Terimakasih Bapak Parkiran :)

Dari dulu saya selalu suka menggerutu sendiri dan terkesan sedikit tidak ikhlas (*maksut lo??) dengan peraturan setiap kali kendaraan bermotor memasuki RSUP DR. M. Djamil harus melewati gate parkiran dan membayar Rp 2000 untuk kendaraan beroda dua. Sebenarnya gak ada yang salah juga sih, tapi untuk mahasiswa praktek klinik seperti saya yang notabene setiap hari bisa 3 sampai 4 kali melewati gerbang M. DJamil tentu saja ini sedikit memberatkan.

Coba kita kalkulasikan, setidaknya ada 6 siklus praktek profesi saya yang bertempat di RSUP DR. M.Djamil,  6 hari dinas dalam seminggu, 24 hari dalam sebulan, dikali 6 bulan (1 siklus 1 bulan) sama dengan  144 hari dinas, dikali 2000 rupiah sama dengan 288.000 rupiah. Gilaaa ajaaa!  

Menurut saya sih,  mahasiswa kesehatan yang praktek di RSUP DR.  M.Djamil ya ga usah dipungut biaya parkir lah, disamakan dengan pegawai M.Djamil yang punya “stiker” tanda pengenal di kendaraannya sehingga berhasil lolos gerbang tanpa membayar uang parkir. Logikanya seperti ini, kita-kita praktek kan membantu pekerjaan petugas kesehatan di sana juga, dan faktanya untuk membayar lahan praktek dan masuk ke M. Djamil sendiri kita juga membayar uang insentif melalui kampus. Masa harus diberatkan lagi dengan pungutan parkir (walau Cuma 2000 perak) setiap harinya? *pikiran kolot mahasiswa kere*

Dan begitulah, mood saya bisa berubah drastis ketika melihat wajah abang-abang parkiran yang tangannya nongol dari ruang kecil  entah apa  tempat mesin pencetak karcis parkiran , melambai lambai meminta saya berhenti dan membayar uang parkir terlebih dahulu. Kalau lagi kaya raya dan masih mengantongi uang jajan yang cukup banyak, saya dengan senang hati akan mengeluarkan dua lembar ribuan itu. Tapi kalau lagi akhir-akhir bulan yang mana uang 2 ribuh perak sangat berarti bagi kelangsungan hidup saya di Padang (bisa bantu-bantu beli bensin jugak) rasanya beraaaaaaattttt gimana gitu untuk mengeluarkannya.

Finally, seperti itulah. Mindset saya terhadap abang-abang parkiran yang tangannya melambai-lambai itu sudah terlanjur ter-default-setting negative. Walaupun banyak teman senasip yang mengingatkan bahwa membayar parkiran di Rumah Sakit itu sudah peraturan blab la *entah apa saya lupa* dan bayangkan kalau kita lagi dinas malam, siapa yang akan menjaga kendaraan kita di belantara M.Djamil yang antah berantah umatnya kita tak bisa prekdiksikan. Oke Fine! Untuk sementara saya masih bisa menerima argument dari teman saya.

Sampai akhir siklus (*hari terakhir saya dinas sebagai mahasiswa praktek profesi di M.Djamil), setelah dengan riang gembiranya kami mengadakan perpisahan dan mengucapakan salam kepada uni-uni ruangan, saya menuju ke tempat parkiran untuk segera melanjutkan acara makan-makan perpisahan dengan teman sekelompok. Sesampainya di tempat parkir, taraaaaaaaaa KUNCI MOTOR SAYA TIDAK DITEMUKAN DIMANA-MANA. Hahahaha, saya TENTU SAJA PANIK SODARA-SODARA (capslock jebol). Saya bongkar semua isi tas ransel, map tentengan sampai sudut-sudut yang biasanya jarang saya sentuh, dan kunci motor itu tetap saja tidak menampakkan batang hidungnya. Saya frustasi, saya balik lagi ke ruangan dinas, *padahal udah perpisahan sama uni-uni di sana bhahahaha* keliling ruangan, dan masih tetap tidak ada.

Karena mindset saya cukup jalan *eghm* saya menduga kunci motor saya diambil oleh seseorang. Dan seseorang yang amat sangat mungkin mengambil kunci itu tanpa berniat mengambil motornya sekalian, adalah BAPAK-BAPAK PARKIRAN!!! Huaaahhh… saya balik ke pos tempat bapak-bapak parkiran biasa nongkrong. Nihil, tidak ada orang disana. Saya kemudian bertanya kepada abang-abang pertukangan yang sibuk bekerja membangun entah bangunan apa di samping Pav.Ambun Pagi. Dari informasi yang saya dapatkan, ternyata benar, bapak parkiran telah menemukan sebuah kunci motor Vario Hitam tergelayut manis di jok motor *hiks, saya memang nanit, pelupa, dan disorientasi !!! T___T !! Saya ingat tadi pagi tentengan saya cukup banyak, sehingga setelah menaroh helm di jok motor dengan tergesa-gesa, saya lupa mencabut kuncinya. Gotcha! Dengan antusia saya mulai Kepo maksimal, menanyakan keberadaan dimana sang bapak parkiran yang konon bernama Pak Jai itu berada.

