Zuma Deluxe Ama

As you know (pede bener ngira semua reader tau :D) saat ini adalah saat penantian yang mudah-mudah berujung manis dimana sudah hampir sebulan ini aku menghabiskan waktu bersama keluarga. Mulai dari rumah di Tanjuang Jati tertjientah sampai nun jauh di Pulau Punjung sana.

Mengamati bagaimana orang tuaku beraktivitas merupakan semacam hobby baru saat ini. Aktivitas orang tua yang menurutku sedikit mengalami perubahan (atau aku saja yang kurang perhatian selama ini? #pertanyaanpenting).

Setiap harinya, Ama (ibu-read) pagi-pagi bangun mengurusi dua bocah adikku, untuk segera berangkat ke sekolah. Mulai dari membangunkan mereka yang kalau tidak pakai ritual “diteriaki” tidak akan bangun sendiri, menyiapkan air hangat-hangat kuku (#okefine *untuk ini aku cukup iri kepada si bungsu, dulu jejaman aku SD perasaan gak perlu mandi pakai air hangat deh, kalau minta air hangat malah diejek seperti orang tua), menghalangi kami-kami (bocah besar yang lagi liburan) agar tidak menggunakan kamar mandi sampai adik-adik selesai mandi semua, kemudian menggiring mereka (yang kalau tidak dihalau segera bakalan terpaku di depan TV sambil menonton Spongebob Squarpants) untuk bersiap-siap dengan seragam mereka, mengecek PR, salinan buku sudah sesuai dengan mata pelajaran hari ini atau tidak, pontang panting nyariin kaus kaki, dasi, topi, baju olahraga, ngikat rambut si bungsu, nyariin jilbab, masukin air minum ke botolnya untuk kemudian ditaroh di sisi pinggir tas, kemudian membereskan meja makan, menyiapkan makan pagi sembari ngomel tentang rendahnya nafsu makan anak-anak di pagi hari atau tentang anak-anak yang tidak mau makan pagi kalau tidak disuapi Ama. Lanjut adegan menyelipkan seribu dua ribu rupiah di buku tabungan dan pembagian uang jajan. Kemudian melepas mereka menuju sekolah dengan sepatah dua patah petuah.

See?? Rangkaian paragraf di atas baru untuk mengurusi dua orang anak sekolah dalam waktu 1 jam di pagi hari. Belum lagi jam-jam berikutnya, tchk!! Sampai kisah adik yang kehilangan satu pensil warnanya juga bakal dibela-belain untuk dicari Ama sampai ada. Hmmm… Jika aku kisahkah per detail disini, mungkin mungkin mungkin hiks,… catatan ini tidak akan selesai-selesai karena tanganku sudah pegal duluan mengetik.

Hari ini, diantara setumpuk aktivitas harian Ama, disela-sela kesibukkan nya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baru kusadari ternyata itu adalah sebuah profesi harian tanpa jeda (24 jam sehari  berfungsi!!) kami sedikit membahas tentang betapa banyaknya uang kuliah adikku yang kuliah di Unand, tentang persiapan wisudaku yang sedari awal sudah kuwanti-wanti bakal menyedot banyak dana.

Disela-sela permainan Zuma Deluxenya di malam hari, tiba-tiba Ama bertanya kepadaku : “Ni, apakah semua anak berpikir bahwa memenuhi kebutuhan mereka para anak merupakan kewajiban orang tua yang memang sudah seharusnya dipenuhi oleh orang tua??”

Aku terdiam… Speechless…

Tentu aku tidak tega mengatakan “Iya” bahwa memang sebagian besar anak akan berpikir seperti itu. Namun aku sendiri berpikir bukan hanya seperti itu saja peran dan fungsi orang tua bagi seorang anak. Orang tua adalah pelita, pelindung, tempat dilabuhkannya kasih sayang dari anak, motivasi, sesosok yang harus dibanggakan, didoakan dan harus dibuat bahagia selama kehidupannya. BUKAN hanya sebagai pelengkap kebutuhan finansial dan fisik belaka.

Ah, tapi itu hanya berputar-putar di dalam otakku saja. Karena aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya secara nyata. Ya ya ya… memang aku bukan seorang anak yang romantis kepad orang tua -__-“

Sambil merangkul pundak Ama dari belakang aku berujar ,”Ah pertanyaan apa itu Ma… Mungkin iya, mungkin juga tidak…. Itu ada bolah merah doble di atas ma… tembakkkk”, aku berusaha mengalihkan perhatian Ama kepada gamesnya kembali.

Bahkan sambil memainkan Zuma Deluxe Ama masih memikirkan kami, anak-anaknya…

10/1/2013

NB: ssstttt…. Hari ini Ama memasak dua macam lauk, alasannya karena anaknya punya selera yang berbeda… ckckckck *lenggeleng*

Kado Buat Ayah Bunda (2006)

by Abdurahman Faiz

Bunda adalah yang terhebat di dunia
sebab ia melahirkan kehidupan
dan memberi nyawa
pada kata cinta

Ayah adalah yang teristimewa di dunia
sebab dari keringatnya
ia memberi tapak
untuk melangkah

Anak adalah kita
mungkin bisa jadi yang terindah
saat mencitakan suka,
lalu setia berjuang
dan memahatnya abadi
di hati mereka

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s