Catch the chance

Hari ini aku kembali berkesempatan untuk mengunjungi kampus dengan alasan yang tidak terlalu spesifik, lebih tepatnya mencari-cari alasan agar bisa tetap ke kampus (*pengangguran mode “on”) bersama teman yang kamu tahu siapa.

Kegiatan kami di kampus bukanlah kegiatan yang amat sangat penting, hanya rangkaian senyam senyum kiri kanan menjawab salam sapa dari adik-adik kelas yang kebetulan mengenal kami atau mungkin karena wajah kami yang sedikit anti-mainstream untuk dikatakan sebagai angkatan muda lagi *uhuk, sehingga semacam wajib untuk disapa. Ngobrol sana-sini dengan beberapa orang teman yang kebetulan memiliki urusan yang sama sambil membicarakan hal penting dan tidak penting, singgah sana sini karena dihampiri adik adik kelas yang lagi hobby curhat tentang skripsi, kemudian menanyakan beberapa hal terkait judicium, mengklarifikasi lagi apakah benar judicium kali ini wajib memakai kebaya dan jas bagi yang lelakinya, dan sedikit “kepo” perihal nilai profesi yang ternyata masih banyak yang belum masuk walaupun judicium sudah dinyatakan tinggal 4 hari lagi. What a life….

Sampai akhirnya kami terduduk letih di bangku yang entah sejak dari jam berapa kami jadikan posko untuk meletakan tas, laptop, and stuff like that sambil memindahkan berupa-rupa data, file ber GB-GB banyaknya dari laptop si teman ke dalam HD “fresh from oven” yang katanya 500 GB tapi ternyata hanya berkapasitas 465 #pfftttt sambil sesekali mengupdate socialmed melalui akun si teman tentunya.

Singkat cerita, aku dan si teman dan salah seorang junior yang merengek-rengek agar kami berhenti membahas tentang ‘Arashi’ dan hal-hal berbau perfilman Jepang lainnya dan meminta kami untuk berkisah tentang Masa-masa skripsi, Profesi, dan hal-hal terkait. Walaupun dengan tegas si teman menolak dan mengaku sedikit frustasi jika harus mengingat lagi masa-masa kelam dunia perskripsiannya yang harus beberapa kali ganti judul dan pembimbing.

Walaupun sudah jelas-jelas menolak, si junior masih bersikukuh untuk kepo dan bertanya. Akhirnya sampailah pembahasan kami mengenai betapa masa-masa skripsi yang panjang dan melelahkan itu cukup patut untuk kami syukuri karena bisa melakukan beberapa hal yang kami sukai dan cintai dengan beberapa kesempatan yang mungkin tidak pernah kami dapatkan ketika melewati masa sebagai seorang mahasiswa yang menghabiskan hari-harinya untuk menuntaskan berpuluh-puluh SKS mata kuliah.

Si teman mulai sedikit bersedih, tentang ia yang merasa sayang karena harus melewatkan beberapa kesempatan dan tawaran untuk menjadi sesuatu yang berbeda karena mengingat ikatan akademik yang masih belum tuntas ketika itu.

Menjadi sesuatu yang sesuai dengan minat dan passion kita mungkin adalah sesuatu yang menyenangkan, mendapatkan pekerjaan yang rasanya tidak seperti bekerja, namun seperti menggeluti hobby adalah impian banyak orang, ada banyak kesempatan dan peluang yang menggiurkan untuk menjadi sesuatu yang datang di tengah jalan, ketika kita tengah menempuh suatu perjalanan menuju cita-cita yang sudah kita lalui bertahun-tahun lamanya.

Sedikit mencontohkan, betapa banyaknya teman-teman yang akhirnya berguguran di tengah jalan ketika menyelesaikan Tugas Akhir mereka karena sudah merasa “nyaman” dengan pekerjaan yang ia terima, betapa banyaknya teman-teman yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan profesi pasca mereka sarjana karena merasa tidak sanggup, atau karena sudah merasa cukup dengan kemudian menikah dan mendapatkan nafkah dari suami, atau menerima pekerjaan yang menuntutnya untuk terlepas dari ikatan akademik yang sedang ditempuhnya.

Dan pada akhirnya, untuk setiap kesempatan yang datang dan singgah, tidak semuanya yang harus kita raih dan terima. Karena ada jalan utama yang harus kita tuntaskan. Karena ada jalan utama yang sudah bertahun-tahun lamanya kita lalui untuk bisa sampai ke ujung jalan tersebut. Sangat disayangkan jika ilmu yang sudah kita raih bertahun-tahun lamanya pada akhirnya tidak termanfaatkan sama sekali karena kekurangbijakan dalam memutuskan pilihan hidup.

Dan akhirnya sampailah kami pada kesimpulan : perlunya menjaga keistiqomahan dalam bercita-cita. Karena akan banyak rintangan baik yang “menyusahkan” maupun yang “menyenangkan” menghampiri. Hanya orang-orang dengan kegigihan tinggi dan kedisiplinan kuat yang akan mampu bertahan pada jalan utama yang sedang ditempuhnya.

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s