Life Journal #Hibernate (Part 3 of 3) not the end actually

Hibernate IV

Pasca UN, memasuki masa hibernate IV, masa tergalau yang pernah kurasakan seumur hidupku. Masa yang kulalui dengan debaran dan ketakutan di tiap detiknya. Masa yang merupakan “kunci” akan menjadi apa aku di masa depan. Penuh kekecewaan, konflik bathin, air mata, kebahagiaan, kecemburuan, kedengkian, kemarahan, semuanya campur aduk sampai akhirnya aku terdampar di Universitas yang sesungguhnya aku inginkan namun di jurusan yang sesungguhnya tak pernah aku harapkan.

Perlahan masa itu terlewati, masa hibernate ketiga yang penuh perjuangan. Diisi dengan belajar – berdo’a – belajar – menangis kecewa – belajar – menangis galau – belajar lagi – berdo’a – berteriak kecewa dengan diri sendiri – kemudian menyesali diri sendiri – belajar lagi – bersemangat – ketakutan – kebahagiaan – kekecewaan lagi – menyesal lagi – kemudian iri – kemudian masih belum bisa menerima – kemudian tersadar – kemudian memutuskan untuk menerima, berusaha, memulainya semua dari awal, mengumpulkan semangat untuk menjalani semua keputusan yang diberikan oleh Allah SWT.

Selain masa kecil yang memang wajar jika cengeng, di dalam kehidupanku, masa hibernate keempat ini adalah masa dimana aku paling sering menangis.

Rasanya tidak percaya bisa melewati semua fase itu. Serasa dulu tidak mungkin bisa mendapatkan pencapaian seperti sekarang.

Akhirnya Manusia boleh berencana sesuka hatinya, namun Allah adalah pemegang keputusan tertinggi.

And finally, masa hibernate V!!!

Pasca kuliah. Dengan “free time” yang lebih lama dari sebelum-sebelumnya. Dan masih bingung harus kuiisi dengan kegiatan apalagi. Ditambah kegalauan dari teman-teman yang belum mendapatkan pekerjaan. Ya, tidak naïf juga jika aku mengakui ini merupakan masa tergalau kedua setelah hibernate IV.

Tapi belajar dari pengalaman sebelumnya, aku lebih kalem dan tenang. Tidak lagi terlalu terobsesi dan egois dengan keinginan diri. Dulu masa-masa memilih jurusan, aku tidak mampu berkompromi dengan planning B, C, atau D. Musti sukses dengan planning A. Tapi saat ini, aku berusaha berdamai dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi tentang keputusan nasib di masa depan. Apapun bisa terjadi, dan aku harus bersiap-siap untuk segala kemungkinan itu. Tidak meminta dengan memaksa kepada Allah, harus  ikhlas dan tenang serta senantiasa berusaha. That’s the Key !!!

Okeh, segini dulu cerita yang amat sangat panjang dan melebar kemana-mana ini. Semoga bermanfaat untuk yang membaca, yahhh setidaknya bermanfaat buat anak cucuku kelak,” pernah lohhh ibu, nenek, moyang kalian dulu di zaman muda dan lagi alay-alaynya menulis seperti ini😀 “ #sedaaapppp

Last but not the least, sampai ketemu dengan cerita tentang “masa depan” yang entah seperti apa itu😀

9 Januari at 01.10 am

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s