Rute saya menemukan Pak Jai terbilang ribet. Begini skemanya:

-Saya diarahkan abang-abang pertukangan ke kantin dekat Ambun Pagi buat nanya ibu-ibu kantin pak jai nongkrong disana apa gak -> masih dengan semangat ’45 saya turut kesana -> Nanya-nanya ibu kantin, katanya Pak Jai tidak kesana, udahn pulang, -> saya balik lagi ke abang-abang pertukangan untuk minta petunjuk selanjutnya -> saya disuruh telfon Pak Jai, nomernya minta ke resyepsionis Ambun Pagi *emang ada?* -> saya bingung, males ke dalam lagi -> saya balik ke ibu kantin, nanya nomer Pak jai -> Ibu kantin gak tau, suruh tanya ke bapak-bapak yang lagi main domino -> alhamdulilah ada 1 orang bapak pemain domino yang menyimpan nomer pak jai -> saya telpon pak jai -> Pak jai nya lagi di Lubuak Aluang *sampai disini saya udah mau koprol sambil bilang ondeh mandeh* katanya kunci motor saya dititip ke bang Dapit *tokoh abang parkiran  kedua* -> saya kejar ke pos parkiran di depan gerbang -> Abang parkiran yang bernama Dapit ternyata juga sudah pulang dan kunci motor saya dibawa pulang!!! #gubrakkk #antiklimaks #sayaBerusahaUntukTidakMencak2.

Singkat cerita,saya pulang kerumah jalan kaki, ambil kunci cadangan, dan keesokan harinya saya samperin Pak Jai lagi buat minta kunci. Soalnya kunci motor saya tinggal dua-duanya. Kalau bikin lagi kan muahaaal *ogah rugi*. Ya Alloh… Bang Dapit itu ternyata OFF *istilah baru di dunia perparkiran yang baru saya ketahui artinya sebagai libur dinas. Huhehehe. Oke fine, saya masih sabar, dan finally hari ini saya bertemu langsung dengan Bang dapit itu, dan meminta kunci saya secara resmi. Dengan penuh keharuan saya menerima kunci itu dan segera menyimpannya di tas. Alhamdulillah eaaa…. *sujud syukur*

Ya begitulah, ribet kan ya…

Jadi apa yang mau saya sampaikan adalah : Bersikap baik dan ikhlaslah setiap kali melakukan sesuatu jika itu bukanlah seuatu kebathilan. Boleh jadi sesuatu itu yang akan membantu dan menyelamatkan kita suatu saat.

Saya pernah bertanya kepada si nduk *teman saya yang kamu tahu siapa* kenapa dia bisa sangat akrab dan bersahabat *lagi lagi nimbrungin jargonnya FKI phuehehe* dengan abang-abang penjual gorengan, abang-abang pangsit, abang teh poci, abang bakso, dan abang abang-ibu-ibu-bapak-bapak lainnya tempat kami biasanya jajan, membeli entah apa. Dan si ndukpun berkata,” Un, kata Bapak aku kita harus bersikap baik kepada setiap orang, siapa tahu suatu saat nanti merekalah yang akan menolong kita”. Saya terharu dan kagum dengan statement si nduk yang bijak bestari. Dan sampai detik ini masih ada satu amanah si nduk yang belum saya tuntaskan : menyerahkan kertas-kertas bekas kuesioner penelitian warisan si nduk jaman-jaman skripsi yang masih bagus untuk diserahkan ke abang-abang gorengan tempat kami biasanya jajan agar bisa digunakan beliau. Maaph nduk,  akan segera saya laksanakan!

Demikianlah, Allah membuka mata saya untuk tidak menggerutu lagi setiap membayar uang parkiran (*justru di hari terakhir saya dinas), yahh setidaknya, coba posisikan diri kita seperti bapak-bapak parkiran agar lebih berempati. Uang 2000 perak yang kita keluarkan itu, mana tau sungguh berharga bagi mereka, menjadi penyambung hidup anak dan istrinya, untuk biaya sekolah anak-anaknya kelak.

Hufftt…. Demikianlah.

Jika begitu lulus praktek profesi kita masih harus bikin makalah dan ada lembar persembahannya, saya akan menyelipkan ucapan terimakasih saya kepada “bapak-bapak dan abang-abang parkiran RS. M. Djamil yang telah menjaga motor saya selama dinas”. Tapi karena tidak ada hal seperti itu setelah praktek profesi, saya tulis di blog ini saja : Terimakasih Pak! Bang! Atas penjagaannya selama ini terhadap keselamatan motor saya. Selamat Bertugas, dan salam cenat-cenut bin cetar membahana!

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, CERPEN^^. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s