sandurezu says:

    bangsa bakal cerdas jika diajar oleh guru2 yg cerdas, cerdas imtak, cerdas akhlak, cerdas otak. jd sebenarnya guru itu harusny org2 yg benar2 punya kelebihan dr segala hal y kak. tp sayangny byk yg punya kelebihan gak mau jd guru..😥

    • betul sekali An…
      pembentukan karakter anak sejak dini ikut melibatkan campur tangan guru… hmm… semoga suatu saat akan banyak sekolah2 yang memakai sistem seperti sekolah islam terpadu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s