Hijab-ers Masa Kini

Oke, ini mungkin tulisanku yang terakhir untuk malam ini. Mendadak semangat nulis juga gegara koneksi inet yang cukup bersahabat.😀

Dua minggu yang lalu, adik-adik Forum Studi Islam di salah satu kampus negeri di Padang memintaku untuk menjadi juri perlombaan jilbab kreasi. Ciyus??? Miapaa?? Itulah saya juga kurang tau  tau miapah. Kaget! itu yang pertama kali aku rasakan. Biasa-biasanya diminta untuk mengisi agenda FA, oke masih bisa “diakali dan diusahakan”. Tetapi menjadi juri untuk lomba kreasi jilbab rasa-rasanya kok ya benar-benar diluar kompetensiku. Hahaha, rasanya aku ingin tertawa. Mentertawakan diri sendiri. Apa jadinya ya jika aku yang sebenarnya “cuek” dengan penampilan, bukan seorang hijab-stylist, bukan seseorang yang senang berhias atau memakai make up, dan selalu tampil apa adanya menjadi juri perlombaan demikian?

Karena ragu, akhirnya aku meminta saran dan masukan dari si nduk. Kadang aku pikir pemikiran si nduk lebih rasional dan cukup kompeten untuk dibawa “katangah” dibanding pemikiranku. Dan kamu tahu apa saran si nduk?? “Ambil un, udah terima aja… Kapan lagi… semakin banyak kamu nyoba pengalaman, semakin bagus. Kan biasanya ngisi FA, ngejuri-in lomba bikin kartun cuman, nah sekarang ambil aja biar tambah tahu”. ishk…

Oh iya ya… Pikir punya pikir plus keracunan saran dari si nduk, akhirnya aku mengiyakan tawaran ini. Ha Ha Ha… ups… tenang, aku tidak akan mengambil resiko dan mengacaukan acara karena “keasalan”ku. Walaupun bukan pemakai (*pemakai narkoba maksut lo Ni???) aku cukup mengerti dan mengikuti fesyen-fesyen serta senang mengamati style para ABG jaman kini. Beberapa kali juga sering #kepo di blog-blog hijab-ers yang disarankan teman. Dulu jejaman mau wisudapun, aku bela-belain merampok video-video tutorial hijab “gaya-gayaan” dan tutor make-up-an dari Kak Heny, and finally aku datang ke wisudaan dengan  hasil kreasi sendiri tanpa embel-embel “dari salon” #meskihancur bahahahaa…

Dan demikianlah, akhirnya pada hari ini, aku duduk manis di kursi juri perlombaan Kreasi Jilbab yang ternyata pesertanya cukup banyak dan keren-keren jiddaaannn >..< !!!

Jujur, sesaat aku sempat terjangkit syndroma “HDR” “harga diri rendah” menyaksikan para peserta. Bukan, bukan karena tak pandai, tapi karena merasa tak pas saja jika membayangkan akulah si wanita yang memakai selendang motif lucu-lucu yang dililit-lilitkan itu. Dan sesaat aku merasa sedih, karena sembari para peserta berkreasi, eh panitia malah ngehidupin backsound lagu “Muslimah” yang liriknya begini:

Wahai muslimah berbahagialah
Kita telah dilahir-Nya dengan mulia
Subhanallah Tuhan tlah berkati
Surga di telapak kaki ibu

Oh muslimah kau selalu menutup rapi
Auratmu kau lindungi dengan indahnya
Oh muslimah kau rajin mengaji
Islam kau jadikan tuntunan sejati

Oh muslimah dekatkanlah diri
Selalu pada Illahi demi cinta-Nya
Insyaallah Tuhan kan memberi
Kecantikan yang abadi dalam ridho-Nya

Hiks… Miris gak sih…

Kecantikan wanita bukannya semakin terlindungi dengan hijabnya, malah semakin terekspose.

Akan lebih miris lagi, wanita tampil cantik dan megah dengan hijabnya, eh malah gak seneng ngaji.

