Semacam Kenangan Masa Kecil

Akan selalu ada kenangan yang tetiba muncul di benak kita semacam memori masa lampau yang entah karena apa meninggalkan kesan tersendiri di sudut-sudut pemikiran. Ada banyak factor pemicu yang bisa mengkatalis kemunculan memoria ini. Contohnya lagu kenangan, musik, nuansa, lingkungan, jalanan/perjalanan, bangunan, toko, makanan, kamar, pakaian, dan banyak lainnya.

Seperti hal nya yang terjadi saat ini. Ketika aku memandang toko kelontong Mak juih yang menjual apa saja mulai dari sepatu boot, handuk, pancing dan perlengkapannya, pakaian sekolah, tas, benang wol, berbagai macam baut, peralatan sekolah seperti kapur tulis, buku tulis, pena dan kroni-kroninya, bola bekel, ludo, sampai baju bola anak-anak bersablon Irfan bachdim di belakangnya. Toko  Mak Juih ini mengingatkanku pada toko Sinar Harapan di novel Andrea Hirata. Walaupun tidak terletak di tengah-tengah pasar Ikan, tapi tingkat “keberantakan” dan “kerandoman” barang barang yang dijualnya  kupikir sama. Ha ha ha ha. Bahkan aku sempat berkhayal jika aku menjadi karyawan disana, maka untuk beberapa bulan mungkin aku akan selalu bertanya dimana letak barang yang ditanyakan konsumen. Letak barang-barangnya benar-benar acak. Kukira, satu-satunya orang yang hapal dengan letak barang disini hanya makjuih dan salah seorang karyawan yang sudah lama bekerja di sana.

Jadi apa kaitan antara toko kelontong makjuih dengan memoria di masa lampau?

Tentu saja Toko kelontong mak juih ini mengingatkanku tentang sepenggal masa kanak-kanak yang sempat kuhabiskan di daerah ini. Rasanya sebentar sekali masa kecil yang kuhabiskan disini. Hanya sampai kelas II SD, kemudian keluarga kamipun pindah. Namun waktu yang singkat itu cukup memberikan kesan dan kesempatan mencoba beberapa penggal pengalaman hidup sebagai kanak-kanak. Dan saat ini aku berkesempatan lagi untuk berkunjung di tanah kelahiran dan tempat aku menghabiskan masa kecil yang hmmmm cuku seru menurutku😀

Kuceritakan sedikit kawan. Toko makjuih ini cukup popular di kalangan kami dulu. Setiap hari Minggu, aku akan membelanjakan uang jajan yang kukumpulkan selama seminggu di toko ini. Membeli beberapa mainan seperti “orang-orangan”. Kau tau apa itu orang-orangan?? Itu permainan bongkar pasang yang kita bisa memasangkan berupa-rupa baju kepada gambar orang (biasanya berbentuk perempuan/barbie). Mulai dari baju pesta, baju ke pasar, baju sekolah, sampai baju tidur. Ini adalah permainan yang paling  kusenangi ketika TK, disamping bermain bola bekel. Tidak hanya bongkar pasang, aku juga membeli permainan ular tangga, ludo, bola bekel, buku, kotak pensil, dan lain sebagainya di toko ini. Bisa kau bayangkan bagaimana antusiasnya aku mengunjungi toko mak juih ini setiap Minggu.

Aku selalu takjub memandangi kesemrautan toko mak juih, mak juih yang berbadan sedikit gempal, dengan kostum yang sepertinya tidak pernah berubah (selalu kaos putih tanpa kerah) ala kokoh Cina dan sepertinya senang memakai sarung atau celana gantung 3/4. Apa mak juih seorang keturunan Cina? Aku sendiri tidak begitu tahu persis, bahkan aku juga tidak pernah tau siapa nama asli Mak juih ini. Yang kutahu toko itu bernama toko mak juih, karena mak ujih lah pemiliknya. Makjuih sudah mulai beranjak tua, namun begitu sepertinya ia tidak kesulitan mengingat dimana saja ia meletakaan barang barang dagangannya.

