Balada Pengangguran

Balada Pengangguran

Ah… sebenarnya saya pribadi tidak setuju dengan judul yang saya tetapkan untuk tulisan kali ini (*heh…maksut lo, kan kamu sendiri yang buat!!!!) Tapi demi rating, dan agar pembaca tertarik dan berminat untuk singgah, tak apalah sekali-sekali mengkhianati diri sendiri #carimuka #selftoyor #plak!

Jadi begini, ketika seseorang sudah mulai disibukkan dengan perkara wisuda, mengambil ijazah, melegalisir ijazah, mengurus ini itu, pada akhirnya akan sampai suatu masa dimana seseorang harus segera menentukan pilihan, tindakan apa yang akan segera ia lakukan. Ada beberapa option yang bisa mereka (mantan wisudawan/wati) ambil, diantaranya : Mencari pekerjaan, Menciptakan pekerjaan sendiri (wirausaha), atau melanjutkan kembali pendidikan. Jarang juga sih yang memilih beristirahat dengan tenang di rumah sambil ongkang2 kaki, walaupun itu pernah juga terjadi namun pada akhirnya setiap manusia harus segera menentukan sikap untuk kelanjutan hidup mereka.

Pertama, karena saya adalah seorang sarjana lulusan jurusan kesehatan, maka mencari pekerjaan adalah option yang saya pilih. Gampang saja… karena dengan ilmu yang baru saya miliki saat ini, rasanya belum kompeten untuk berwirausaha membangun klinik sendiri, pun saya juga tidak begitu tertarik membuka usaha diluar keilmuan yang saya miliki, I mean 5 tahun melanglang buana di kampus dan klinik, setidaknya ilmu yang saya dapatkan harus teraplikasi secara langsung.

Kedua, saya memang amat sangat ingin melanjutkan ke strata pendidikan berikutnya, menjadi spesialis keperawatan adalah target saya berikutnya. Dan ajaibnya di jurusan yang saya ambil, untuk melanjutkan ke jenjang spesialis, kita harus punya pengalaman kerja/klinik setidaknya 2 tahun. Plus pikir punya pikir masalah dana nya Pals! Gak nanggung-nanggung… Jadilah option mencari pekerjaan as soon as possible adalah hal yang harus dituntaskan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Maka mulailah kami (saya dan teman-teman) disibukkan dengan melengkapi perbahanan untuk melamar pekerjaan. Asik! Saya sudah kepo duluan beberapa CV punya senior dan teman. Beragam bentuk dan rupanya. Jujur saya tidak punya pengalaman untuk masalah per-CV-an ini, seingat saya CV yang pernah saya buat itu untuk lomba Blog Unand dan ketika menjadi pemateri di kampus. Itupun saya buat dengan penuh kerendahdirian. Hanya setengah halaman tidak lebih!

Dan ketika membaca contoh CV yang sudah ada, ternyata benar-benar kita harus mengeksplor diri ya? Mengungkapkan semua kemampuan yang dipunya. Haha, saya sungguh bahagia jika format CV mengandung unsur seperti itu, terutama di bagian pengalaman seminar, kepanitiaan, volunteer, hehehe, semuanya sudah saya tulis rapi selama bertahun-tahun di jurnal pribadi plus tanggal, tempat, instansi yang mengadakan, dan beberapa arsip kwitansi pembayaran dan sertifikat pastinya. Jadi ini semacam copy paste saja.

Dan saya sungguh-sungguh berterimakasih kepada almamater tercinta : UNIVERSITAS ANDALAS sang kampus bermartabat, karena telah menerapkan sistem SAPS pertama di angkatan kami walau dengan penuh ancaman sampai tahap : Tidak bisa wisuda jika point SAPS tidak mencukupi, karena justru dengan begitu saya jadi bersemangat dalam usaha memburu sertifikat. Ini sungguh sangat membantu bung! Pesan untuk adik-adik angkatan, perbanyaklah mengikuti kegiatan bermanfaat terutama yang terkait jurusan kita. *ting!

