Surat untuk Nduk

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh…

Hai nduk! Kamu tahu?? Aku sedang membiasakan diri untuk menuliskan salam secara lengkap. Tadi pagi aku mendengarnya di Radio islam “Ray FM” yang tiang pemancarnya ternyata berada dekat dengan rumahku. Disana ustad yang mengisi pengajian berkata umat islam tidak boleh menyingkat-nyingkat salam dengan :”assalam”, “salam”, “asalam wr.wb”. Karena Rasulullah tidak mencontohkan begitu. Kemudian ibu dosen kita memposting status yang sama di FB, katanya beliau miris dengan kebiasaan umat islam mengucapkan salam pada zaman sekarang, “kalo malas mendo’akan sahabat, mana mungkin kita dido’akan umat… ya…hancurlah sebuah negeri jika penduduknya tidak saling mendo’akan…..Astaghfirullaahal ‘adzim…”. Begitu kata beliau nduk. Aku ikut mengomen di status beliau. Itu bukan Pencitraan! Itu tulus dari dasar hatiku untuk ikut ngomen dan nimbrung di status beliau (berbekal ingatan tentang ceramah ustad di radio tentunya hehehe).

Aku harap kamu menjawab salam ku ini!!! Karena itu hukumnya wajib bagimu! Hahahah, aku masih suka kesal sendiri. Kamu sering tidak menjawab salamku di telfon.

Kamu ingin aku bercerita tentang apa nduk? Aku sendiri sebenarnya tidak punya topik yang terlalu menarik untuk kuceritakan. Tapi karena kamu yang minta, dan aku sudah berjanji, aku akan berusaha menepatinya.

Hmm… akan kumulai ceritaku tentang kejadian di posko beberapa waktu yang lalu. Salah satu anggota kelompok kami (yang kamu tahu siapa :D) ada yang mengamuk nduk. Dan aku tahu itu ditujukan kepadaku walau ia menyatakan alasan yang lain kenapa ia sampai mengamuk. Hahah, sepertinya aku telah membangunkan singa yang sedang tertidur. Aku salah karena telah mengusiknya. Walaupun aku mengusiknya dengan kata-kata yang sangat lembut, namun seperti yang kau tahu, ketika seseorang telah menanam rasa tidak sukanya kepadamu, maka sekecil apapun kesalahanmu akan menjadi celah yang besar untuknya melampiaskan segala rasa kesal dan sakit hatinya. Ketika itu aku sangat berusaha memendam emosiku, aku ingin sedikit membela diri dengan kalimat yang halus, namun sepertinya ia tidak akan memberiku kesempatan untuk berbicara. Jadi aku hanya diam mendengarkan. Membiarkan ia puas mengeluarkan segala uneg-unegnya. Walau aku tahu ia masih sedang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang lebih pedih lagi. Aku anggap aku sedang menonton drama korea. Sungguh menguras emosi dan mengacaukan mood stabilizerku. Tapi tenang, aku punya mekanisme koping yang cukup baik untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Anggap saja aku sedang membantunya untuk melepaskan emosi.

 Kamu tidak perlu tahu apa masalahnya nduk. Aku kira dengan bakatmu yang sangat bisa membaca situasi-situasi rumit tertentu kamu bisa menebak kemana arah pembicaraanku.

Ah, seandainya kita bisa hidup tanpa harus mendengarkan persepsi negative orang-orang tentang kita. Namun tentu saja itu tidak mungkin. Aku pernah mendengar ceramah ustad di Radio Ray FM (lagi-lagi radio nduk! Suatu saat aku perlu menceritakan tentang masalah radio ini kepadamu!), disana ustad mengatakan, jika ada muslimah yang emosi ketika dinasehati, maka kemuslimahannya berada dalam status “dipertanyakan”. Walaupun statusnya bukan sedang “menasehatiku” namun lebih tepatnya “memarahiku”, aku ingin sekali mempraktekkan apa yang aku dengar nduk. Aku juga pernah mendengar kisah Rasulullah yang sekalipun selalu dicaci maki dan dilempari kotoran oleh seseorang yang kafir, namun rasulullah tetap memberikannya kelembutan dan bahkan menjenguknya ketika ia sakit. Sampai akhirnya ia tersentuh dengan sikap Rasulullah dan memutuskan untuk masuk islam. Sederhana bukan? Aku ingin sekali seperti itu.

Sebenarnya aku sangat sedih nduk. Sedih bukan karena ia marah dan membentakku, tapi aku sedih kenapa aku masih belum mampu menjadi sahabat sesungguhnya baginya. Aku selalu melihat kepura-puraan dalam sikap baiknya terhadapku. Ahhh… kadang aku sungguh sangat iri kepada salah seorang sahabat kita yang terkenal dengan kelembutan dan kesabarannya sehingga ia bisa diterima oleh berbagai kalangan.

Namun darisana aku belajar, tidak selamanya kita harus memaksakan diri untuk menjadi sosok yang selalu disenangi, namun sangat penting untuk menjaga kenyamanan seseorang. Setidak suka apapun ia kepada kita, namun tetaplah berikan zona nyaman yang ia mau. Just give what they need. Jangan pernah membalas kobaran api dengan bara. Tapi tetaplah menjadi air yang tenang. Siapa tau suatu saat ia akan luluh. Bahkan tetesan air yang lembut bisa membuat lubang pada sebuah batu yang keras.

Hai nduk! Aku sering marah, membentak dan terkadang main dorong-dorongan denganmu. Apakah kamu sakit hati dengan semua perlakuanku??? Jawab jujur nduk! Hahaha…

Sungguh aku sangat merindukan seorang sahabat yang bisa menerima aku apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Sulit memang, namun aku yakin pasti ada di suatu tempat. Kau kah itu orang itu?

@Kos-kosan yang sudah sangat sepi

Ditemani gerimis hujan

Padang

 

NB: Tadi aku menemukan tempat makan bakso baru yang cukup enak di depan BNI Dobi dekat SMK 9. Tadi sehabis supervisi keluarga aku dan kelompok profesi makan disana. Aku langsung teringat untuk mengajakmu kesana juga nduk. Namun tetiba aku sadar, kamu sudah cukup jauh dari jarak mataku. Aku juga selalu sedih ketika menyadari sesuatu : Kapan lagi boncengan motorku akan diduduki bocah cerewet sepertimu, yang suka berteriak-teriak ketika aku mengendarai motor, yang suka memerintah seenaknya :”Awas lampu merah nduk! Awas ada mobil! Itu ada lubang! Kiriiii nduk!!” Hahaha…. Kapan lagi nduk? Kapan lagi kamu mengacaukan senandungku ketika menyanyikan sebuah lagu ketika memboncengmu? Kapan lagi kita menyanyikan lagu yang sama sepanjang jalan yang kita tempuh bersama bebek hitamku? #sekedartanya

 

DAN JANGAN LUPA MEMBALAS ELEKTRONIK MESSAGEKU INI!!!!

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s