Memandang toko makjuih seperti sedang memutar video masa kecilku. Seperti kedai makjuh yang random, satu per satu flashback memoria secara random muncul di kepalaku. Satu per satu wajah sahabat-sahabat masa kecilku berhinggapan di kepalaku. Mulai dari sahabat yang selalu kuajak kemanapun dan sangat patuh dengan apa yang kuperintahkan, sahabat yang selalu iri dengki dan tidak pernah akur melihat persahabatanku dengan sahabatku yang lainnya, kemudian ulasan-ulasan ketika uda (kakak laki-lakiku) yang selalu mengganggu teman-teman perempuanku ketika kami bermain di rumah, uda yang selalu melarangku bermain ke rumah beberapa teman yang katanya cukup jauh, terlalu berantakan, dan rumahnya kotor, kenangan uda menarik-narik rambutku ketika bermain bongkar pasang (ini uda ku benar-benar meninggalkan aura negative sejak kecil eaa -_-“), kenangan bertengkar dengan geng anak lelaki yang tidak memperbolehkan kami bermain di area bermain bola mereka (seharusnya bermain bola kan di lapangan bola!). Kenangan kemarahan seorang kakaek ketik akami bermain di teras rumahnya yang kadang kala banyak BAB kambingnya =..= dengan alasan kami berisik dan mengganggu ketenangan. Fiuf, kalau kakek itu sudah marah, kami akan langsung berhamburan lari sambil tertawa-tawa setan.

Kenangan betapa bahagianya kami ketika hujan turun kemudian berlarian sepanjang jalan sambil tertawa-tawa dan bermain seluncur air di tembok jalan yang miring. Ketika itu rasanya jalanan hanya milik kami. Tidak ada kendaraan yang melintasi jalan. Kami benar-benar puas berlarian sampai akhirnya para orang tua memanggil-manggil kami untuk pulang sambil mengacung-acungkan gagang sapu sambil berteriak ,”Nanti demam!!!” Ahhhh ketika itu aku sungguh tidak mengerti kenapa para orang tua senang sekali mengganggu kesenangan kami para anak-anak. Dan aku selalu bertanya apa kaitan antara jangan bermain ketika  hujan nanti demam dengan jangan main ketika hari panas nanti demam. LALU KAPAN KAMI BISA MAIN? Apa kami hanya harus berdiam di rumah dan bermain dengan bongkar pasang, ludo, ular tangga, dan video game? Sedangkan bermain  di rumah masih ada ancaman gangguan dari kakak laki-lakiku yang usil.

Kemudian tetiba mataku menatap tumpukan kotak kotak (entah kotak apa) di sudut etalase toko makjuih yang berdebu dan bentuknya seperti sudah lama sekali, terlihat dari warna kota yang pirang kekuning-kungingan. Apakah kotak itu sudah berada di sana sejak 17 tahun yang lalu?Ketika aku masih menjadi pelanggan di toko mak juih?

 Kotak-kotak itu mengingatkan akan kegemaranku membuat rumah-rumahan untuk orang-orangan bongkar pasang mainanku. Dulu aku senang mengumpulkan kotak kotak bekas perkakas perabot di rumah. Kemudian melipat-lipatnya menjadi seperti sekat-sekat dinding rumah. Rumah tanpa atap!  kemudian melubangi beberapa bagian dindingnya sebagai pintu dan jendela. Melipat kecil-kecil kardus  sebagai pagar, kemudian membentuk gabus-gabus putih pembungkus eletkronik menjadi perabotan rumah tangga seperti kursi-mej atau televisi. Permainan ini sungguh asik. Dan aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar mendesign sendiri rumah-rumahanku ini dan memainkan beberapa drama singkat dengan bongkar pasangku disana. Tentu dengan bahasa kanak-kanakku🙂

Ahhh… hanya dengan memandang toko mak juih rasanya aku sudah mengulang kembali sepertiga ingatan masa kecilku di daerah ini.

Semoga toko makjuih ini semakin laris dan jaya meskipun sudah banyak toko-toko dengan design modern yang menjamur. Namun aku tetap salut dengan kekonsistensian mak juih dalam cara menggelar barang dagangannya. Lihatlah tumpukan baju sekolah SD yang digelar di atas meja persegi panjang dan sebagian sampel model-model baju dan handuk yang digantung tinggi di langit-langit toko. Semua contoh pakaian yang digantung di langit-langit toko itu sudah kusam, berbintik-bintik dan berdebu. Kurasa siapapun yang melihatnya akan enggan untuk membeli kecuali mak juih menjualnya dengan harga yang sangat murah meriah. Namun dari setiap kunjunganku beberapa kali ke daerah ini, contoh model baju yang sama masih terpajang manis di langit-langit toko. Bukankah itu so sweet sekali? Mak juih dengan setumpuk kenangan yang kokoh disimpannya 🙂

16/12/2012

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cahaya Legend, CERPEN^^. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s