Walaupun mata saya lebih cenderung untuk memilih “sesuatu yang indah” sesuatu yang “lucu-lucu”, unik, menarik, cantik, tetapi saya tetap paksakan diri untuk berpegang teguh pada konsep “Kesyar-i-an adalah harga mati dalam berkreasi”. *seperti order panitia yang menempatkan point “syar’i” sebagai kriteria penilaian.

Dan dari kebanyakan peserta, meskipun hasilnya tampak indah, saya melihat suatu “ketidaknyamanan” di dalam diri mereka. Siapa yang bakal nyaman coba lapisan jilbabnya begitu banyak, serabutan menutupi kepala, cetar badai melebar kemana-mana. Ah, saya aja gerah jika jilbab  menyentuh dagu, atau nyentuh pipi.

Demikianlah… Hari ini saya memetik beberapa pelajaran berharga dari sebuah acara lomba kreasi jilbab. Dimana tampilan apa yang nampak belum tentu lebih penting dari keterjagaan hubungan kita dengan Allah SWT. Sementara manusia memang akan cenderung melihat kepada apa yang kita pakai, tetapi Allah akan lebih melihat kepada apa yang kita perbuat dan amalkan.

Dan saya akhirnya menyadari satu hal, konsep “hijab” telah mengalami pergeseran makna saat ini pada masyarakat kita. Kamu tau komunitas Hijab-ers? Bukan,,, itu bukan komunitas yang isinya adalah para akhwat dengan gamis dan jilbab lebar. Hijabers itu adalah nama yang diberikan kepada komunitas wanita yang memiliki kesamaan hobby meng-kreasi-kan jilbab mereka. Yah stylish begitulah. Saya cukup kaget dengan fakta ini. Dan sedikit miris ketika tadi tanpa sengaja ‘menguping’ wawancara seorang wartawan kepada panitia akhwat sembari saya ngitung-ngitung poin penilaian.

“Jadi lomba ini diadakan oleh hijabers ya?”
“Lomba ini diadakan oleh Forum Studi Islam kak” *redaksi saya persimpel*

“Ooo… jadi lombanya ditujukan untuk para hijab-ers?”
*si panitia akhwat mengira  hijab-ers disini adalah para jilbaber yang berjilbab dalam*

“Bukan kak, kami membuka lomba ini terbuka untuk para muslimah, bukan yang berjilbab dalam saja”
“Oh… jadi peserta nya bukan hanya hijabers ya?” *panitia bingung, saya juga bingung*

“Di padang kan ada tuh komunitas Hijabers…. bla bla bla…..”

Akhirnya saya paham, si wartawan mengira yang mengadakan lomba kreasi jilbab ini adalah komunitas hijabers, dengan pesertanya kebanyakan adalah hijabers, di dalam mindset wartawan, hijabers adalah wanita muslimah yang jilbabnya stylish, sedangkan dari konsep si akhwat hijabers adalah “yang berjilbab dalam/akhwat”.

Dan kemudian saya sedikit tercekat mendengar rentetan pertanyaan dari si kakak wartawan (*yang juga berjilbab gaya) tentang : Apa si akhwat panitia tidak terganggu dengan jilbab dalam, Apakah di kampus si akhwat melanjutkan kegiatan Rohisnya seperti di SMA, apakah ada budget khusus untuk jilbab yang dua lapis (ini pertanyaan paling lucu! :p), apakah anak forum (setelah si akhwat ngejelasin Rohis-nya kampus bernama “Forum Studi Islam”) itu diatur dalam pergaulannya?
Oh Tuhan, di atas bumi Minang ini, ternyata masih banyak wanita berkerudung yang belum mengenal Forum Studi Islam.. >.<

Dan saya bangga sekaligus senang karena si panitia akhwat dapat menjawab pertanyaan super duper polos dari si kakak wartawan dengan elegan, rendah hati, dan tidak meninggi-ninggikan walaupun kelihatan sekali terbungkus kedok “MEMPROMOSIKAN ANAK-ANAK FORUM”. Heheehehe…

Fiuf… demikian.

Salam Hijabers!😀

*maaph kagak ada pict, lagi malas nge-googling*

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s