Namun saya cukup gregetan dengan format CV yang sepertinya monoton. Hm… Bagaimana jika CV itu sedikit dimodifikasi semisal dibuat beberapa kotak/ kolom berbingkai dengan tambahan sedikit design, font yang beragam, trus kata-katanya semiformal yahh… mungkin semacam CV yang saya bikin di SINI. Hah!! Saya tidak berani berkhayal terlalu tinggi. Jadi di CV sedikit saya tambahkan dengan kenarsisan dalam per-blog-an plus kata-kata mutiara. #hadeh!😀

Saya tidak yakin ini akan berhasil. Namun sedikit memodifikasi dan keluar dari kata-kata “normal” yang membosankan merupakan inovasi yang seharusnya diapresiasi #menurut saya. Kelak jika saya sudah punya klinik, RS, Kampus, kantor atau apapun yang membutuhkan tenaga karyawan, saya akan membebaskan mereka untuk membuat CV sekreatif mungkin. Simple namun berkesan. Tidak perlu berpanjang-panjang kata, namun tepat pada sasaran.

Walhasil, berkas lamaran pekerjaan kami (saye plus temen-temen) semakin tebal gegara lampiran fotocopy sertifikat entah apa saja yang dengan kalapnya kami masukan. Tidak,,, saya tidak melampirkan sertifikat juara nasyid atau juara lomba debad bahasa Minang, tapi sertifikat juara blog tetap saya masukan entah demi apa namun saya yakin ini bakal dilirik orang. Aaahahaha….

Demikianlah… dan lagi-lagi saya bersyukur, mencari pekerjaan di bidang kesehatan tidaklah semenyeramkan seperti para pencari kerja di sinetron-sinetron yang mana pemeran utama dengan pakaian semiformal berkemeja, celana dasar/rok menenteng map sambil sesekali menyeka peluh, namun antiklimaks ketika berpapasan dengan pintu dengan label : “Tidak menerima Karyawan baru”. Atau ada yang berhasil masuk kemudian diterima bagian HRD namun sialnya mendapat balasan “Maaf, kami tidak bisa menerima Anda bekerja di sini”. Kemudian si pelamar diusir, dibentak-bentak, berkas lamarannya dilempar ke muka si pemeran utama dan kemudian dia berjalan gontai keluar dengan kemeja yang mulai kusut. #oke ini cukup mendramatisir.

Hah, saya tidak mau menulis lebih lanjut lagi. Saat ini saya sedang menunggu sebuah pengumuman dengan harap harap cemas. Dan semoga hasilnya sesuai dengan harapan. Doain yee readers!!😀

JANGAN TANYAKAN Apakah saya berniat untuk menjadi PNS atau tidak! Yang jelas saya memohon kepada Allah agar mengamanahi saya pekerjaan yang akan semakin mendekatkan saya kepada keilmuan yang lebih mendalam di bidang yang saya geluti serta berkesempatan membagi ilmu lebih banyak dengan yang lainnya.

********

P.S : Suatu saat ketika sedang dinas di siklus komunitas, saya iseng mengukir dengan menggunakan ujung kunci motor tulisan ini di dashboard (*entah apa namanya) di setengah lingkaran kilometer di motor saya :Prof. Hj. Nur’aini, S. Kep, Ns., MN, Sp.KMB, DNSc. #plak! Sampai detik ini tulisan itu masih ada. Hehehe, jika sedang tidak kerjaan ketika membawa motor (maksut lo), saya selalu melirik tulisan ini untuk kemudian menghayalkan langkah-langkah berikutnya yang harus saya capai😀 Sungguh sangat menambah semangat. Setidaknya tulisan itu terletak tidak kurang dari 1 m di depan mata saya ketika saya sedang mengendarai motor. Dan saat ini mata saya lebih fokus pada tulisan “MN” disana (aahhh mata gelaran). Aahahahaha…

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Balada Pengangguran

  1. izzul047 says:

    smg menemukan perkerjaan yg memenuhi impiannya dan passionnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s