Hai Amalina

Hai Amalina

28 November 2012 tepat pukul 19.43 salah seorang teman mengirimiku sebuah pesan singkat. Sebuah berita duka dari salah seorang pasienku. Pasien yang tadi pagi masih aku rawat, aku mandikan, aku ukur tanda-tanda vitalnya, aku berikan cairan infuse, membantu terapi untuk menurunkan demamnya, dan mengantarnya sendiri ke ruang OK untuk dioperasi yang meskipun aku sendiri diliputi kecemasan selama di perjalanan ke ruang OK demi memastikan denyut nadinya masih teraba kuat di pergelangannya.

Seorang gadis belia yang baru saja menjalani semester pertama masa kuliahnya, menderita tumor di bagian perutnya. Namun keadaanya semakin memburuk, sesaat sebelum keputusan operasi. Sehingga tak ayal para dokterpun sedikit ragu untuk mengambil keputusan apakah pasien ini layak untuk dioperasi atau tidak.

Teman, engkau percaya firasat? Entahlah… semakin sering berinteraksi dengan manusia yang sakit, maka semakin peka dirimu dalam menterjemahkan sebuah signal atau pertanda terhadap mereka. Mungkin signal semacam inilah yang aku rasakan terhadap pasienku hari ini. Perasaan seperti ini sering aku temukan ketika menghadapi pasien-pasien dalam kondisi gawat di ruang Recovery ketika dinas KMB beberapa bulan lalu. Kondisi, bau, tingkat kesadaran, itu cukup memberikan gambaran tentang beratnya penyakit pasien ketika itu. Namun lagi-lagi semuanya tak bisa kuterjemahkan dengan tepat. Karena hanya Allah yang memiliki kuasa terhadapnya.

Sebenarnya aku bukanlah tipe yang amat sangat perasa atau sangat mudah meneteskan air mata ketika melihat penderitaan orang lain. Namun adegan keluarga yang mengantarkan anaknya ke ruang operasi seperti yang kusaksikan tadi pagi cukup membuatku terenyuh dan sedikit meneteskan air mata. Bagaimana tidak, sang putri sudah mengalami penurunan kesadaran semenjak pagi, namun tetiba sebelum memasuki kamar operasi,kedua tangannya merengkuh sang ibu yang memberikan ciuman kepadanya. Mereka berpelukan meskipun sang anak dalam penurunan kesadaran. Begitu juga dengan ayah, adik-adik, dan keluarganya. Mereka menggenggam tangan, kaki sang pasien sembari membisikkan kata “Nak, bersabar ya nak, perbanyak istigfar, perbanyak zikir”.

Ada perasaan lain ketika melihatnya. Ada getaran iba dan kasihan melihat perjuangannya menghadapi penyakit di usia yang terbilang muda.
Namun demikianlah takdir. Tidak seorangpun manusia yang tepat menerka. Semua berakhir padaNya. Tentang keputusan baik atau tidaknya nasib seseorang.
Dear Amalina, semoga engkau tenang disana. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan memberikan tempat yang nyaman bagimu. Tempat dimana engkau tak lagi merasakan pedihnya jarum suntik dan rasa sakit yang membelit.

Innalillahi wa innailaihi rojiun….

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s