Perawat Terbaikku

Ketika sakit dan berada jauh dari keluarga, apa yang ada di benak teman-teman semua? Apakah kalian merasa takut, sedih, atau malah biasa-biasa saja? Ketika berada pada kondisi seperti itu, yang terlintas di benakku adalah sosok Ibu. Ya, sosok ibu akan seketika muncul dan kemudian menimbulkan rasa sedih sembari aku yang berandai-andai “Jika ibu berada di sini…”.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat jatuh sakit. Ya, tentu saja aku juga bisa sakit! Dan meski sedang bertugas “merawat manusia sakit”, tidak lantas menjadikan daya tahan tubuhku kuat, justru sebaliknya melemah. Ditambah lagi dengan seabrek tugas yang menggunung plus kebandelan menjaga asupan nutrisi, akhirnya aku “tumbang”. Tiga hari dinas di RS aku jalani dengan susah payah penuh perjuangan menahan badan yang meriang, kepala yang pusing, dada yang sesak karena batuk, kulit yang ruam-ruam merah gatal karena alergi yang menjadi-jadi dan juga rasa lemah letih lesu tidak bersemangat melakukan apapun. Demi Tuhan, ini sungguh tidak mengenakkan sekali sodara-sodara.

Jika sudah sakit begini, biasanya aku hanya akan memakan beberapa obat yang memang sudah pernah direkomendasikan teman-teman dan IBU tentunya. Yeah, itupun juga hanya 1 kali kuminum karena menimbulkan rasa mual dan ingin meminimalisir tingkat ketergantungan penggunaan obat.

Sepulang dinas, yang bisa kulakukan adalah meringkuk di bawah selimut, mencoba memejamkan mata dan  membayangkan jika Ibuku (Ama) tengah berada di sampingku. Hiks, sungguh pilu dan menyedihkan. Ingin memberitahu via sms, aku takut membuat Beliau cemas. Bagiku, Ama adalah sosok dokter sekaligus perawat paling hebat yang diciptakan Allah untukku.

Aku ingat, dulu ketika kecil, aku sering sekali mengganggu tidur Ama di tengah malam hanya karena keluhan keluhan remeh temeh seperti : sakit perut, demam, mimpi buruk, ada semut yang masuk ke telinga, atau karena mati lampu! Sungguh alasan yang sangat simpel, namun itu rumit bagi anak berusia 5-6 tahun di kala itu. Dan tentu kamu tahu! Dengan penuh kesabaran, Ama bangun. Menanyakan apa saja keluhan yang kurasakan, kemudian mencarikan obatnya. Malam itu juga! Dengan telaten Ama mengusapkan minyak telon ke perutku yang sakit, memberikan obat penurun panas, mengompres kepalaku, dan setelah itu… aku akan tertidur nyaman sampai pagi. Dan paginya, kembali Ama menanyakan keluhanku, membawaku ke petugas kesehatan di Puskesmas atau Bidan, mengingatkanku untuk minum obat, menanyakan aku ingin makanan apa, membebaskan aku dari segala tugas rumah dan sekolah. Sungguh kenyamanan yang tidak akan kudapatkan saat ini, jauh dari Ama ketika aku terbaring lemah karena sakit.

Ya, aku yakin Ibuku adalah dokter sekaligus perawat terbaik. Aku sungguh merindukan sosok dokter dan perawat terbaikku itu. Kamu tau?? Rasanya Ama lebih tau apa resep obat penyembuh terbaik dibandingkan aku yang sarjana keperawatan yang baru setengah jadi ini. Bahkan Ama sangat tau rincian dosis obat demam bagi masing-masing anaknya yang berbeda satu sama lain. Ama juga tahu apa tanaman obat tradisional yang bisa dipakai sementara jika kami sakit panas, luka, nyeri haid, digigit serangga, dan lain sebagainya… Rasanya lebih Pede meminum obat jika itu yang menyarankan adalah Ama.

Sampai detik ini, jika sudah tidak tahan, aku akan melapor ,”Ma, Ani sakik… a ancak minum ubek ma?”, dan kemudian Ama akan membalas sms,”Minum parasetamol, banyak minum air putih, dan istrirahat”. Haha… Kadang aku merasa lucu dengan diriku sendiri, bahkan ketika berada di RS, lidah ini sungguh pandai menyarankan pengobatan terbaik bagi pasien. Sedangkan untuk diri sendiri, haruslah aku melapor kepada Ama ku sendiri untuk tau obat apa yang harus kuminum.

Finally, aku semakin menyadari betapa berharganya sosok seorang Ibu bagi anak-anaknya. Dan ini semakin mengokohkan hatiku untuk terus berbakti kepada kedua orang tuaku terutama Ibu. Apa jadinya seorang anak tanpa ibu?

Maka wahai para wanita, perbaiki niat dan cita-cita. Jadilah sosok ibu yang baik bagi anak-anakmu. Jika bukan kita wanita yang merawat dan mendidik anak, siapa lagi yang akan diharapkan? Bukannya meremehkan peran dan kedudukan seorang ayah, namun keduanya memiliki porsinya masing-masing dalam membesarkan anak. Jadi, menurutku cita-cita termulia dari seorang wanita, sepintar dan sehebat apapun ia adalah : menjadi ibu yang baik bagi anak anak mereka kelak. #sip

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to Perawat Terbaikku

  1. sandurezu says:

    persis bana jo ama an, T__T
    perawat terbaik an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s